Rabu, 11 Maret 2009

Infotainment dan Sinetron = Hiburan (?)

Dua hal yang tidak asing di telinga penikmat televisi. Yang kini sedang marak, dengan berbagai judul, berbagai cerita, berbagai berita. Jika kita perhatikan acara televisi dari pagi hingga pagi lagi, berapa banyak judul infotainment dan sinetron? (ratusan, lebiiih..~iklan tango mode:ON) Banyak sekali bukan?
Tapi jika kita merefleksi kembali mengenai isi kedua acara ini dan dampaknya, adakah untungnya bagi kita?


Infotainment. Berasal dari kata “info” dan “entertainment”. Dapat diartikan menjadi “info yang menghibur” (ini arti dalam pemikiran saya saja). Isi dari acara ini adalah kehidupan para artis, baik yang fakta, yang masih simpang siur, maupun yang benar-benar tidak terjadi—tapi seolah-olah ada. Yang penting, penonton merasa terhibur karena mengetahui info-info “menarik” tentang artis pujaannya atau bahkan tentang artis yang dibencinya. Walaupun suatu berita seorang artis diulang-ulang oleh semua stasiun TV dalam waktu yang bersamaan atau berturut-turut, kadang penonton masih setia menanti beritanya. Salah seorang teman saya pernah menanggapi kabar tentang artis berinisial DP, “..gue seneng deh ngeliat DP di infotainment, ceritanya pasti adaaa aja yang aneh-aneh..”. Para artis pun memiliki tanggapan yang berbeda-beda saat digosipkan oleh infotainment. Ada yang dingin, panas, dan anget-anget kuku (apa sih??). Maksudnya, ada yang cuek dan yang langsung mendamprat sang pemburu berita.

Menurut saya, infotainment adalah ajang eksploitasi figur. Ini dapat mengakibatkan penonton berkiblat pada kehidupan artis yang diberitakan infotainment. Jika kehidupan mereka santun mungkin tidak ada masalah, namun jika yang ditiru penonton itu kehidupan gemerlap bin hedon, apa yang terjadi? Ada baiknya kita mulai mengurangi tontonan “berbahaya” ini.

Sinetron. Berbagai judul dengan rangkaian episode berjumlah ratusan (dan banyak yang tiba-tiba berakhir tanpa ending yang jelas). Dari yang judulnya sepanjang gerbong KRL sampai yang judulnya cuma satu kata.
Saya jadi ingat, waktu saya masih muda (baca: SD), sinetron biasanya hanya ada pada pukul 19.30 WIB. Ada beberapa sinetron yang menggunakan aktor/aktris yang sama namun karakternya berbeda-beda. Tidak banyak wajah asing kecuali figuran. Ceritanya juga tidak terlalu mudah ditebak (atau karena saya masih SD?). Coba lihat sekarang, setiap ada sinetron baru, pasti ada wajah baru muncul sebagai peran utama. Kadang ceritanya bukan hanya mudah ditebak, tapi juga memplagiat drama Korea, Taiwan, atau Jepang.
Ada beberapa alasan bagi saya untuk mengatakan bahwa sinetron adalah tontonan berbahaya.

Sekarang, bayangkan Anda sedang menonton sinetron. Tokoh utamanya seorang perempuan miskin yang cantik dan selalu jadi juara kelas, seorang laki-laki tampan nan kaya dan jago basket (entah kenapa olahraga ini jadi ikon “keren”), dan seorang perempuan cantik dan kaya tapi sombong. Mereka semua bersekolah di satu sekolah elit.

Yak, saya beri waktu tiga detik untuk membayangkan skenarionya.

Satu. Dua. Tiga. Waktu habis. Tapi saya yakin sudah ada yang tergambar dari pikiran Anda, yang mungkin tidak terlalu jauh dari pikiran saya :
“Si cantik miskin dan si tampan kaya saling jatuh cinta, namun terhalang oleh si cantik kaya, yang merupakan pacar/mantan pacar dari si tampan kaya. Si cantik kaya terus menjahili si cantik miskin, bahkan mengancam nasib akademis si cantik miskin, karena si cantik kaya adalah anak ketua yayasan sekolah. Si tampan kaya selalu melindungi si cantik miskin walaupun cinta mereka terhadang badai katrina dan angin bahorok...”
Saya miris jika melihat remaja dan ABG selalu digambarkan seperti dalam sinetron kebanyakan—haus cinta (baca: pacaran), pamer kekayaan, pergaulan bebas, keangkuhan remaja, dan kisah di sekolah yang tak pernah membahas urusan sekolah. Implikasinya, orang yang tidak benar-benar mengetahui keadaan anak sekolah zaman sekarang langsung menganggap remaja dan ABG adalah sampah masyarakat. Padahal, banyak anak sekolah yang masih mementingkan akademisnya dan berperilaku santun.

Lepas dari pelabelan negatif untuk remaja, ada banyak lagi pengaruh buruk sinetron. Tidak asing bagi kita, mendengar pemalsuan atau penyuapan suatu institusi masyarakat dalam bumbu cerita sinetron. Ini dapat mengakibatkan terbentuknya opini publik mengenai institusi di Indonesia yang dianggap telah amat bobrok. Selain itu, perlakuan yang kurang pantas untuk ditampilkan di depan umum—misalnya tampar-tamparan, mabuk-mabukan, hamil di luar nikah, dan rencana jahat pembunuhan—masih banyak terlihat dalam sinetron kita.


Bukan berarti tulisan ini tertuju untuk seluruh jagat industri pertelevisian dan media. Saya yakin masih ada tayangan yang bertujuan mulia dengan komponen cerita yang baik pula. Namun, bisa dibilang sangat sedikit yang menjunjung tinggi moralitas, baik dari segi tujuan maupun penyampaian (mungkin ada acara yang sebenarnya bertujuan baik, tapi pesan yang diterima penonton malah sebaliknya).
Saya harap kita dapat selektif dalam memilih tontonan dan mampu bersikap kritis ketika menonton. Minimal lakukan itu saja, sebelum kita dapat benar-benar terjun ke dunia media massa dan mampu membuat tontonan yang bermanfaat namun menghibur.
Akhir kata, jika kita telah terjebak dalam zona kenikmatan menonton acara tersebut, akan sulit mengurangi kebiasaan itu—percayalah.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurkahai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. 66 : 6)

2 komentar:

Muhamad Fajar mengatakan...

Mungkin kini para orang tua tidak lagi menyadari meracuni otak anak - anaknya melalui tayangan televisi yang mayoritas tidak mendidik.

~ Apakah itu berarti orang tuanya pun waktu kecil jg tidak terdidik dengan baik?

Tanya Kenapa? - Iklan rokok pun jauh lebih kreatif ketimbang sinetron =p

[niken] mengatakan...

@ Muhamad Fajar :
jgn bawa2 orangtua saya dooong... (lho?)

postingan saya ini nggak nyalahin orangtua kok, kak..
korban acara seperti yg disebutkan di postingan ini kan gak hanya anak2.
jadi, ini buat wacana bwt semua umur aja.

okeh.
lagi gak nyalahin orangtua kok. knapa jadi ngomongin orangtua?
apa krn kk ingin segera menjadi orangtua?

wahahahahahaa :P

(maap lg stres H-2 UTS >_<)