Di Minangkabau, Sumatra Barat, Merantau adalah tradisi yang harus dijalankan setiap anak laki-laki. Yuda (Iko Uwais), pesilat Harimau handal, dalam persiapan akhir untuk memulai perantauannya. Ia harus meninggalkan keluarganya, ibu tercinta, Wulan (Christine Hakim), dan udanya, Yayan (Donny Alamsyah), kenyamanan dan keindahan kampung halamannya, dan membuat nama untuk dirinya di keserabutan kota Jakarta. Nasib mempertemukan Yuda dengan yatim piatu Adit (Yusuf Aulia) dan kakaknya, Astri (Sisca Jessica), yang akan menjadi korban organisasi ilegal human trafficking. Organinsasi yang memperlakukan manusia seperti barang ini dipimpin seorang Eropa berhati batu, Ratger (Mads Koudal) dan tangan kanannya Luc (Laurent Buson). Ketika terluka dalam perkelahian antara Johni (Alex Abbad), para tukang pukulnya dan Yuda, Ratger bersikeras mencari Astri, atau "barangnya", yang berhasil diselamatkan dan ingin pembalasan berdarah setimpal. Perkenalan Yuda dengan kota serabutan ini seperti api yang menyulut ketika situasi memaksanya untuk melarikan diri bersama Astri dan Adit dari kejaran mucikari dan preman-preman yang menguasai malam, menggerayangi setiap jalanan, dan mengejar setiap langkah mereka.
(sumber : http://www.21cineplex.com/merantau,movie,2120.htm)
Cerita di atas merupakan sinopsis dari film Merantau, yang telah dan sedang diputar di bioskop-bioskop kesayangan Anda.
Dan bagaimana kesan saya terhadap film tersebut?
Gak pentiiing...
Ah jangan jahat gitu, ini kan blog saya, suka-suka saya dong, baca "Selengkapnya" yah :)
Yang pertama : KEREN ABIS!
Sepertinya semua film yang saya ulas di blog ini saya puji demikian ya.
Kenyataan sih...
Ada banyak alasan untuk saya nyatakan seperti itu.
Aktor/aktris, latar tempat, latar suara, dan latar suasana; elemen-elemen tersebut terancang apik dalam film ini.
Dibuka dengan adegan (latihan) silat oleh Yuda yang luar biasa, membuat segala perhatian teralih ke layar.
Pemeran Yuda (Iko Uwais) bukan sembarang pendatang baru, tapi memang orang yang benar-benar ahli silat, dan aktingnya tidak mengecewakan. Juga Eric (kenalan Yuda dalam perjalanan ke Jakarta--entah siapa nama aslinya), yang adegan silatnya cukup membuat penonton (baca: saya) terpukau.
Sisca Jessica pemeran Astri, walaupun selama ini saya menganggap ia biasa saja, tapi perannya di film ini membuat saya cukup kagum padanya. Pemeran si kecil Adit juga tidak bisa diremehkan--setidaknya bagi saya.
Christine Hakim... haaa, sudah tidak usah diragukan lagi. Pemeran ibu dari Yuda dan Yayan di film ini tidak muncul banyak, namun setiap beliau muncul... aktingnya mengalihkan duniaku!
Dan hal yang membuat saya takjub dengan film garapan Gareth Evans ini : ada subtitle Bahasa Inggris!
Oh, ternyata film ini akan diputar di beberapa negara, juga telah hadir di Hongkong Filmart pada bulan Maret 2009 lalu, serta menghadiri undangan untuk pemutaran screening 3 scene trailer dan promo di Cannes Film Festival Market, Perancis pada 13-15 Mei 2009, penutup di 13th Puchon International Fantastic Film Festival, dan film pembuka 3rd Jogja NETPAC Asian Film Festival.
Whuaaa...
Ketika menonton film ini, suasananya mengingatkan saya pada film-film Jackie Chan. Tapi di lain bagian, saya malah merasa sedang menonton film Hollywood. Dua bulenya itu lho, waktu mereka sedang ngobrol berdua di apartemen, dan subtitle-nya berubah jadi Bahasa Indonesia, membuat seperti menonton film Hollywood saja. Tapi tetap, adegan awal film ini "Indonesia banget" (pake bahasa Minang lagi).
Tapi ada juga yang kurang saya suka dari film ini...
- Pemeran Eli, wanita yang disukai Yuda, yang muncul di awal-awal, tidak ada ceritanya lagi setelah satu adegan itu. Hmm, agak ganjil menurut saya. Apa kabarnya ya?
- Banyak kata-kata "bangs**", "anj***", "ta*", dan lain sebagainya yang diulang-ulang. Yah, mungkin suasana adegannya memang mendukung untuk mengucapkan kata-kata itu, tapi bagi saya... ahh kasihan kan anak-anak yang menonton film itu kalau menirunya.
- Saya agak bingung dengan hubungan dua bule yang menjadi bos human trafficking di sana. Apakah teman, atau saudara, atau homo? Entah memang tidak jelas atau saya yang lemot mikirnya ya?
- Subtitle-nya kadang berbeda dengan yang diucapkan asli. Hm, mungkin bahasa Indonesia lebih beragam perbendaharaan kata-katanya, sehingga agak mengganjal ketika dialog film itu diubah ke Bahasa Inggris. Tapi, ada juga beberapa kalimat yang tidak diartikan, contohnya dialog Ibu Yuda yang kurang lebih seperti ini, "semoga Allah melindungimu". Apa mungkin dalam subtitle-nya memang sengaja dikurangi unsur agamanya ya?
Meski begitu, secara keseluruhan saya tetap kagum pada film ini.
Menghadirkan silat yang keras namun bukan untuk kejahatan.
Menampilkan bangsa Indonesia sebagai pahlawan bagi nasib sesamanya (biasanya kan di film Hollywood orang Barat yang jadi pahlawan, bahkan pahlawan bagi dunia).
Ceritanya sadis tapi masuk akal.
Akhir film yang saya nantikan: sad ending! (gak mau ngasih tau ah, biar pada nonton dulu :D).
Intinya, film ini membuat saya semakin kagum pada perfilman Indonesia!
Musnahkan film-film Indonesia yang minim makna seperti hantu-hantu bergentayangan dan adegan-adegan erotis!
Tunjukkan ke-Indonesia-an kita yang sesungguhnya!
Maju terus Indonesia!!!
(kok jadi heboh sendiri gini :D)
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Q.S. 9:71)

4 komentar:
Eh, ceritain endingnya juga dong!!!! Malez ke bioskop soalnya nih!!! Allohu Akbar!!!
Peradaban Inspiratif hanya mampu dibangun oleh Sang Guru Peradaban berkarakter Profetik.
Hidup Mahasiswa!!!
Hidup Mahasiswa Indonesia!!!
Niken nontonnya g ngajak2.. @.@
@Affan Rifaki:
tunggu saja filmnya diputar di TV...
@Lele:
Yaaah lele maaaaaaap T_T
Aku nontonnya abis ngurus IRS yg ribed bgt itu sih (mana waktu itu blm selesai jg), jadi ga terencana, tiba2 aja kakiku melangkah ke bioskop...
Tapi kan kita udah nonton Merah-Putih bersama-sama :)
Oia aku pengen bikin review Merah-Putih di blog ini tapi kok males ya..
Udah basi pula kalo baru ku review sekarang...
Pokoknya recommended film dah tuh!
ya lumayanlah sebagai film aksi Indonesia.
Salam kenal :D
Poskan Komentar