
Tanggal 13-16 Oktober 2011 lalu menjadi pengalaman baru bagi keluarga kami (minus kakak kedua saya). 13 Oktober, saya bersama ayah, ibu, dan kakak pertama saya terbang menuju Jayapura, Papua. Perjalanan yang cukup lama di pesawat, sekitar 7 jam. Berangkat dari Bandara Soetta pukul 05.00 WIB dan tiba di Bandara Sentani sekitar pukul 14.00 WIT (yap, dengan perhitungan WIT 2 jam lebih cepat dari WIB, moso' gitu aja masih dijelasin sih. *loh kok ngeselin*).
Oleh karena judulnya saja "Mampir Jayapura", jadi mohon jangan ada yang menyimpan harapan besar bahwa saya akan menceritakan bagaimana Raja Ampat, bagaimana Wamena, bagaimana Lembah Baliem, bagaimana Suku Dani, bagaimana Suku Asmat, atau bagaimana Freeport. Perjalanan kami ke sana memang tidak lama dan tidak sempat mengeksplor berbagai tempat karena bukan itu pula tujuan utama kami.
Sudahlah nak, baca saja, lumayan kan dapet cerita (baca: curcol) saya di sana...
Alhamdulillah perjalanan keberangkatan ini sangat menyenangkan dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia (ini bukan posting berbayar, sungguh). Kenapa saya sebut menyenangkan? Pertama, banyak dapet makanan. Kedua, dapet banyak makanan. Ketiga, dapet banyak makanan. Huahahaha. Dapet makanan banyak itu bagi saya memang indah sekali. Jadi ketika kami baru beberapa menit naik pesawat, seperti biasa dalam penerbangan Garuda lainnya, kami diberi makan berat berupa nasi goreng (pilihan lainnya omelet) plus potongan buah. Pesawat itu transit di Makassar sekitar 25 menit, lumayan lah sempet beli minyak tawon di Bandara Sultan Hasanuddin, hehe.
Setelah masuk pesawat lagi, beberapa menit kemudian kami diberi makan berat (lagi) berupa spaghetti (pilihan lainnya lontong ayam) dan...satu cup es krim walls! Wew. Gak tau nih kok saya norak, seneng banget dapet es krim. Beberapa menit sebelum mendarat di Bandara Sentani Jayapura, kami dapet bolu. Aduh, surga. Mungkin karena ini adalah perjalanan terlama saya dalam pesawat Garuda (bahkan perjalanannya lebih lama daripada ke Taiwan loh cyiin -_-), jadi agak takjub dikasih makan sebanyak itu. Di dalam pesawat itu juga terdapat layar di depan masing-masing kursi, dan saya memilih nonton film Jepang berjudul "We Can't Change The World, But...", keren abis tuh, tentang mahasiswa kedokteran di Jepang yang ingin membangun sekolah di Kamboja. Lucu dan mengharukan, saya sampe kerepotan menyembunyikan airmata saya T_T
Baiklah, agaknya perjalanan di dalam pesawat saja sudah cukup panjang. Jadi gimanaaah Jayapuranyaaaah?
Sabar.
Di dalam pesawat (masih cerita di dalam pesawat ajee??) ketika sudah di atas Pulau Papua, sudah tampak keindahan pulau tersebut dengan beberapa pulau-pulau kecil yang terbentuk apik dalam hamparan laut biru. Uuuh! Kayaknya yang kami lihat itu Raja Ampat deh. Tapi sotoy sih. Gapapa kan. Iya gapapa.
Aaaaa pengen turun di situuuu. *yakali lompat dari pesawat*
Berikut foto yang berhasil didapatkan dari balik jendela pesawat:
Indah yaaahhh? :D
Sampai di Bandara Sentani yang imut-imut (masih imutan saya) tapi cukup padat manusia, kami, eh, ayah saya sudah disambut oleh beberapa rekan kerjanya di Jayapura. Yap! Mulai terbuka tabir rahasia mengapa kami sekeluarga ke Jayapura? Belum ya? Kasih taau gak yaa? *ditimpuk sepatu*
Nah, ayah saya mendapat tugas dinas di Jayapura pada tahun ini, entah sampai kapan, tapi kami semua berharap tidak terlalu lama di sana, bukan apa-apa, masalahnya jauh banget cyiin, tiket pesawat mahal banget pula :'(
Kami sekeluarga berniat menghadiri pelantikan ayah saya, plus penasaran liat Jayapura juga sih, plus bantu beres-beres rumah dinas yang akan ditinggali oleh ayah saya selama di sana, plus sukur-sukur bisa rekreasi, mumpung saya gak ada kuliah dan kakak saya bisa ambil cuti.
Sore hari tanggal 13 Oktober kami diantar ke Hotel Aston untuk menginap semalam di sana sebelum menginap di rumah dinas. Sebelumnya kami diajak makan di salah satu restoran yang tidak terlalu jauh dari Bandara, ada di daerah Sentani dan nempel sama Danau Sentani, ini foto-fotonya:
"Danau Sentani yang berkilauan *_* (tapi kalo di foto gak keliatan kilaunya ya?)"
"Nyobain makanan khas, namanya Papeda (dari sagu, pengganti nasi) plus ikan kuah kuning. Papeda itu kagak bisa dikunyah, jadi langsung telen. Aduh, kebiasaan makan nasi, jadi ngerasa gak cocok sama makanan ini.."
Setelah itu kami ke hotel. Namanya hotel, alhamdulillah apa-apa cukup terjamin. Sedikit kontras dengan keadaan rumah dinas yang meski luas namun...ah nanti lah saya ceritakan.
Paginya kami sempat foto-foto juga di lobi hotel, kebetulan ada patung yang menarik (modelnya juga menarik, duh mau gimana lagi dong *digampar*)
"Sebenernya pengen ngasi foto yang lebih jelas patungnya, tapi...keberadaan saya sesungguhnya di foto tersebut adalah untuk menutupi sesuatu, haha, maybe you know what"
Jumat 14 Oktober adalah hari pelantikan ayah saya, dan pada hari itu kami langsung checkout dari hotel dan berpindah ke rumah dinas. Pelantikannya agak sepi, ibu-ibunya dikit, karena memang yang dinas di sana biasanya istrinya tidak ikut tinggal di sana. Di acara hiburannya, ada penyanyi asli Papua yang suaranya luaaarrrr biasaa merdu, penyanyi ibukota mah lewat daaahh... Ini acara pelantikan ayah saya, maaf ada yg saya samarkan, untuk mencegah riya (halah lebai, hehe, gak enak aja ngumbar gituan) :
"Pengambilan sumpah dan sepatah-dua patah kata dari KPT (singkatan apa itu? cari tau aja sendiri :p), di foto ini ayah saya yang lagi ngadep belakang, hehe."
"Foto bersama rekan"
"Perkenalan ayah saya, ditemani ibu saya :)"
"Penyanyi Papua bersuara emas :D"
"Ibu saya menyumbang satu lagu loh (jangan salah, ibu saya pernah dapet juara 1 lomba karaoke, jadi jangan ragukan kualitas suaranya, huehehe), ditemani ayah saya :D"
Terus...ini pemandangan di depan kantor ayah saya:
Setelah acara ini, bahkan belum selesai benar acaranya, saya merasa sedikit pusing dan sakit perut, kemudian minta pulang duluan ke rumah dinas ayah saya (kebetulan tepat di belakang kantor, jadi tinggal jalan kaki). Di rumah, saya menahan sakit sampe ketiduran. Bangun-bangun malah muntah :'(
Begh, lemes banget deh, kalo nggak salah dalam waktu kurang dari 6 jam saya sudah 4 kali muntah. Nggak tau kenapa, tapi keadaan saya bikin orang tua kuatir, dan malamnya saya dibawa ke dokter di RSAD Marten Indey. Dokternya masih muda masa', trus... *stop ken, bahaya*
Ya, lanjut lagi, saya dikasi (baca: dibeliin ayah saya berdasarkan resep dokter) obat-obatan yang entah apa itu, trus diagnosis dokter itu ada kemungkinan virus dari makanan atau bisa juga dipicu maag. Piye tho dok.
Setelah dari dokter, makan bersama dan minum obat, saya merasa cukup baikan, kemudian kami sekeluarga ngaji bareng, harapannya biar rumah itu terjaga selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiiin (soalnya banyak cerita kriminal di sekitar sana, aduh, mohon doanya ya semua agar tidak terjadi apa-apa selama ayah saya di sana). Rumah dinas itu, lumayan gede sih, tapi nggak berisi apa-apa, hehe yaiyalah kudu ngisi barang sendiri. Terus yang paling memprihatinkan adalah...air di sana biasanya cuma ngalir 3 hari sekali. Oh my. Pantes, bak kamar mandinya gedeeee banget, sekitar 3x lebih gede daripada bak kamar mandi biasa. Ternyata tujuannya buat nampung air kalo-kalo lagi nggak ngalir. Kami jadi ngerasain yang namanya gak make air ngalir buat ngapa-ngapain. Tapi beberapa hari setelah saya, ibu saya, dan kakak saya pulang ke Depok, ayah saya mengabarkan kalau airnya mulai ngalir lagi dan bak sudah terisi penuh. Selain masalah air, listrik juga sering mati. Hiks. Sekali lagi, mohon doanya untuk kemudahan hidup ayah saya (dan nantinya ibu saya yang akan menemani) di Jayapura sana :'(
Pagi hari 15 Oktober 2011...
Yap, saya merasa lebih segar, kemudian saya meyakinkan kepada semuanya bahwa saya tidak apa-apa dibawa jalan-jalan. Mau kemanakah kami? Sebenernya bingung, tapi tempat wisata terdekat adalah Polimak, yaitu puncak tertinggi di Jayapura (kalo nggak salah loh yah), jadi kalo naik ke situ kita bisa lihat seluruh kota Jayapura. Di sana ada plang "JAYAPURA CITY" yang kalo malem nyala-nyala dan keliatan dari jauh.
Berikut foto-fotonya:
"Salah satu sudut pemandangan dari Polimak"
"Sudut perkotaan dilihat dari Polimak"
"Pelabuhan yang kelihatan dari Polimak (keliatannya kecil ya, padahal...gatau juga sih,hehe)"
"Foto keluarga ^^"
"Nah kalo ini kalo kita liat Polimak dari bawah...foto-foto sebelumnya diambil dari Polimak-ny. (ehem, no sara ya, apapun yg Anda lihat di foto ini :) )"
Abis dari situ...kami belanja-belanji di swalayan grosir gitu. Eh eh eh. Saya kambuh lagi sakitnya, jadi abis dari situ langsung pulang ke rumah dinas, hikss :'(
Karena besok pagi-pagi kami (saya, ibu saya, dan kakak saya) pulang ke depok, maka tak ada waktu lain untuk mencari oleh-oleh selain malam itu. Maka pergilah kami ke suatu tempat pusat oleh-oleh kerajinan dari Papua. Awalnya kami ke toko Aneka Batik yang menyediakan kain dan pakaian batik Papua. Kemudian ke suatu tempat yang saya lupa namanya, untuk membeli beberapa kerajinan tangan sebagai oleh-oleh. Banyak yang jualan koteka loh. Tapi ngapain juga sih saya beli koteka -_-
Saya beli gelang kayu warna-warni bertuliskan "Papua" dan gantungan kunci bentuk alat musik pukul (duh apaan ya namanya) bertuliskan "Papua" dan bergambar Cenderawasih. Sebenernya pengen beli gantungan kunci yang lebih menggambarkan Papua, tapi pilihan lain berbentuk ukiran muka serem (maaf saya nggak tau itu apa, menurut saya serem T_T) dan bentuk koteka. Karena gantungan kunci mau saya kasih ke teman-teman laki, jadi nggak enak aja kalo ngasihnya bentuk itu, nanti dikira melecehkan. *opo iki*
Ini sampel oleh-olehnyah, boleh tagih ke saya langsung kalo berani dan kalo masih sisa, hehe:
Terakhiiiir, ini sebagian jepretan di jalanan Jayapura :




16 Oktober kami pulang sekitar pukul 07.30 WIT dari Bandara Sentani dan sampai di Bandara Soetta sekitar pukul 13.00 WIB. Sampai Depok sore sekitar pukul 16.00 WIB. Alhamdulillah, meski perjalanan pulang ini sangat kurang menyenangkan bila dibandingkan dengan perjalanan keberangkatan. Kenapa? Yap, karena kami menggunakan maskapai penerbangan "Singa Udara", dan...yeah, kaga dikasi makan/minum barang sedikit-dikit acan. That's hurts, beb.
Nah, sebelum ditutup, biasanya kan saya ada klosing-stetmen getoh yah.
Secara keseluruhan...kesan saya di Jayapura:
1. Masyarakatnya raaamaaaaahhh banget (you have to believe it!);
2. Agak rawan untuk jalan-jalan sendirian, apalagi malem-malem. Ya nggak pernah sih, tapi ngebayanginnya aja serem. Ada beberapa orang mabuk di jalanan, mengganggu tapi kayak nggak bisa diapa-apain lagi T_T Ayah saya jg heran kenapa nggak ditertibkan oleh aparat, tapi ya gitu, udah dianggep biasa, nggak ada yg berani sama pemabok :( Sayang bgt, padahal orang sana kalo gak kena alkohol pada baik-baiiiik bgt loh...
3. Jalanan berbukit-bukit, rasanya nanjak-turunan muluuu. Pernah ngerasa jalanannya makin nanjak terus (nggak turun2), pas liat di samping, ehh udah keliatan jalanan yang di bawah gitu (kayak ngeliat jalanan dari atas flyover). Tinggi banget, subhanallah memang "flyover" buatan Allah itu..
4. Bukan tempat yang tepat untuk wisata kuliner, menurut saya loh yah, hehe.
5. Mata kita dimanjakan dengan pemandangan indah berupa hamparan laut yang dekat dengan jalanan kota, plus tampak "taburan" pulau-pulau kecil di laut tersebut :)
Yap, sebenernya masih banyak tapi sulit diungkapkan dengan kata-kata :p
Meski singkat, tapi saya merasa beruntung sudah sempat melihat salah satu kota di pulau bagian timur Indonesia itu.
Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan...
Karena kontur yang berbukit-bukit, ketika perjalanan di sana kami sering berada di atas dan dapat melihat jalanan/kota di bawahnya yang tampak keciiil sekali. Subhanallah. Entah bagaimana Kursi Allah, yang bahkan lebih luas dan besar dari pada langit dan bumi ini. Allah Mahabesar, Mahatinggi, Pencipta Segala Keindahan Alam yang dapat kita nikmati di sana :)
Kapan-kapan kita tafakur alam bareng dah ke Jayapura, hehehe :D
Jumat, 21 Oktober 2011
Mampir Jayapura
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
4 komentar:
ciee yang jalan2 mulu, hehe
bagus banget ya kyaknya disana, kapan keluargamu ke jayapura, ada tiket sisa mungkin? hahaha
smga ayahmu dijaga Allah slalu ya disana..
salam juga buat pak dokter di jayapura :P
kamu masuk ke dalem koper aja din, beratmu gak sampe 20kg kan? huahaha.
aamiiiin :)
haha kyknya mas (bukan 'pak' :p) dokternya orang jakarta, dan aku sih berharap gak ketemu dokter itu lagi, masa tiap ke sana sakit mulu -_-"
let's prepare for our next trip: BALI! BELITONG! :D
*kere mendadak
Alhamdulillah... Wah nice share, Ken...
tp mana poto rumah dinas nya -___-"
Semoga bapak di lancarkan semua2nya 'n cepet balik lagi ke depok... Amiiin ^__^
@mba nidya:
aamiiiiin.
maap mba, pas di sana ga ada pikiran mau poto rumah dinasnya, aku jg br sadar pas udah nyampe depok --"
*eh penontooon, mba nidya ini kakak kedua ane loh :D
Poskan Komentar