
Tulisan ini, bukan tentang bioskop Indonesia, bukan tentang pelajaran angka romawi.
Tulisan ini tentang angka yang sekarang ku sandang sebagai umur.
Cikiciww. *merusak suasana serius*
21 tahun yang lalu, di suatu kota kecil yang pada tahun 2001 sempat menjadi pemberitaan besar nasional akibat adanya konflik antaretnis: Sampit, Kalimantan Tengah. Di tengah keluarga sederhana yang terdiri dari ibu yang super tangguh dan lembut, ayah yang penuh perjuangan selalu memberikan yang terbaik untuk keluarganya, dan 2 orang anak perempuan mereka; lahir seorang anak perempuan (lagi) di pagi hari, sekitar pukul 09.00 WIT. Anak ketiga ini diberikan nama Niken Puspitaningrum. Semua nama anaknya memang berawalan "Ni-" dan pada nama belakang diberikan "-ningrum".
Ya, itulah nama saya, itulah saya.
Pada saat saya sekolah, lewat nama itu, banyak yang langsung bertanya : "orang Jawa ya?". Iya, nama itu memang 'Jawa banget'. Eh, banget ngga sih? Biasa aja ya? :p
Saya biasa jawab: "iya ayah Jawa...tapi aku lahir di Sampit, mamaku orang Kalimantan (Banjar), trus emang lama di Jawa sih, tapi pindah-pindah". Haha, panjang bet jawaban untuk pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab dengan satu kata itu: ya/tidak. Ada juga sih yang komentar nama Jawa banget tapi tampang nggak terlalu Jawa, hahaaa. Inilah nasib percampuran dua etnis.
Kabarnya, saya tidak lahir di Rumah Sakit, tapi di rumah, memanggil bidan. Ya, sekali lagi, keluarga saya di awal pembentukannya (awal perkawinan orang tua saya) sangat sederhana. Ayah saya PNS baru yang gajinya tidak seberapa, namun beliau berusaha mencari tambahan dengan mengajar. Kalau tidak salah, menurut penuturan ayah saya, gaji PNS baru saat itu sekitar 30ribu per bulan, sedangkan pemasukan dari mengajar bisa mencapai 75ribu, dan ayah saya mengajar di dua tempat. Sejujurnya, saya sama sekali tidak ingat bagaimana keadaan rumah (kontrakan) dan kondisi hidup keluarga saya ketika tinggal di Kalimantan. Tapi mendengar cerita dari ibu saya, kehidupan kami saat itu sangat sederhana, gaji kecil, tapi...alhamdulillah, Allah selalu memberi kecukupan bagi hidup keluarga kami di tengah kesulitan ekonomi tersebut. :)
Waktu terus berlalu, saya semakin mengenal orang tua saya sebagai sosok yang luar biasa. Ayah saya, adalah PNS pada suatu instansi pemerintah yang cukup rentan dengan masalah, tuduhan ketidakadilan, kecaman, dan ancaman dari berbagai pihak. Tapi saya mengenalnya sebagai orang yang jujur, pantang menyerah, terbuka dengan keluarga, peduli dengan keluarga (baik keluarga inti dan luas), dan bijak dengan caranya sendiri. Bijak dengan caranya sendiri? Ya, mungkin ayah saya bukan tipe orang yang senang mengumbar kata-kata manis, tapi dengan perilaku dan kata-kata "polos"nya, sering melegakan dan membahagiakan keluarganya. Ayah saya sering berbagi cerita kantor dan pekerjaannya kepada keluarga, terutama ibu saya. Terkadang kami sebagai keluarganya mengkhawatirkan pekerjaan ayah saya ini yang memiliki resiko tersendiri.
Tapi lepas dari segala ketakutan tersebut, di mata saya, ayah saya sangat rajin membaca dan belajar, terutama mengenai pekerjaannya. Saya heran kenapa saya tidak begitu. *gubrak* Intinya, di mata saya, ayah saya adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam setiap pekerjaannya :)
Sebagai ayah, ia selalu menyetujui dan mendukung kegiatan yang menunjang pendidikan jika anaknya meminta. Baik untuk pendidikan formal (bimbel) maupun pendidikan informal (kursus macam-macam), selalu didukung ayah saya secara moril dan terutama materil, hehe. Ayah saya, yang kami panggil "Bapak" atau "Pah", juga senang mengajak jalan-jalan, terutama ketika anak-anaknya masih kecil. Sekarang pun, beliau masih senang mengajak ibu saya atau anak-anaknya untuk berpergian, apalagi intensitas bertemu semakin jarang ketika ayah saya bertugas di luar Jawa. Ayahku, ayah yang lembut dalam setiap ketangguhannya :)
Ibu saya adalah sosok yang mandiri dan rajin. Setamat SMEA, dalam usia belasan tahun, ibu saya sudah merantau sendiri dari Banjarmasin ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Bertemu ayah saya yang juga sedang mencari pekerjaan di Jakarta, kenal dekat, kemudian melanjutkan hubungan ke perkawinan. Sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana, ibu saya pun mampu menjalani awal perkawinannya dengan sabar dan bahagia, apalagi satu per satu anak-anak perempuan lucu imut menggemaskan itu lahir. *grompyang*
Ibu saya, yang biasa kami panggil "Mama" atau "Mah", selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya sebelum beristirahat. Dengan kata lain, meskipun sudah tengah malam, atau dini hari, atau bisa-bisa tidak tidur dengan cukup...yang penting pekerjaannya sudah selesai. Luar biasa. Melalui pengamatan terhadap ibu saya, saya semakin mengerti tentang pemikiran yang tidak setuju jika "ibu rumah tangga" disebut "pengangguran". Nyatanya, ibu rumah tangga justru lebih banyak dan lama beban kerjanya. Selain itu, di mata saya, ibu saya yang sekitar 8 tahun belakangan dapat mengendarai mobil sendiri, merupakan perempuan pengemudi yang sangat tangguh. Kalau melihat mobil yang disetir ibu saya, bisa jadi Anda mengira pengemudinya adalah laki-laki. Ya, kalau masalah ngepot-mengepot, dan kalau mau cepat sampai, ibu saya yang paling handal di keluarga saya. Hal itu bertolak belakang dengan ayah saya yang justru sangat hati-hati dan memikirkan presisi dalam menyetir (dan sepertinya saya terkena doktrin itu, haha). Ibu saya, selalu tanggap dan berusaha untuk mengantarkan anak-anaknya berpergian kemanapun dengan mobil, karena kekhawatirannya tentang kendaraan umum. Bahkan pernah ibu saya menyetir dari Jakarta-Depok tengah malam sendirian selepas kegiatan ibu-ibu, dan pernah juga beberapa kali menyetir dari Jakarta-Depok tengah malam setelah menemani saya menonton pertunjukan teater di TIM. Ibuku, ibu yang tangguh dalam setiap kelembutannya :)
Yak, bingung yah, katanya mau ngomongin umur saya yang 21 tahun ini, kok jadi nyeritain orang tua?
Iya, karena mereka, orang tua saya, adalah yang paliiiiing paliiiing paliiiinggg berarti dalam 21 tahun kehidupan saya ini. Lembaga pendidikan pertama bagi saya, dan tentu seumur hidup. Motivasi terbesar dalam hidup saya. Penyemangat paling tulus dalam hidup. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa :')
Di usia 21 tahun saya ini, resolusi saya pun termotivasi dari keinginan memberi persembahan kebanggaan dan kebahagiaan kepada kedua orang tua saya. Pada usia 21 tahun ini, semoga....
- penulisan-turlap-bimbingan-sidang skripsi saya lancar, dapat nilai yang terbaik, meraih gelar S1 dengan IPK cumlaude;
- merintis kesuksesan bisnis saya bersama rekan seperjuangan;
- bisa langsung kuliah S2 setelah lulus S1, di tempat (PT, fakultas, jurusan) yang terbaik utk saya.
Itu target-target terbesar saya dalam usia 21 tahun. Target lainnya masih dirahasiakan, apalagi target untuk usia-usia selanjutnya. *sok penting, haha*
Mohon doanya, teman-teman yang baik hati :)
Btw, selingan, ini hadiah dari keluarga saya, hehe :
"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." (Q.S. 19: 33).
[Selengkapnya...]
Kamis, 29 Desember 2011
XXI ! :)
Langganan:
Entri (Atom)