
Namanya hidup, selalu dalam pilihan. Preferensi. Mana yang disuka. Mana yang dipercaya. Mana yang dipilih.
Begitu pula dengan kata-kata yang kita gunakan dalam pergaulan sehari-hari, hal itu tak lepas dari pilihan. Tentang kata apa yang kita gunakan sebagai kata ganti orang pertama dan kedua, tentang kepada siapa kita menggunakan kata-kata itu. Ya, semua tentang pilihan.
Abstraksi di atas mungkin memang benar-benar abstrak, atau dalam bahasa rakyat: mbulet. Oleh karena itu, penjelasan selanjutnya akan saya bahas lebih riil, berdasarkan kisah nyata hidup saya, yang merasa punya kendala pergaulan dalam menyebut kata ganti orang pertama dan kedua, yaitu berupa gak bisa ngeluarin kata gue-lo dalam ngobrol.
Terdengar konyol?
Maaf, tapi ini nyata.
Mungkin ini semua karena hidup saya yang dulu nomaden.
Agaknya saya sendiri bosan untuk menceritakannya.
Sedikit saja ya. Gapapa ya. Maap ya.
Jadi gini. Tiap saya mau pindah tempat tinggal plus sekolah di luar kota, modal utama saya adalah bahasa pemersatu, yaitu Bahasa Indonesia. Dengan menggunakan Bahasa Indonesia, maka kita dapat terhubung dengan seluruh bangsa Indonesia (padahal pindah kotanya gak jauh-jauh juga sih, hehe).
Nahh, pas nyampe Depok, tepatnya saat masuk SMP, saya lihat teman-teman saya. Saya perhatikan mereka, dengan tatapan norak-ndeso. Huahahaha. Maksudnya, saya takjub dalam hati, "oh... di Depok itu pake gue-lo ya??". Saya tahu 'gue-lo' itu dari sinetron di TV, dan setahu saya pula, itu kata-katanya orang Jakarta. Iya ya, kan Depok deket Jakarta, walaupun masih di Propinsi Jawa Barat.
Inilah awal keputusan saya untuk tetap mempertahankan ke-'aku-kamu'-an yang dari dulu saya gunakan. Inilah pilihan kata saya. Toh, masih kecil kan (baru lulus SD), apalagi SD saya dari luar kota. Jadi saya pikir pilihan kata 'aku-kamu' ini tidak terlalu buruk.
Saat hampir lepas SMP, saya sudah merancang masa depan, "nanti SMA mau pake 'gue-lo' ah". Cita-cita yang mulia bukan???
Tapi cita-cita itu tak tercapai. Saat masuk SMA, tetep aje yang keluar 'aku-kamu'. Mau nyobain 'gue-lo' tapi gak bisa. Yasudahlah, toh saya masih bisa diterima. Dan saya sama sekali tidak keberatan jika teman saya ber-'gue-lo'-an dengan saya. Sekali lagi saya pikir bahwa pilihan kata yang saya gunakan ini tidak salah.
Lepas SMA, dan saat saya sudah tahu akan berkuliah di fakultas dan jurusan apa, saya jadi berpikir lagi, "mungkin di sana adalah saatnya saya konversi kata jadi 'gue-lo'". Kenapa? Karena saya sudah membayangkan lingkungan saya di sana yang mayoritas....... mmm, padanan kata apa ya yang tepat melengkapi titik-titik tersebut? Ah, sebut saja g4oeL.
Tapi nyatanya, lagi-lagi tidak kesampaian. Tetap saja yang keluar 'aku-kamu'. Atau 'saya'. Kok susah ya? Ya sudahlah, sudah nasip. Ada beberapa yang pake 'aku-kamu' juga kok.
Hari demi hari berganti, sampai akhirnya saya merasa telah merepotkan beberapa orang.
Kok?
Iya lah. Misalnya ada orang yang sehari-hari pake 'gue-lo'. Trus saya pake 'aku-kamu' buat ngobrol sama orang itu. Beberapa sih biasa aja dengan perbedaan itu (tetap melanjutkan perbedaan itu). Beberapa menyesuaikan pake 'aku-kamu' dan terlihat biasa saja. Beberapa lagi, berusaha pake 'aku-kamu' (atau sejenisnya) tapi tampak ganjil karena biasanya pake 'gue-lo'. Suasana obrolan pun agak terlihat ganjil.
Apalagi kalo ngomong sama laki-laki. Di kota ini kan ber-'aku-kamu' dengan lawan jenis bisa menimbulkan pitnah bin kaga enak satu sama laen. Yah, walaupun, sekarang saya sudah merasa biasa saja kalau menggunakan kata 'aku-kamu' dengan beberapa laki-laki. Iya, laki-laki yang tidak saya anggap sebagai laki-laki sungguhan. Wuahahaha. Ampuni saya, para tuan-tuan. Canda deeeeng :p
Balik serius.
Itulah.
Saya gak bisa menyesuaikan. Selalu orang lain yang menyesuaikan. Maafkan diriku. *meratap*
Tapi. Kembali ke atas. Lagi-lagi, ini adalah pilihan. Preferensi. Saya terbiasa dan memilih untuk menggunakan 'aku-kamu'. Orang lain juga berhak memilih kata apapun dalam komunikasi sehari-hari, yang penting tidak menyakiti orang yang diajak bicara.
Lalu?
Entahlah, saya rasa postingan kali ini agak anti-klimaks jika disudahi sampai di sini. Tapi memang hanya ini yang ingin saya sampaikan. Bahwasanya saya terkadang merasa bersalah dengan pilihan kata yang saya gunakan. Bahwasanya saya sempat punya keinginan untuk konversi kata. Bahwasanya saya sekarang merasa tidak mungkin untuk konversi kata tersebut. Bahwasanya saya ingin dimengerti. *halah*
Oke, sebagai penutup, selamat berhati-hati dengan pilihan kata yang Anda gunakan! :)
Sabtu, 31 Juli 2010
Pilihan Kata, Memang Sebuah Pilihan
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar