
Sabtu, 17 Januari 2009 pukul 16.00 WIB, saya menonton film berjudul “Perempuan Berkalung Sorban” di bioskop. Saya kira penontonnya akan sedikit dan kebanyakan orang-orang tua, ternyata tidak! Nyaris penuh dan kebanyakan pasangan remaja. Saya baru ingat, saat itu memang menjelang malam minggu. Pertama masuk, saya perhatikan sekeliling bioskop. Wew, banyak pasangan “mojok”! Heran, sebenarnya apa yang mereka harapkan dengan posisi duduk seperti itu, padahal film ini kan film religi bin islami?
Sudahlah, apapun yang mereka lakukan, yang penting saya bisa menonton dengan tenang. Dan bukan itu yang mau saya bahas.
Sudahlah, apapun yang mereka lakukan, yang penting saya bisa menonton dengan tenang. Dan bukan itu yang mau saya bahas.
Yang akan saya bahas adalah mengenai filmnya.
Mau tahu sinopsisnya? Silakan klik di sini.
Mau nonton filmnya? Silakan ke bioskop atau cari DVD-nya.
Mau dibayarin? Silakan minta uang sama papah, mamah lagi sibuk masak.
Film “Perempuan Berkalung Sorban” ini membuat saya SANGAT terkesan.
Mulai dari aktor-aktrisnya, ceritanya (yang ternyata diangkat dari novel Woman with A Turban karya Abidah El Khalieqy), dan latar-latarnya (sampai hal-hal terkecil, misalnya kalender 1992, koran lama, dll... wuah keren!!! *tapi emang seharusnya kayak gitu sih*).
Dari awal, emosi penonton sudah dibangun dengan adegan masa kecil Anissa (gak tau Anissa?? Baca sinopsisnya!) yang terdidik dalam ajaran “perempuan dianggap sangat lemah”. Kurang lebih seperti itu. Saya yakin, penonton terbawa suasana benci terhadap dedengkot pesantren nan kolot itu. Di zaman sekarang, tentu tidak banyak yang setuju perempuan menjadi kaum yang direndahkan, tidak patut mendapat hak bicara, dan lain-lain.
Ada dialog dari.. aduh lupa, kurang lebih begini : “Dengan taat, perempuan sudah mendapat pahala, jadi tidak perlu berpendapat!”. Kalau begitu, apa perempuan tidak boleh punya kreativitas?!
Semakin menuju klimaks, rasa benci, rasa muak, rasa dongkol, rasa coklat, rasa stroberi.... semuanya tercampur di benak penonton, bukan hanya kepada dedengkot pesantren, tapi juga Sam, Khalsum, dan tokoh lainnya yang bikin penonton pengen cincang satu siung bawang merah jadi 479 bagian (saking gregetannya). Belum lagi adegan-adegan sedih yang bikin penonton pengen nimba di sumur sedalam 200 meter (iya, emang gak ada hubungannya). Namun, sedikit demi sedikit Anissa sudah mampu merubah kekolotan pesantren itu.
Tadinya saya pikir Anissa adalah tokoh yang selalu menggunakan kalung sorban sepanjang film, ternyata tidak. Lalu, apa relevansi cerita dengan judulnya? Menurut saya, “sorban” yang dimaksud adalah ajaran dalam pesantren itu yang mengekang kebebasan Anissa. Tampak di akhir cerita, Anissa menunggang kuda bersama anaknya, lalu melepas dan menghempaskan sorbannya ke tanah, sebagai perumpamaan kebebasannya.
Perempuan memang berbeda dari lelaki. Itu sudah kodrat. Tapi, bukan berarti perempuan selamanya berlindung di bawah kuasa lelaki. Bukan berarti juga perempuan tidak membutuhkan lelaki. Masalah yang sebenarnya adalah bagaimana perempuan mendapat hak sama dengan lelaki, namun tetap dapat menjaga harga dirinya sebagai perempuan. Perempuan dapat menjadi apapun dan siapapun, asalkan tetap berada di jalan Allah SWT.
Dua jempol buat Hanung Bramantyo di film ini!
“Hai Manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. 49:13)
10 komentar:
mm...
benar saudariku...
tapi Islam tidak pernah mengajarkan untuk mengekang wanita. justru Islam adalah satu-satunya agama yang sangat memuliakan wanita dibandingkan lelaki.
Saya malah merasa film itu terlalu mendramatisir keadaan, dan mendukung "emansipasi wanita" yg dikoar-koarkan bangsa barat.
apalagi latarnya diambil pesantren, jelas-jelas menyudutkan pesantren yang notabene pusat pembinaan keagamaan.
Dan tidak ada satupun pesantren yang keluar dari Al Qur'an dan Sunnah. Dan pesantren tidak akan mungkin mengajarkan hal yang diceritakan dalam film itu.
Berhati-hatilah, semakin banyak film, sinetron yang "numpang" label Islaminya untuk tujuan diluar Islami.
Saya rasa ukhti tentu ingat satu hadits yang sangat memuliakan wanita, dimana kalai itu salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam, "Siapa orang yang harus aku hormati", Rasul menjawab, "ibumu", kemudian sahabat bertanya lagi,"lalu siapa ya Rasul", Rasul menjawab,"Ibumu", sahabat bertanya lagi, "siapa lagi ya Rasul", Rasul menengaskan, "Ibumu", kemudian sahabat bertanya lagi, "siapa lagi ya Rasul", Rasul menjawab, "Ayahmu, baru kemudian yang terdekat dari yang dekat"
Disini ibu disebut sebanyak 3 kali...
ana sudah memposting mengenai keutamaan2 wanita di blog ana
http://medan-dakwah.blogspot.com/2009/01/fadhilah-keutamaan-wanita-dalam-islam.html
ana hanya ingin menegaskan bahwa Islam tidak pernah memberikan ajaran untuk mengekang dan membatasi ruang gerak wanita.
jadi hati-hati dengan film, sinetron, semua hal yang "numpang" label ISLAMI aja, tetapi isinya justru menyudutkan ISLAM.
kita sebagai hambaNYA harus memperjuangkan yang hak dan memerangi yang bathil...
'afwan kepanjangan....
kalau ada salah kata, tentu berasal dari saya, karena kebenaran hakiki hanya dimiliki Allah Yang Maha Benar dan Maha Tahu...
aku sendiri emang belum nonton juga ken
jadi ga bisa berpendapat banyak,,, cuma emang setiap film yang kita tonton harus di kaji ulang juga..apalagi kalo tentang muslim...udah nonton 3 doa 3 cinta belom? aku malah bingung banget nonton tuh film :D
ntar deh kalo aku udah nonton perempuan berkalung sorban kapan2 ku kasih comment lagi,,insya ALLAH :D
Mudah2an semakin banyak film yang benar-benar bernuansa islami, bukan yang "bernuansa islami", di tengah zaman yang "aneh" ini :D
@ Amar :
Iya, saya juga tidak merasa Islam tidak adil kpd perempuan.
Ayat yang saya lampirkan itu, menunjukkan bahwa yg membedakan manusia di hadapan Allah itu takwanya, bukan jenis kelaminnya.
Trimakasih atas tambahannya.
@ aisha_putri :
Aq malah ga nonton 3 doa 3 cinta tuh, chan...
Padahal penasaran juga T_T
@ Muhamad Fajar :
Amiin. Di tipi-tipi lg banyak sinetron yg "kyk gt" ya kak. Bilangnya islami, tapi ada tiang dikit langsung nari dan joget (eh bener gak sih? apa itu laen sinetron?). Hehehe...
wah, bagus ya ken.. jadi pengen nonton. gw malah kemaren nontonnya 3 doa 3 cinta, tapi entah karena filmnya sangat berat atau ceritanya yang gak fokus atau emang gw yang gak konsen nontonnya.. jadi kurang bagus gitu dan pesannya kurang bisa kena buat penonton yang awam kayak gw..
hohohoho jangan ken
jangan,,,mendingan jangan nonton yang itu deh,,the worst islamic film,,so far sih,,,padahal ada si nicholas,,tapi kokkkk
kapan2 aku review deh :P
@ achie :
jadi bersyukur ga nonton itu :P
@ aisha_putri :
ditunggu review-nya lho!
nonton lagi yuk ken..aku belum nonton soalnya,,haha
@ dini :
yaela din,, masalah nonton sih ayuk aja, tapi dana-nya yg nyusahin...
視訊做愛,免費視訊,伊莉討論區,sogo論壇,台灣論壇,plus論壇,維克斯論壇,情色論壇,性感影片,正妹,走光,色遊戲,情色自拍,kk俱樂部,好玩遊戲,免費遊戲,貼圖區,好玩遊戲區,中部人聊天室,情色視訊聊天室,聊天室ut,成人遊戲,免費成人影片,成人光碟,情色遊戲,情色a片,情色網,性愛自拍,美女寫真,亂倫,戀愛ING,免費視訊聊天,視訊聊天,成人短片,美女交友,美女遊戲,18禁,三級片,自拍,後宮電影院,85cc,免費影片,線上遊戲,色情遊戲,日本a片,美女,成人圖片區,avdvd,色情遊戲,情色貼圖,女優,偷拍,情色視訊,愛情小說,85cc成人片,成人貼圖站,成人論壇,080聊天室,色情
Poskan Komentar