Kamis, 25 Juni 2009

Lulus dengan Bocoran, Bangga?


Mungkin kabar kelulusan pelajar SMA ataupun SMP di Indonesia tahun ini sudah cukup lama berlalu. Namun, rasa senang dan bangga atas kelulusan para pelajar masih dapat dirasakan, begitu pula dengan rasa sedih yang dialami oleh pelajar yang dinyatakan tidak lulus.
Ujian Nasional kini menjadi momok menakutkan bagi (sebagian) pelajar Indonesia. Dengan standar kelulusan yang selalu ditingkatkan setiap tahun, membuat pelajar kian resah akan kemampuannya untuk mencapai standar tersebut.
Dalam menghadapi ujian tersebut, ada yang mempersiapkannya dengan mengikuti berbagai bimbingan belajar, membuat kelompok belajar bersama teman-temannya, atau sibuk mencari bocoran (kunci jawaban) Ujian Nasional.

Untuk frasa yang saya cetak miring, ada yang merasa ganjil?

Semoga saja pembaca setuju dengan pendapat saya : "Mencari bocoran ujian merupakan tindakan (amat sangat) memalukan".

Mengapa saya katakan seperti itu?

Para Pencari Bocoran (selanjutnya disebut PPB--istilah yang saya buat sendiri) adalah orang-orang yang menyerah sebelum berusaha.
PPB adalah kumpulan orang yang menyatakan bahwa dirinya sendiri itu bodoh, tidak yakin, tidak mampu, dan tidak mau berusaha.

Masih belum setuju?

Ketika seseorang memutuskan untuk masuk ke dalam komunitas PPB, berarti orang tersebut merasa tidak sanggup berusaha mencapai nilai standar dengan sistem belajarnya. Atau, bisa jadi orang tersebut malas untuk berusaha.
Malas dan berputus asa, apakah itu bukan hal yang buruk?

Jujur, saya tidak dapat membayangkan apa yang ada dalam perasaan orang yang lulus dengan bocoran. Banggakah? Menyesalkah? Merasa bersalahkah? Yang pasti, saya hanya kasihan dengannya, menyerah kok sebelum berusaha.

Di sisi lain, saya ikut sedih apabila mendengar siswa-siswi yang tidak lulus Ujian Nasional. Mungkin mereka termasuk orang-orang yang telah berusaha namun belum berhasil. Semoga saja, mereka bukan orang-orang yang mendapat bocoran kunci jawaban ujian yang salah -_-

Bagi yang belum beruntung tersebut, BERSEMANGATLAH!
Ini bukan akhir dari segalanya.
Dan dalam pandangan saya, jika memang orang-orang yang belum beruntung itu masih mau berusaha dan berkarya lebih baik lagi, niscaya ia dapat menyandang gelar "sukses" di kemudian hari, menumbangkan orang-orang yang lulus dengan bocoran.

Banyak kontroversi seputar Ujian Nasional.
Banyak yang berpendapat, "Capek-capek belajar 3 taun, kelulusan cuma ditentuin dari ujian selama 3 (atau 5) hari".

Dan menurut saya, para anggota PPB telah menghancurkan 3 tahun masa belajarnya di sekolah dengan selembar kertas bocoran. Sayangnya, mereka sering kali tidak menyadarinya.
Jadi, 3 tahun belajarmu itu tidak lebih dari harga selembar bocoran ujian toh??
Kasihan anak itu, sepertinya ia perlu disantuni.

Saran saya, lebih baik jangan melulu menyalahkan pemerintah dan mengeluh minta ini-itu. Perbaiki dulu diri kita, maka kita akan mampu menghadapi tantangan apapun dan dari siapapun.

Jika menteri yang punya kuasa itu sudah menentukan adanya UN dan ketentuan tersebut tidak/belum direvisi, sebagai pelajar sebaiknya Anda mempersiapkan dengan baik (belajar dan berdoa).
Saya tidak menyatakan sebagai orang yang pro ataupun kontra terhadap Ujian Nasional, namun yang saya kedepankan dalam tulisan ini hanya mengenai bagaimana pelajar sebaiknya menghadapi Ujian Nasional.
Hadapi dengan gagah, tanpa bocoran, hanya dengan modal belajar, berlatih, dan berdoa; niscaya Anda akan lebih bangga dengan hasil yang Anda dapatkan!

Jadi, ada yang masih mau lulus dengan bocoran???

"...Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung." (Q.S. 16:116)

"Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke surga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membawa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta" (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)

9 komentar:

Muhamad Fajar mengatakan...

Mintalah pada-Nya agar segala yang kita lakukan sempurna, dengan tilawah, amalan sunnah, dan sedekah, karena kesempuranaan itu hanya milik-Nya.

No time for give up!
Tetap semangat!

[niken] mengatakan...

@Kak Fajar:
Wah kayaknya komentar ke masalah lain nih. Bnr gak ya?
Ga masalah sih.

Klo bnr ini utk hal yg lain itu...
"Siap pak ustadz :p
Doakan saja yg terbaik".

Klo ternyata saya salah mengira (emg bnrn komen ttg postingan saya ini)...
"Makasih atas tambahannya!"

qavad mengatakan...

padahal gw uda punya rencana buat bikin postingan kayak gini, sayangnya belum teralisir. Blog gfw mandek neh, belum ada perkembangan lagi...



Eh, Nik, mau nanya, kalo lw suruh milih, ada UN atau tanpa UN?

[niken] mengatakan...

@Ivad:
Menurut hemat saya yang sulit berhemat ini, "Tetap adakan UN!"
Tapi, jgn jadiin UN faktor utama kelulusan.
Misalnya, ada proporsi beberapa aspek penilaian, tapi UN tuh jgn disamaratakan sama ujian yg lain, misalnya untuk UN diberi 25% aja, trus sisanya ujian2 dari sekolah.

UN tuh bagus juga lho, buat mengukur merata atau tidaknya pendidikan di Indonesia dan (seharusnya) bisa jadi rujukan pemerintah dlm memperbaiki kualitas pendidikan di beberapa daerah di Indonesia.
Dan mustinya bisa jadi motivasi buat para pelajar + guru untuk meningkatkan gairah belajar-mengajar.

Sayang bgt, beberapa "oknum" telah merusak tujuan mulia itu dgn benda yg sangat menjijikkan : bocoran!

~panjang ya

Affan Rifaki Purworejo Jawa Tengah mengatakan...

Wow, bener benget apa yang kamu pikir dan kamu tulis itu,,,,, diterima di mana?????

Aulia mengatakan...

yup bener banget Nik..
menurutku orang yang hobi nyari bocoran itu punya penyakit kehilangan rasa percaya diri stadium 4. mereka juga g yakin klo Allah itu ada n g takut dosa. dikira bakal berkah apa ilmu dan nilainya.

buat orang2 yang udah jujur, tenang aja. Allah itu Maha Adil.
tRust Me..

[niken] mengatakan...

@Affan Rifaki Purworejo Jawa Tengah:
(panjang ya namanya)
Trimakasih, smoga smakin byk yg setuju mengenai buruknya PPB ini.
Diterima apanya? Kuliah? Sudah 1 tahun berlalu, saya kuliah di fisip ui.


@Lele:
SETUJU!!!
Makasih le tambahannya.
Iya aku percaya.

Semua juga percaya kan ttg apa yg diungkapkan oleh Saudari Aulia??
;-)

Aulia mengatakan...

dih apaan si Niken.
emang kita sodara??
hehe *piss

Anonim mengatakan...

Artikel yang bagus ...

Para PPB biasanya adalah orang yang sudah lupa akan etika belajar ...

bahkan tidak jarang para mahasiswa yang notabene udah dewasa masih ada yang "gak mau sadar" kalau hal ini justru akan mengacaukannya di masa depan ...

semoga Para PPB bisa secepatnya sadar ...