Selasa, 08 September 2009

Keguncangan


Rabu, 2 September 2009.
Siang itu sekitar pukul 14.30-15.00 WIB, suasana kelas seperti biasanya. Dosen menjelaskan Satuan Acara Perkuliahan. Beberapa mahasiswa mendengarkannya dengan seksama. Sebagian besar mahasiswa yang lain, dengan berat hati, mulai dilanda kantuk yang teramat sangat, dan mungkin sudah ada yang terbang bersama mimpinya. Saya, sebagai mahasiswa yang termasuk dalam “sebagian besar mahasiswa yang lain”, berusaha melawan kantuk dengan menulis puluhan kata “niken” dan menggambar sesosok orang—walaupun sebenarnya gambar itu justru mirip hantu film horor Indonesia.

Tiba-tiba saya merasa lantai kelas bergetar. Oh, ada yang berlarian di koridor, pikir saya. Tapi ternyata semua teman-teman saya merasakan getaran yang sama (kok agak jijik ya kalimat barusan). Ada yang berkata, “Gempa ya?”. Semua terdiam, berusaha merasakan getaran dengan khidmat. Tapi getaran itu malah semakin kencang. Dan para mahasiswa pun langsung berlari keluar kelas, meninggalkan dosen yang belum sempat berkata apa-apa (hehe, maaf mas, panik). Bagaimana tidak, kelas kami saat itu berada di lantai 5. Bayangan mengenai gedung ambruk langsung menggerayangi pikiran sebagian dari kami. Di tangga pun sudah penuh orang untuk turun, jadi perjalanan untuk sampai di bawah agak terhambat. Begitu sampai di bawah, semua sudah lega. Saya juga lega, di samping rasa kantuk saya yang mendadak benar-benar hilang. Apa mungkin ini semacam bel untuk membangunkan para mahasiswa pengantuk?

Yang pasti, kejadian itu adalah gempa sungguhan. Pusat gempanya di Tasikmalaya, dengan kekuatan 7,3 SR. Waduh, suasana di kampus saya saja sudah sebegitu heboh, bagaimana di pusatnya ya? Lewat berita televisi, memang menyedihkan melihat saudara setanah air kita yang menjadi korban gempa. Semoga mereka mendapat ketabahan dan kesembuhan. Amiin.

Inilah pengalaman pertama saya merasakan getaran gempa (kalo getaran hati sih sering, haha). Saat itu juga, kelas langsung dibubarkan, atau lebih tepatnya membubarkan diri. Jadi agak trauma kuliah di lantai 5. Tapi mungkin lebih trauma lagi orang-orang yang saat itu berada di gedung lantai 20 ya?

Sekian curpen (curhat pendek) dari saya, maaf beritanya agak basi, baru sempet posting karena kecapekan kuliah 24 SKS dan kegiatan-kegiatan lainnya. Oiya, masa hari ini saya jadwalnya 1 matkul doang, eh dosennya kagak dateng. Tau gitu ga usah ke kampus dah, mana lagi agak demam gini T_T (sekalian curhat beneran, nanggung :p)

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya.” (Q.S. 99: 1-5)

5 komentar:

qavad mengatakan...

Wah, senangnya kelas membubarkan diri. Gimana tuh dosen reaksinya? Untung gw waktu itu lagi di lantai 1, jadi tetap tenang. hehehehehe

[niken] mengatakan...

@Ivad:
Waktu itu sih gak tau reaksi dosennya, lha wong semua pada ngacir dari kelas.
Tapi seminggu berlalu, dosennya nyantai aja kok, cuma bilang "kita lanjutkan bahasan kemarin yg terhenti krn gempa ya...".
Hho

Affan Rifaki mengatakan...

Wah, untung aku pas gempa ada di lantai satu rumah aku.
Kebetulan aku pas belum kuliah.
Maaf, pusatnya kan di dasar laut/samudera ya, jadi nggak ada manusianya, so, don't be cemas lah!!
...Karena ku yakin ada jawabnya, ...
Getaran yang sama.. Tak perlu dicari.... Gempa datang sendiri...

dentea mengatakan...

Assalamualaikum. Niken, km ud kirim TOR k imel q blm? Kok g ada y? Km kirim kmn? imel q: denty.wardany@gmail.com. Mksi...

[niken] mengatakan...

@Denty:
Wah denty OOT nih...
Hhe.
Aku udah kirim ulang imelnya kok, silakan dicek lg ^^