Saya sedikit berdebar-debar ketika menuliskan--bahkan ketika baru terbesit ide--postingan ini. Takut salah, takut sok tau, takut diprotes, takut diomelin, takut makin cantik, takut makin banyak penggemar (abaikan 2 ketakutan terakhir). Tapi mari kita sisihkan dulu ketakutan tersebut, daripada dipendam dalam otak bertahun-tahun, nanti jadi batu ginjal (yaudahsih suka-suka saya).
Tulisan ini, bukan mengenai hal-hal normatif tentang jilbab. Masalah normatifnya, tanya sama ustadz/ustadzah atau mbak/abangnya atau cari buku referensi atau cari jurnal saja ya. Saya di sini mau berbagi kisah saja, baik dari pengalaman saya sendiri maupun pengalaman saya sendiri (emang mau cerita pengalaman sendiri, hehe). Sebenernya hidup saya--dalam pandangan saya--terasa lancar-lancar saja, lurus-lurus saja, kalopun belok belum sampe parah. Mungkin saya yang kurang banyak memaknai sesuatu sebagai kejadian luar biasa dalam hidup saya. Ah, coba kalo banyak, kan saya bisa bikin biografi, judulnya Melukis Pelanggan, tapi sebelumnya jadi artis dulu.
*eh* *maap-maap* *becanda* XD
Ikuti kisahnya...
Menggunakan jilbab merupakan cita-cita saya sejak SD. Ketika itu, yang saya tau, perempuan atau lebih tepatnya muslimah, ya harus pake jilbab. Sejak SD saya pikir bahwa menggunakan jilbab adalah suatu pencapaian bagi perempuan. "Suatu saat nanti, kalo udah gede, musti pake jilbab", pikir saya.
Frase "kalo udah gede" memang relatif, karena tidak ada data kuantifikasi umur yang dimaksud (mabok metode antrop). Waktu itu sih saya mikirnya ya nanti, pas gede, pas udah akil baligh lah. Sempat terpikir untuk mulai menggunakan jilbab pas SMP, tapi pas ngobrol-ngobrol iseng sama kakak, ditanya "beneran udah yakin? nanti ga boleh lepas ya" (intinya kayak gitu deh). Jadi bimbang. Namanya juga anak SD superlabil. Yaudahdeh nanti aja nanti.
Ketika masuk SMP, saya "terlupa" dengan keinginan saya menggunakan jilbab. Terbuai dengan kelabilan anak SMP. Ah entahlah, saya tidak punya banyak kenangan manis waktu SMP, terasa datar-datar saja...
Nah SMA yang penuh kenangannya. SMA yang konon penuh kader, eh salah, penuh nuansa Islami, membuat saya sangat tenang dan damai di dalamnya. Padahal mah ga ada pikiran mau masuk sana tadinya. Pengen SMA di Jakarta. Tapi takdir yang mempertemukan kita. *eh?* Takdir yang menunjukkan jalan ini, untuk sekolah di SMA yang istimewa di segala aspek tersebut. Pada saat itu, karena lingkungannya baik-baik saja, maka saya merasa aman. Terdorong untuk pake jilbab lagi, apalagi banyak acara rohis yang menarik tapi saya jadi "alien" karena ketidakpakaijilbaban saya. Tapi...ada satu dan lain hal yang membuat saya menundanya. Apa? Jika dikatakan belum siap, ah, enggak juga. Setidaknya kan saya sholat dan menjalankan ibadah lainnya, saya juga (merasa) gak 'rusak-rusak' banget. Tapi, yah bisa dikatakan ada permasalahan teknis saja. Dan...terkadang saya merasa tidak nyaman pada beberapa orang yang, ehm, menurut saya, 'basa-basi' untuk mendorong saya pakai jilbab. Jujur malah saya tidak nyaman dengan itu semua, dengan beberapa cara mereka yang terkadang...ah sudahlah. Entah saya salah atau tidak, tapi itu yang memang pernah saya rasakan. *istighfar*
Selepas dari SMA, saya kuliah di fakultas/jurusan yang, ehm, luar biasa. Luar biasa berbeda dari SMA, maksudnya. Awal-awal agak eneg liat "pemandangan"nya. Ah, kalimatnya evaluatif sekali ya, tidak deskriptif (mabok metode antrop). Ya, intinya sih, berbeda, lebih 'bebas', contohnya banyak rokok, banyak yang mini-mini, saya juga jadi nggak ngerti batasan laki-perempuan yang dimaknai banyak mahasiswa di sana. Sebulan kuliah, saya memutuskan untuk menggunakan jilbab. Ahh...akhirnya! *bersorak hamdalah*
---intermezzo---
Tiba-tiba saya teringat, sebelum saya pake jilbab, saya sering 'kabur' dari fakultas/jurusan saya ke tempat yang saya anggap lebih 'aman'. Misalnya nggak mau sholat di fakultas, maunya di MUI. Trus ya, perasaan saya (yang mudah-mudahan salah), pandangan beberapa jilbaber itu kok nggak gitu enak ya ke saya. Setelah saya pake jilbab dan seperti biasa ke sana, jadi berasa dipandang beda, misalnya dikasih senyum. Emm, ini sih sekedar pengalaman (perasaan) saya aja ya, cuma cerita. Beberapa kali soalnya. Ya kali aja, bisa dijadiin acuan agar ke depannya para jilbaber tidak memandang yg nggak-enak-in lagi ke arah non-jilbaber. Itu malah bikin nggak respek loh. Maaf ya. Apa jangan-jangan saya pernah gitu juga ya? Kalo iya semoga enggak lagi-lagi deh. *istighfar*
---lanjut lagi---
Kenapa jadi pake jilbab? Karena di sana, eh di sini, eh di situ lah pokoknya, saya tidak mendapatkan 'kenyamanan seperti saat SMA. "Kayaknya sih, kalo nggak membatasi penampilan, lama-lama saya bisa terjerembab (?) juga", itu pikir saya.
Setelah pake jilbab, em...rasanya emang nyaman kemana-mana. Jadi termotivasi untuk nambah ibadah lain. Makanya, saya suka nggak ngerti sama orang yang bilang nggak siap pake jilbab karena ngerasa belum kuat iman, belum banyak ibadah, dan sebagainya. Kenyataannya itu berjalan beriringan kok.
Ada beberapa tanggapan yang saya ingat ketika saya mulai pake jilbab.
1. Sms: "Niken gimana udah pake jilbab belum?" selanjutnya "Ciee.. Jangan lupa PPJ (Pajak Pake Jilbab) ya", dari sahabat saya yang memang saya kabari sebelumnya kalau dalam waktu dekat saya mau pake jilbab.
2. Omongan: "Wah Niken kok berubah banget? (senyum)", kata teman-baru-kenal-1. Jiah, tau dari mana berubah banget...lagian pas saya nggak pake jilbab juga nggak pernah pake baju aneh-aneh deh. Lucu aja sih.
2. Omongan: "Gue sih kalo pake jilbab mau langsung yang panjang", kata teman-baru-kenal-2. Zzz, saya mencoba meng-amin-i, meski agak panas sih, masalahnya emang di awal kan saya masih belajar pake jilbab, masih 'pendek', jadi omongan itu kesannya kayak nyindir. Nyatanya malah makin ke sini masih belom aja dia pake jilbab, malah makin 'mini'. -_- (*istighfar* maaf ya, bukannya apa-apa, cuma ya kalo ada kemauan itu mbok yo 'mendekati' dulu tho, kalo makin jauh dari bentuk kemauan itu ya makin susah digapai--menurut saya).
3. Omongan: "Wah Niken pake jilbab...permanen atau temporer nih?", kata teman-tidak-akrab. Ebuse, jahat amat, dikata tato. Ya karena tidak akrab, saya nggak nganggep ini becanda, dan emang tampangnya lagi nggak becanda. Buat pelajaran bareng-bareng aja nih, dia jilbaber dan...sebut saja aktivis. Saya sih, sebagai orang yang ditanya, secara jujur dan polos menyatakan bahwa itu tanggapan yang nggak enak banget didenger. Bikin 'jauh'. Itu juga yang pernah sedikit mempengaruhi saya untuk tidak ingin terlibat banyak kegiatan dengan orang-orang 'sejenis'nya. Saat itu, saya cuma menjawabnya dengan (berusaha keras) tersenyum, meski mungkin senyum kecut. Entahlah. Tapi seinget saya, saya sempat bilang kalo nggak temporer sih.
4. Omongan: "Aku kira kamu bakal pake jilbab waktu SMA lho...", kata teman-yang-baik-hati-dan-manis-rupanya. Wah senangnya. Apalagi ini saya dengar beberapa menit setelah mendengar tanggapan pada poin 3. Haha, sudahlah.
Selama kuliah, saya bahagiaaaa sekali jika melihat ada teman yang mulai pake jilbab juga.
Dan...betapa sedihnya saya jika melihat ada yang melepas jilbabnya T_T
Bukan basa-basi. Bener. Saya sempet nangis juga sebenernya, tapi nggak di hadapan beliau-beliau. Saya merasa tidak berguna. Merasa 'sok-sokan' ikut kegiatan Islami sana-sini, nyatanya orang di dekat saya justru tidak bisa saya 'dekati'. Sebenarnya beliau-beliau itu bukan teman dekat saya, tapi setidaknya selama seminggu bisa berkali-kali ketemu dan sekelas. Itu sempat membuat saya syok, sampai akhirnya saya curhat sama seorang yang sering saya sebut sebagai ustadzah gahul, karena menurut saya dia dapat menjalin hubungan baik pada banyak orang dan siapapun, sehingga saya anggap dia adalah orang yang tepat untuk saya curhatin. Benar saja, saya lebih tenang. Intinya memang susah kalo mau tiba-tiba 'masuk' dan mendekati, jadi ya hal yang paling mungkin saya lakukan, tentu mendoakan mereka.
Kadang saya juga sedih, jika melihat teman-teman berjilbab yang rambutnya masih tampak jelas bentuknya di dalam (atau bahkan keluar dari) jilbab tersebut. Alasannya karena rambutnya panjang dan akan patah/rusak jika digulung. Saya sedih. Tidak berlebihan. Menjaga keindahan rambut namun mengorbankan rambut itu untuk tampak dari jilbabnya, menurut saya benar-benar miris. Pernah katanya ada yang disarankan untuk pakai jilbab yang lebih panjang (bukan saya yang menyarankan), tapi takut dibilang 'anak mushola'. MasyaAlloh. Mungkin sebutan 'anak mall', 'anak gaul', 'anak alay' lebih membanggakan kah? -_-
Lagipula, saya rasa, tidak ada yang salah kok jika disebut 'anak mushola'. Malahan saya dan teman-teman sepertinya tidak pernah merasa disebut 'anak mushola', tetap dipanggil sesuai nama dan dihargai sebagai manusia. Astaghfirulloh, apa mungkin sikap orang yang mereka sebut 'anak mushola', mungkin juga saya, telah dianggap tidak baik, menyinggung, atau tidak mengenakkan terhadap mereka? Ya Alloh, jika itu benar (meski tetap, semoga salah), semoga nantinya saya dan yang lain tidak mengulangi hal tersebut.
Apa lagi ya?
(ett udah panjang ini bang)
Iya, panjang juga ya. Hehe. Maaf maaf.
Saya akhiri saja curhatan panjang ini. Kalo ada yang menyinggung atau tidak bermanfaat, saya sungguh-sungguh minta maaf. Saya hanya ingin membagi cerita, pengalaman, dan perasaan saya saja seputar jilbab.
Terima kasih untuk yang membaca semua, yang baca sebagian juga makasih, yang nggak baca juga..mm..makasih deh. :D

2 komentar:
Alhamdulillah cita-cita sejak SD-nya terlaksana. Mau jilbabnya panjang, atau pendek, atau rumbai-rumbai, atau sampai nyengser ke tanah, yang penting niat untuk membuat hijab diri terpenuhi. Keep spirit, keep posting!
:D
@ ibnumaroghi:
tengkyu, keep posting juga..
Poskan Komentar