Ada yang tidak tahu Teater Koma? Tak apa, wajar kok. Sini sini, biar saya kasitau.
Itu lho, teater terbesar dan terproduktif di Indonesia. Pendirinya Nano Riantiarno. Tiap awal tahun, Teater Koma mengadakan pementasan teater (yaiyalah masa’ mentasin demo masak). Persiapannya 3 bulan, pementasannya diadakan selama 2 minggu berturut-turut, dan tiket per hari selalu habis atau hampir habis.
Itu saja pembukaan tentang Teater Koma, selengkapnya baca di sini.
Nah, tahun ini saya menonton pementasannya (lagi). Tahun ini judul pementasannya “Republik Petruk”.
Ih, pasti ngebosenin ya wayang-wayang gitu...
SIAPA BILANG???
Oom Nano (biar lebih akrab, hehe) selalu bisa mengemas pertunjukannya jadi menarik untuk berbagai kalangan.
Remaja dan anak-anak pasti bisa mengikuti alur ceritanya, bahkan saya yakin akan tertawa.
Yap, Teater Koma memang beda. Ini bukan drama absurd yang berat untuk dipahami. Tapi juga bukan cerita yang sangat realis hingga menyerupai sinetron. Pertunjukan yang menarik, mudah dimengerti, lucu, namun tidak kehilangan ke-teater-annya. Satu lagi khas Teater koma : SATIRE. Selalu ada sindiran, terutama mengenai pemerintahan Indonesia. Apalagi dalam lakon kali ini.
Sekilas saja saya beri gambaran tentang ceritanya. Dalam pemerintahan Raja Petruk Belgeduwelbeh Tongtongsot, Negeri Lojitengara “seolah-olah” makmur. Kenapa seolah-olah? Ini karena ia menetapkan sistem demokrasi SBY (Serba Boleh Yee), dimana semua orang boleh melakukan apa pun, namun jika mengganggu/ketahuan akan dijatuhi hukuman. Demokrasi semacam itu membuat pembangunan jadi tidak teratur, dan dana pembangunan itu didapatkan dari pinjaman negeri lain. Karena semua yang dimiliki Lojitengara adalah pinjaman, ketika negeri yang memberi pinjaman tersebut mengambil lagi miliknya, Lojitengara hanya bisa diam, dan akhirnya runtuh.
Pementasan ini berlangsung selama empat jam, dari 19.30 hingga 23.30. Tapi tidak membosankan. Kostum dan make-up yang mereka gunakan bergaya Harajuku. Musiknya juga lebih nge-pop, bahkan ada rap. Bahasa yang digunakan seperti yang biasa diucapkan sehari-hari, ada juga yang menyindir ke-ABG-an.
Kalau masalah aktor-aktris, wah jangan ditanya. Sudah jaminan mutu.
Apalagi Budi Ros (pemeran Petruk), dalam 2 kali pementasan Teater Koma yang saya tonton, beliau jadi peran utama yang karakternya jauuuuh berbeda. Tapi keduanya bisa ia mainkan dengan nyaris sempurna.
Oya, kali ini Nano Riantiarno tidak ikut main. Tapi tetap jadi sutradara tentunya. Kalau bukan beliau sutradaranya, mana mungkin bisa sebagus ini ^_^v
Cornelia Agatha, menurut saya, lebih baik dalam pementasan kali ini dibanding tahun lalu (dalam “Kenapa Leonardo?”). Suaranya bagus lho.
Kalau Rangga Riantiarno, tahun lalu hanya menjadi tokoh yang tidak lama ada di panggung, tapi sekarang ia menjadi tokoh sentral. Tapi sayang, kali ini ia tidak setampan waktu tahun lalu. Hehee.
Tiketnya susah didapat lho. Ini pengalaman saya, yang memesan tiket di hari H. Waktu pertama saya telepon CP-nya, tiket Rp 100.000 habis, Rp 75.000 tinggal 2, Rp 50.000 tinggal 2, dan balkon (Rp 30.000) masih cukup banyak. Karena saya mau beli untuk tiga orang, jadi masih bingung. Saya akhiri teleponnya, lalu bertanya pada para pemilik saham keluarga (orangtua saya). Lalu saya disuruh pesan 2 tiket Rp 50.000 dan 1 tiket Rp 75.000. Saya telepon untuk kedua kalinya, eh yang Rp 50.000 sudah habis!! Waa, padahal hanya jeda sekitar 5 menit saja. Tapi masih untung, karena dapat tiket.
Di lokasi (TIM-gedung GBB), banyak yang masih mengantri untuk dapat tiket. Sekali lagi, kami beruntung sudah memesan lewat telepon! Untung juga, kami datang tidak terlambat (seperti tahun lalu, hiks). Sempat keliling TIM. Eh, orangtua saya malah nostalgia jaman mereka pacaran di sana -_-
Waktu pementasan di dalam GBB, di tangga-tangga yang harusnya untuk jalan, banyak yang duduk di sana untuk menonton. Agak heran, yang seperti itu bayar tiket berapa ya?
Yang pasti ini tidak akan terjadi kalau bukan pertunjukan yang bagus dan menarik. Tidak terjadi kalau bukan Teater Koma. Tidak terjadi kalau bukan garapan Nano Riantiarno. Tidak terjadi kalau bukan karena aktor-aktrisnya yang berperan dengan super duper kereeen!!!
Kali ini pelatih teater saya (Kak Adri, pelatih Teater Langit) tidak ikut main, tapi tetap membantu produksinya sebagai Blackman. Walau hanya Blackman, tapi tetap menghibur dan butuh latihan lho. Kak Adri jadi Blackman pertama yang muncul di pertunjukan, dari gayanya bisa ketebak kalau itu dia! Sampai bikin orang-orang ketawa, padahal cuma meletakkan mic. Rasanya pengen teriak, “Itu pelatih teater saya lhoooo...”. Hoho.
Teater Koma, teater yang tak pernah mencapai titik penghabisan.
Teater Koma memang beda.
Entah kenapa, saya belum tertarik untuk ikut teater lagi.
Mungkin... karena Teater Langit juga berbeda. Saya masih takut untuk mendapat cara ajaran teater selain yang sudah saya dapat di Teater Langit.
Jadi kangen latihan dan main di TL :(
Rabu, 28 Januari 2009
Teater Koma : Republik Petruk
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
2 komentar:
Hua.... mau nonton teater-teater kayak gitu !!!!
@ qavad :
sabar vad, sabar!
tiap tahun ada kok.
ntar dikasitau deh klo TeKom main lagi...
Poskan Komentar