Selasa, 09 November 2010

Dua Muka


"Duaaa cintaaaa~~ dalam satuuuu haaaatiii~~"

Lah, itu mah lagunya Calvin Jeremy. Beda sama judulnya!
zzzzz *ganti channel*

Dua Muka.
Apa yang terlintas di benak Anda saat membaca frasa itu?
Intelijen? Detektif? Spiderman? Superman? Unyil-Usro? Upin-Ipin? Spongebob? Dora? Bernard? Yoyo-Cici? (nggak boleh, yoyo-cici hanya milikku! *posesif*)
Terserah Anda. Yang penting jangan sampai terlintas wajah saya.
Nanti nggak bisa tidur 7 hari 7 malam.

Ini adalah kisah tentang apa yang sebelumnya saya rasakan lumrah ada dalam tiap diri seseorang, kemudian tiba-tiba saya khawatir bahwa hal ini bukanlah suatu yang lumrah, kemudian saya kembali merasa bahwa ini banyak terdapat dalam diri seseorang.

Lalu, apa maksud dari "dua muka" ini?


Berikut gambarannya:
(saya menggunakan tokoh 'saya' sebagai contoh saja. kalo tokohnya 'kita' nanti pada protes. kalo tokohnya 'kamu' lebih diprotes lagi. kalo tokohnya 'bang tohir anaknya haji nasir yang rumahnya di gang mushola deket lampu merah' kepanjangan.)
Di dalam lingkungan, keadaan, dan partner yang satu, saya adalah anak yang pendiam, bicara seperlunya, tidak suka tersenyum apalagi tertawa. Namun di dalam lingkungan, keadaan, dan partner yang lain, saya adalah anak yang iseng, jail, konyol, senang tertawa.
Beda. Muka dua. Dua muka.

Pernah merasakan seperti itu?
Kalau saya, mungkin lebih dari pernah, tapi benar-benar telah menjadi pribadi saya.
Kepribadian ganda?
Entahlah, tapi saya terlalu takut untuk menyebut seperti itu. Terdengar ilmiah sekali. Saya lebih senang menyebutnya "dua muka" atau "muka dua". Lebih terdengar sastra, kan? Seperti judul teater ("Dasamuka"). Ah, saya memang penyair hebat. *ditimpuk sepatu*

Awalnya, saya rasa ini memang biasa. Semua orang mengalaminya. Kepada siapa dia berinteraksi, akan menuntunnya dalam bersikap. Interaksi dengan kawan sepermainan dan interaksi dengan pejabat negara tentu akan berbeda. Jangankan perbedaan yang sejauh itu, interaksi dengan kawan yang setiap hari bertemu dan dengan kawan yang setahun sekali bertemu tentu juga berbeda.
Menurut saya.
Iya, itu menurut saya, awalnya.
Tapi setelah melihat berbagai karakter orang di lingkungan yang begitu heterogen.....ahh, nampaknya ada yang tidak seperti itu. Ada orang yang bisa "bermuka sama" ketika menghadapi berbagai macam orang.
Loh? Jangan-jangan, muka dua itu bukan hal yang harusnya ada di tiap orang?

Lama-kelamaan saya jadi khawatir, ini adalah suatu kesalahan.
Atau lebih tepatnya, kelemahan karakter. Yang terdapat kesalahan penyikapan di dalamnya. Ahhh apa ini??
Maksud saya, saya mulai berpikir bahwa sebenarnya tiap orang tidaklah dan tidak harus punya dua muka.
"Apa adanya". Terlintas, frasa tersebut membuat saya merenung dan merinding. Apa orang yang bermuka dua itu tidak apa adanya? Apa selama ini saya tidak menunjukkan ke-apa-adanya-an? Apa muka dua itu salah?? Apa itu berarti selama ini saya salah bersikap???

Tunggu. Hm, sepertinya saya bisa membela diri dengan melihat model orang di sekitar saya. Sepertinya, kasus dua muka ini sebenarnya banyak dimiliki oleh orang. Manusiawi. Ya, setidaknya itu menurut saya.
Bukan hanya saya yang bersikap seperti itu, tapi orang lain juga ada (banyak) yang seperti itu. Pasti ada banyak orang yang bersikap elegan saat berhadapan dengan petinggi (apa saja) atau sedang memimpin rapat. Tapi setelah bertemu dengan teman-teman karibnya, sikap-sikap yang berlainan sisi dengan ke-elegan-an akan muncul.
Saya tidak berani untuk menyebutnya sebagai "sikap asli", karena setelah saya pikir-pikir.....kedua "muka" ini, bisa jadi adalah sikap yang memang asli dari seseorang. Kedua muka atau kedua sikap tersebut, memang sikap yang dirasa paling nyaman untuk ditunjukkan pada kondisi yang berbeda tersebut.

Jadi?
Saya tidak menyalahkan orang yang bermuka dua, karena saya pun merasa seperti itu. Apa ada yang merasa pernah dirugikan karena dua muka itu? Atau apa ada yang merasa tidak pernah sama sekali bermuka dua? Tolong dibagi ceritanya.
Saya pun tidak menyalahkan orang yang tidak bermuka dua. Apa ada yang merasa pernah dirugikan dengan muka satu ini? Tolong dibagi juga ceritanya.
Baik dua muka, tiga muka, ataupun satu muka, menurut saya tidak salah selama itu tidak merugikan orang. Justru menyesuaikan sikap dengan keadaan tertentu itu lebih baik! Err, masih menurut saya, lho.

Mungkin semua orang dapat menjadi temanku, tapi hanya sebagian kecil, bahkan mungkin hanya satu-dua orang, yang mampu menjadi sahabat karibku.
[lagi-lagi, kalimat di atas adalah "menurut saya". galau abis ya -_-]
[Selengkapnya...]