Kok fotonya dikotak-kotakin nggak jelas gitu?Ya emang mau menyamarkan tokoh dan kelompok.Huahahahaha.*ditimpuk kaleng minuman*
Setelah sekiiian lamaa tidak menulis postingan di blog ini, akhirnya saya kembali. Kali ini, yang akan saya tulis akan jauh berbeda dengan tema yang sebelumnya terpikirkan oleh saya. Beberapa waktu lalu, saya sempat terpikir untuk menulis tentang jurusan saya yang saya rasa semakin menggairahkan, kemudian kota Banjarmasin beserta adat perkawinan di sana, lalu kota Solo dengan beragam makanannya.
Lah sayah kaga sempet-sempet ngeblog. Sekarang, pas sayah sempet, udah kaga mood nulis begituan. Lahh pegimane ini mpok.
Apa yang akan saya tulis kali ini? Mungkin abstrak dan membosankan karena ini murni curhatan. Jadi...ah udah deh baca aja susah banget sih.
Ini tentang sesuatu yang tidak pernah saya kira sebelumnya akan saya emban. Bahkan sebelumnya saya jadikan itu sebagai candaan dalam rangka ngecengin orang lain.
Sampai pada suatu malam yang menghasilkan keputusan bahwa sayalah yang menempatinya.
Suatu hal yang menurut saya luar biasa karena itu terjadi di tengah-tengah pikiran dan perasaan saya yang sedang berkecamuk kacau.
Ehm, agak hiperbol.
Akhir-akhir ini pikiran dan perasaan saya memang di puncak kelabilan. Misal: sekarang ngakak, sejam kemudian diem, dua jam kemudian nangis.
Tapi kayaknya sih saya masih waras. Amin.
Masalah yang ada di keluarga, meski bukan mengenai sesuatu yang sangat mempengaruhi hidup saya, tapi cukup menguras pikiran dan perasaan. Begitu pula dilema saya mengenai suatu komuniti yang sebenarnya sudah dari tahun lalu saya ikuti. Ya, meski sudah dari tahun lalu, tapi saya baru beberapa waktu lalu selama satu minggu intens mengikuti "hajatan"-nya serta baru membaca "cerita"-nya. Ah, sulit untuk dijelaskan tapi yang pasti saya merasakan beberapa mudharat dari komuniti ini. Tapi mungkin juga saya yang su'udzon. Astaghfirullah.
Tapi ketika saya bertemu dengan sahabat-sahabat di luar sana, saya akan kembali ceria dan bersemangat. Termasuk dengan kelompok ini, kelompok tempat saya teremban.
Tau artinya teremban kan? Kata dasar 'emban'. Awalan 'ter-' yang berfungsi membentuk kata kerja pasif. Bisa juga berfungsi untuk menggambarkan keadaan tiba-tiba.
*daftar jadi tentor bahasa indonesia*
*daftar jadi tentor bahasa indonesia*
Lepas dari benar atau tidaknya kata itu secara bahasa dan ejaan yang disempurnakan, saya asumsikan semua mengerti yang saya maksud. Amin.
Meski tidak pernah terpikir sebelumnya, dan bahkan baru sebentar saja saya dicelupkan di sana, tapi saya yakin bisa menghadapinya. Di sana saya punya dia, dia, dia, dia,....dan Dia. Sahabat-sahabat yang senantiasa akan membantu, mengingatkan, dan membimbing. Tentu saja, saya (baca: kami) juga punya Dia, Tuhan Semesta Alam, Allah Subhanahuwata'ala.
Jadi, tidak ada alasan untuk tidak siap. Saya kan tidak sendirian.
Toh, cuma untuk tiga bulan. Huahahahahaha, moga bener ya tiga bulaaan ajaaa. Amin.
:p
Sekian tulisan (baca: curhatan) saya versi galau dan labil.
Mari akhiri dengan quote dari sahabat saya:
"If Allah brings you to it, He will bring you through it"
Semoga apapun yang akan kita jalani senantiasa membawa kebaikan, berkah, dan manfaat!
Aaamiiiin! :)
1 komentar:
nice post
Poskan Komentar