Jumat, 01 Juli 2011

My Super Trip : Taiwan


Udah, nggak usah sok kaget baca judulnya.
*baru mulai udah ngajak ribut, hehe, ampun*
Tanggal 9 sampai 13 Juni 2011 lalu, saya dan kedua orang tua saya tercinta bertandang ke negeri Taiwan. Ada yang nggak tau Taiwan? Nggak papa. Taiwan adalah negara di Asia Timur, berupa satu pulau imut. Nggak imut-imut banget sih, masih imutan aku. *minta dijitak* Taiwan juga dikenal sebagai Pulau Formosa (bukan Forum MPK/OSIS Smansa ya, plis). Ada yang tau F4? Jerry Yan, Vic Zhou, Ken Zhu, Vanessa Wu? (eyaampun masi apal ajah sayah). Yang Meteor Garden itu loh. Iya, mereka kan dari Taiwan. Tapi kata kakak saya mereka nggak begitu terkenal di sana. Kasian..
Eh, inih mulai nggak fokus inih.
Balik lagi. Jadi, kakak saya yang kedua menempuh studi di NCYU (National Chia Yi University) diwisuda tanggal 11 Juni. Dengan demikian, kedua orang tua saya ingin hadir dan berkunjung ke sana. Saya sebagai anak yang baik hati dan punya waktu lowong (eh, padahal ninggalin beberapa acara juga sih di depok, hehe, maap) tidak tega melihat kedua orang tua saya pergi berdua saja. Melalui pertimbangan panjang saya pun ikut (halah, padahal emang saya yang ngerengek ikut :p).
Nah, saya yakin 57% pembaca postingan ini penasaran dengan kisah kami di sana. Ikuti ceritanya...
(Tapi mohon tabah karena ini adalah postingan yang sangat panjang, hehe)

Saya cerita prosesnya dulu ya.
Yap, inilah perjalanan ke luar negeri pertama untuk saya. Walaupun punya paspor dari tahun 2009, tapi masih suci banget tuh paspor sampe akhirnya saya akan berangkat ke Taiwan tahun 2011 ini. Untuk masalah visa ke Taiwan, kita perlu mengurusnya di Gedung Artha Graha (AG) di Jakarta Selatan. Deket Komdak/Polda Metro Jaya. Alhamdulillah kami dipermudah, cepat prosesnya.
Awalnya kami sudah booking pesawat China Airlines, tapi di H-sekian hari, ternyata baru diketahui ada kesalahan nama booking dengan nama paspor ayah saya. Berhubung hal itu tidak dapat diperbaiki dan pesawat China Airlines saat itu full booking, maka kami disarankan abang-abang agen tiket untuk menggunakan Eva Airlines atau yang biasa disebut Eva Air. Baru denger sih, tapi katanya bagus juga.
Di H-1 keberangkatan, saya browsing tentang Eva Air, dan mencari tau tentang makanan pesawat. Oh maiii, saya mendadak panik kalo makanan pesawat nggak halal, berhubung negara yang dituju bukan negara Muslim. Dan dari berbagai sumber di dunia maya, seharusnya kita sudah pesan makanan halal (biasa disebut "Moeslem Meal" atau kode "MO") sejak awal booking. Aaaak. Ada yang bilang cari amannya pilih menu ikan karena ikan tidak dimasak dengan minyak babi. Yaudah.
Jadwal keberangkatan kami pukul 14.15 WIB. Ketika check-in di Bandara Soetta, kami menanyakan kepada mbak-mbak petugas check-in Eva Air, apakah kami masih bisa memesan Halal Food atawa MO. Ternyata eh ternyata, alhamdulillah makanan dari Indonesia semuanya halal, tapi kalau yang dari sana (Taiwan) memang ada kemungkinan tidak halal. Dan oleh mbak-mbak baik hati itu, kami didaftarkan secara online untuk memesan MO di pesawat pulang (Taiwan-Indonesia) nanti. Alhamdulillah, sudah terjamin :)

Wah, udah panjang ya jenk?
Okeh, lanjut. Perjalanan pesawat menghabiskan waktu sekitar 5 jam. Uh wow. Tapi nggak tau ya, kok saya nyaman-nyaman aja tuh, dan nggak ada rasa pengang di kuping (itu loh, rasa yg biasanya timbul di kuping saat naik pesawat/kelamaan di bus AC). Pramugari Eva Air ini orang Mandarin semua. *yaiyalah, masa orang Afrika* Mereka kalo jalan buru-buru banget, nggak tau ngapain. Trus kalo ngomong asal pake basa Mandarin aja, lah kita kaga ngatri. Pas nawarin makan misalnya, doi udah ngomong Mandarin panjaaaang, kita bilang, "sorry?" dan dia bilang "fish or chicken?". Dalem ati, "laaah tadi Mandarin-nya panjang deh, ternyata artinya sependek itu? Huehehe".
Ampun bray. Lanjut.
Sampe di Taoyuan Airport (bandara di sono), kami foto2. Haha. Boleh dilirik sebagian foto kami:

Di loket imigrasi, ternyata kami terlebih dahulu harus mengisi form imigrasi versi sana. English sih. Yakali Mandarin, buta huruf kami...
Selesai ngisi form, ehh ada rombongan TKI yang ngantri ke petugas imigrasi, padahal tadinya sepi. Orang tua saya yang merasa udah dari tadi di sono merasa tidak adil dan langsung buru-buru ke bagian depan loket. Petugas nyuruh kami ikut antrian, tapi ortu ogah. Saya juga disuruh ke antrian, saya sih mau nurut, tapi kata ortu dgn agak keras, "jgn mau ken, ayo sini". Laaahh bingung saya. Yauda saya lebih nurut ortu, jadi ke depan deh, dan petugas gak bisa ngapa-ngapain, saya dipersilakan ke salah satu loket yang sebenernya utk Citizen, bukan Foreign. Kebetulan loket itu sepi. Yap, keributan tadi diwarnai dengan interaksi petugas pake bahasa Mandarin dan kami pake bahasa Indonesia. Huahahaha, rame dah tuh airport gara-gara kami.
Setelah ketemu kakak saya dan ipar saya, kami meninggalkan Bandara menuju Tainan, tempat apartemen kakak dan ipar saya. Pertama-tama naik bus ini:

Uwah, oke tuh bus, bersih, nggak sumpek, nyaman. Rencananya kami mau naik HSR (High Speed Railways), tapi ternyata jam segitu (skitar jam 11an malem) udah abis tiketnya/nggak ada kereta lagi. Yauda, kita naik bus lagi, sebelumnya kami nunggu di sini:

Liat ibu-ibu yang potonya di sebelah kiri bawah? Itu petugas kebersihan, subhanalloh, udah skitar jam 12 malem padahal, masih aja nyapu, dan padahal nggak terlalu kotor tempatnya. Terus yang di sebelah kanan tengah itu, mesin penjual koran otomatis. Iseng aja saya poto, kalo di Indonesia saya baru liat Koran Jakarta yang ada mesin otomatisnya.
Bus kedua, saya lupa tempat tujuannya, busnya kyk gini (nggak ada tampak depan, ga sempet poto):

Bus itu ternyata tidak sebaik yang kami kira, kami diturunkan di pinggir jalan yang ga jelas itu dimana, katanya sih emang di situ harusnya kami turun dan nyambung bus lagi. Pas turun, langsung disambut taksi. Kakak saya ogah naik taksi, trus pas si abang taksi itu nanya-nanya, kakak saya bilang ke ortu "jangan dijawab". Nggak ngerti kenapa. Doi lagi panik juga kali yak. Trus kakak dan ipar nyari-nyari tau tentang dimana kami bisa dapetin bus sambungan, sementara kami nunggu di tempat itu. Saya deg-degan, udah cuma bertiga sama ortu, malem-malem, di negeri orang pula. Alhamdulillah kakak dan ipar nemuin semacem agen bus gitu, dan kami mulai menyusuri jalan raya ke tempat agen bus itu. Setelah menunggu beberapa menit, bus kami datang. Subhanalloh. Walhamdulillah. Ini bus nyaman bangeeeeet, kursinya 1-1, ada TV di depan kursi masing-masing, ada pemijat otomatis di kursinya, ada selimut, ada air mineral gelas, dan ada stik game. Waaaaaaa, silakan diliat busnya, plus saya yang entah kenapa nggak bisa tidur di dalem perjalanan, hiks:

Di bus itu, saya ngetweet. Huahaaa, bisa ngetwit massaaaaa? *iye, norak*
Kurang lebih pukul 03.00 waktu setempat kami tiba di Tainan, kota tempat apartemennya kakak dan ipar saya. Berhubung subuh di sana kurang lebih pukul 04.00, jadi pada kaga tidur. Sekitar pukul 06.00-07.00 baru pada tidur-tidur cantik (?), setelah itu siap-siap jalan-jalan menyusuri kota.
Sebelum kemana-mana, kami ke kantor pos dulu. Ngapain? Ngepos surat? Bukan. Kami (baca: ayah saya) nukerin duit dulu di sana, dari US$ jadi NT atawa $Taiwan. Lalu jalan-jalan, masuk ke dalem mall. Jangan ditanya kami beli apa. Soalnya emang gak beli apa-apa. Huehehe. Mahal-mahal banget bok, goodiebag kecil aja harganya mencapai 500ribu kalo di-convert ke Rupiah. Keluar dari mall, kami ke tempat pusat jajanan di jalan gitu. Beli jus. Slurp! Ini poto-potonya :

Setelah kembali sebentar ke apartemen, ayah dan ipar saya bersiap sholat jumat, sementara saya, ibu, dan kakak saya jalan-jalan sebentar (plus narsis-narsisan) di sekitar apartemen :

Sorenya, kami menuju stasiun kereta untuk menuju Chiayi, kota tempat universitas dan asrama kakak saya. Berikut foto stasiun dan di dalam kereta yang...uh wow, keren. Juga foto pemandangan di luar kereta, yang menunjukkan betapa kompleksnya mata pencaharian mereka--dengan jarak yang berdekatan, ada pertanian, perkebunan, dan tidak jauh dari sana ada pabrik-pabrik. Foto :

Tiba di Chiayi, kakak saya menghubungi seorang supir taksi langganannya, namanya David. Dia supir taksi yang sangat baik hati. Bisa bahasa Indonesia meski hanya untuk bilang "terima kasih", haha. Dan setiap kami masuk ke dalam taksinya (ya, selama di Chiayi kakak saya selalu memanggil David untuk mengantar kami dengan taksinya), dia menyetel video konser Siti Nurhaliza. Biar klop ke-Melayu-annya kali ya... Ini foto-foto kedatangan kami di Chiayi, plus bonus David loh :

Makanan yang tampak dalam foto itu adalah makanan di warung vegetarian. Di sana, kami boleh ambil sepuasnya, lalu ditimbang, dan kita diharuskan membayar sesuai dengan berat timbangannya. Saya yang kelaparan cukup kalap dalam mengambil makanannya. Waktu dicoba...hiks. Rasanya tak seperti yang saya harapkan. Mungkin memang di sana tidak kaya akan bumbu ya (tidak sekaya bumbu Indonesia). Saya agak enek, tapi saya usahakan semaksimal mungkin ada yang masuk ke dalam perut saya, daripada maag.
Selanjutnya, menuju guest house di NCYU. Ya, guest house itu ada di dalam kampus kakak saya, dan sudah disewa oleh kakak saya. Wah, bagus, kayak hotel. 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, 1 dapur, 1 ruang tv. Di luar room juga ada dapur umum dan mesin cuci koin yang boleh kita gunakan.
Malamnya, kakak dan ipar saya mau ke supermarket. Sayang sekali untuk saya lewatkan. Maka, saya ikut-ikutan tuh. Kami menunggu bus di minimarket 7/11 kampus, dan setelah masuk, saya foto bagian dalam busnya :

Jadi, bus itu tanpa kenek. Kita memasukkan uang/kartu ke dalam salah satu mesin di sana sesuai dengan tujuan kita. Ah saya kaga ngatri dah begituan. Coba-coba yang ngerti, bikin dah di Indonesia.
Belanja di supermarket juga tak lepas dari foto-memfoto. Huehehe. Nama supermarketnya RT Mart. Lucu deh, kereta belanjanya dirantai, nah kalo mau ambil kita masukin uang koin 10 NT ke dalam salah satu bagian di keretanya, sehingga rantainya lepas. Nah 10 NT itu kan masih ada di dalam kereta belanja yang kita gunakan, setelah kita kembalikan lagi dengan rapi di barisannya dan merantainya, bagian yang kita masukin koin itu terbuka, dan bisa kita ambil lagi. Jadi kalo nggak dibalikin dengan rapi, kita kehilangan 10 NT deh. Lucu nggak? Enggak ya? Yaudah. Foto :

Pagi tanggal 11 Juni 2011, kami berjalan-jalan mengitari kompleks kampus. Kampus NCYU ini cukup asri, banyak hutan, gak kalah deh sama UI. Tapi entah kenapa, aura-auranya kok sama kayak waktu saya menginjakkan kaki di kampus UNS (Solo) ya. Mungkin karena suasananya lebih damai daripada kampus di dekat ibu kota. Di pinggir-pinggir jalanan kampus banyak terparkir sepeda milik civitas akademika di sana. Dengan keadaan terkunci, tentunya. Coba dilirik hasil jepretan di sana:

Setelah jalan-jalan pagi, kami bersiap untuk menghadiri acara inti dari kedatangan kami di sana : wisuda kakak. Namanya memang wisuda, pake toga, tapi...di sana wisuda itu pada belum sidang. Huaha. Mungkin karena itu, jadi mereka nggak heboh-heboh banget dalam menghadapi wisuda (misalnya berpakaian seadanya, bahkan ada yang pake sendal jepit. tengok aja foto berikut). Narsis di wisuda:

Setelah acara wisuda, kami kembali ke guest house. Esok paginya, kami berangkat menuju Taipei. Ya, ibukota Taiwan :)
Kami berangkat naik HSR. Iya, kereta cepet. Perjalanan Chiayi-Taipei yang jika dilalui dengan kendaraan biasa mungkin akan memakan waktu berjam-jam, tapi dengan HSR, hanya dibutuhkan waktu sekitar 1 jam. Ini dia stasiun HSR dan di dalam HSR (duh, keren, kayak pesawat) :

Turun dari HSR, uh wow, stasiunnya (Taipei Railway Station) keren abissss. Ramai tapi tertib dan bersih. Setelah masukin barang ke hotel di dekat sana (Cosmos Hotel), kami lanjut naik MRT (Mass Rapid Transit), kereta bawah tanah yang katanya gak pake masinis tapi pake mesin otomatis. Aaaaa, keren. Meski berdiri, tapi tetap nyaman di dalamnya. Tiketnya berupa koin berwarna biru. Pas mau masuk area menuju MRT, tempelin tu koin di salah satu bagian mesin, dan palang pun akan terbuka untuk kita lewati. Pas mau keluar, masukin tuh koin ke dalam mesin yang tersedia, dan palang akan terbuka untuk kita keluar. Foto menuju, di dalam, dan keluar MRT :

Ngapain kita naik MRT? Jengjengjeng. Jawabannya adalah : menuju tempat wisata. Ihiy. Kami ke Chiang Ka Shek Memorial Hall. Chiang Ka Shek adalah tokoh sejarah Taiwan yang terkenal. Ah, sebenernya saya sok tau sih. Tapi yang pasti beliau adalah orang penting dalam sejarah Taiwan, sampe-sampe dibikinin Memorial Hall-nya. Waktu ke sana, cuaca lagi super terik. Hiks, kasian mama dan bapak :'( Kalo saya sih, di Depok juga sering panas-panasan di kampus. Haha. Ini hasil narsis di luar Chiang Ka Shek :

Sedangkan ini hasil narsis di dalam. Ah, ada yang merasa pernah liat patung super besar itu? Iya, itu patungnya Chiang Ka Shek. Ada dua tentara yang bertugas menjaga patung itu. Tugasnya menjaga, tapi jadi objek poto-poto. Hihi. Abisnya mereka "beku" alias nggak boleh gerak, jadi lucu aja, bahkan kami goda-godain mereka, berharap mereka ketawa XD Kebetulan pas nyampe di atas ada upacara pergantian tentara yang jaga. Liat aja deh ya fotonya :

Setelah ke Chiang Ka Shek, tebaaaaak kami kemana???
Kami ke TAIPEI GRAND MOSQUE.
*Eit, kok pake kapital semua?? Nggak nyante banget??*
Iya, emang nggak nyante. Di negeri sana kita bakalan rindu sama suara adzan, juga sama saudara-saudara sesama muslim yang tampak dari pakaiannya. Bener deh. Di sana tuh, kami sang keluarga berjilbab--kecuali ayah saya dan ipar saya, yaiyalah--setiap kemana-mana pasti ada yang memandang dengan aneh. Nggak biasa ngeliat orang berjilbab soalnya. Kami sih mencoba "menikmati" sikap mereka. Saya juga sempet becanda ke ortu dan kakak saya, "Coba yuk bilang 'ape lu liat-liat' ke mereka, kan mereka nggak ngerti". Huahaha. Di sana, sholat pun harus bersedia dimana saja. Di bus misalnya. Iya, jangan harap nyari mushola di gedung-gedung kayak di Indonesia, gak bakal ada :|
Nah, setelah perjuangan untuk sampai ke Masjid ini, aaaaaaaaah. Saya terharu, sungguh, tidak berlebihan. Hampir nangis. Di sanalah, tempat para muslim di Taiwan banyak berkumpul. Ada orang Indonesia (banyak loh), India, atau asli Taiwan. Kebetulan itu hari Ahad, dan tiap hari Ahad di masjid itu menyediakan makanan gratis untuk para pengunjungnya. Tebak kami makan apa?? AYAM! BERBUMBU LEZAT! Subhanalloh :')
Oke, mungkin terdengar norak, tapi jika Anda rasakan sendiri, sungguh saat itu benar-benar mengharukan. Di negeri sana boro-boro makan ayam/daging/sejenisnya, karena takut nggak halal. Bumbu juga kayaknya seadanya banget. Eh, di sana disajiin makanan ayam berbumbu lezat. Udah gitu, petugas masjid dengan riang menyambut kami masuk dan memberi jatah makan dengan semangat. Subhanalloh...inikah nikmatnya ukhuwah islamiyah? :')
Foto :

Selesai makan, sholat, dan bersantai di dalam masjid, kami kembali ke hotel untuk merapikan barang ke dalam kamar. Oya, soalnya saat pertama ke hotel kami masih belum bisa masuk kamar, harus nunggu sampe jam 2 siang, jadi awalnya cuma nitip barang dulu.
Sekitar pukul 4 sore, kami berangkat menuju Taipei 101 (baca: Taipei one-o-one). Ada yang tau? Itu, gedung yang kalo nggak salah jadi gedung tertinggi kedua di dunia. Wow. Saya super-excited saat menuju ke sana. Penasaran bok. Setelah sampai, tak lupa kami foto-foto. Ternyata di lantai bawah (lantai 1-5) adalah mall. Dan puncak keindahannya (observatory) dapat dinikmati di lantai 89 dan 88, dengan sebelumnya membeli tiket terlebih dahulu. Huaaaa. Foto saat di bawah (di luar dan di lantai 1-5) :

Setelah kami beli tiket observatory, kami naik lift yang diklaim sebagai lift tercepat di dunia, dengan kecepatan 1010 m per menit. Wauw! Jadi, saat lift mulai bergerak, kuping kita akan terasa agak pengang seperti naik pesawat. Saya nggak begitu ngerti kenapa, ada hubungannya sama tekanan-tekanan gitu ya? Ah, tanya kakak dan ipar saya aja deh yang anak fisika :|
Waktu yang ditempuh untuk sampai di lantai 89 hanya sekitar 40 detik! Dan sampailah kami pada sesi foto-foto berikutnya, ups, haha, ini foto di lantai 89 :

Eh, foto apa itu yang bulet-bulet? Itu adalah bandul semacam penyeimbang gedung, sebagai antisipasi bencana gempa. Jadi biar gedungnya nggak runtuh saat gempa. KEREN YA! Tapi ternyata, udah ada beberapa gedung di dunia ini yang ada bandul semacam itu. Ayo yang ilmunya di bidang fisika/konstruksi/dll, kapan nih bikin yang kayak gini di Indonesia? :D
Karena keberadaan bandul itu, ada ikon/maskot gedung Taipei 101 yang namanya Damper Baby. Lucu deh. Itu ada juga kok di foto.
Caranya turun dari lantai 89 ke bawah gedung adalah....jengjeng. Turun dulu ke lantai 88. Ngapain? Ah, ternyata di sana banyak hal yang menarik. Salah satunya bisa ngeliat bandul itu lebih dekat. Hehe. Kita ngelewatin lantai yang lucu banget. Jadi kalo tuh lantai nggak diinjek, gambarnya awan-awan gitu. Tapi pas diinjek, keluar gambar perkotaan yang dipotret lewat atas. Selain itu, di lantai 88 ada banyak penjual batu giok, coral, dan sejenisnya. Ada juga batu berwarna ungu, dan mama saya sebagai orang Banjarmasin langsung mengklaim itu adalah kecubung, batu permata yang banyak di Banjar. Hoho. Kata kakak saya, bentuk yang lumayan khas dari Taiwan adalah sayuran kol yang dibuat dari batu permata. Nggak ngerti kenapa. Silakan lihat foto di lantai 88 :

Dari lantai 88 kami menggunakan lift tercepat di dunia itu lagi, hehe, dan sampailah pada lantai 5, lalu sampai bawah, lalu berangkat lagi menyusuri pesona Taipei di malam hari. Lebih tepatnya, cari oleh-oleh. Haha. Kami sempat jajan tahu goreng dan cumi goreng di sana. Yap, sebelum beli, kakak dan ipar saya tentu memastikan kalo itu dimasak pake minyak sayur, bukan minyak babi. Ohh...sulitnya kehidupan kuliner di sana (jadi, bagi Muslim, jangan berharap banyak untuk dapat menikmati wisata kuliner di negeri yang mayoritas non-Muslim). Ini dia foto Taipei malam hari, nggak banyak, soalnya lebih banyak kalap nyari belanjaan, hehe, tapi nggak kalap-kalap banget sih, mahal-mahal bok :

Itu yang tulisan LOVE itu, ada di depan Taipei 101. Lucuuuuk.
Taipei, atau bolehlah kita sebut secara general Taiwan, memang kota warna-warni, jadi nggak hanya pertokoan yang neonboardnya warna-warni, sampe proyek pembangunan gedung/jalan pun lampunya warna-warni.
Esok paginya, tanggal 13 Juni, kami ke Bandara Taoyuan untuk pulang ke Jakarta. Eh salah, Depok. Dengan pesawat Eva-Air tentunya, dan makanan halal yang sepertinya lebih enak daripada makanan standar pesawat itu. Hehe :p
Pesawat pulang ini ada layar di tiap depan bangkunya, yang memuat banyak film juga hiburan lainnya. Sambil mengisi 5 jam perjalanan, saya memilih menonton film Thailand, "Hello Stranger". Eh, nyaris nangis masa. Hwakakakakkk.
Sampai di Depok kira-kira pukul 4 sore, alhamdulillah. :)

Kenangan tak terlupa, bahkan penulisan artikel ini yang jaraknya sebulan dari perjalanannya, masih banyak hal yang tersimpan di ingatan saya. Heuheu.

Bahwa sesungguhnya bumi Allah itu luas, maka ayo lakukan perjalanan di bumi Allah dan temukan banyak hikmah di dalamnya :D

TAIWAN, TOUCH YOUR HEART!
(slogan mereka tuh)

Katakanlah, "Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu". (QS 29: 20)
Maka tidak pernahkan mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (QS 22: 46)

Tambahan, alhamdulillah kakak saya sudah resmi Master karena hari ini (13 Juli 2011) ia sudah berhasil menempuh sidang tesisnya. :D

4 komentar:

Ecky Agassi mengatakan...

selamat untuk kakaknya :)

Niken Puspitaningrum mengatakan...

@ kak ecky :
terima kasih..

Tamimeh mengatakan...

Cie kakak yg jalan2 ._.

Niken Puspitaningrum mengatakan...

@ tami :
hehe, tami juga cie yg abis dari singapore & malaysia brg tmn2 efektif (eh itu udah lama ya :p)
cerita juga dong di blognya :D