Di dunia ini, pasti ada satu, dua, atau beberapa orang yang kita percayai untuk menampung cerita-cerita dalam hidup kita. Ketika kita berkenalan dengan orang baru atau ketika kita berbicara dengan orang yang tidak terlalu mengenal kita, mungkinkah begitu saja menceritakan kejadian yang menyangkut privasi kita?
Jawabannya mungkin saja iya.
Kadang sebagai manusia, ia ingin disenangi oleh semua orang, dan sampai pada taraf ‘supel’. Dengan alasan itu, ia mencoba untuk berbaur dan berakrab-akrab ria dengan semua orang--- hingga secara sadar atau tidak, ia menceritakan hal-hal dalam hidupnya, yang mungkin cenderung privasi, padahal orang itu tidak mengenalnya lebih dalam.
Bahkan, terkadang alasan manusia untuk bercerita adalah untuk dianggap lebih tinggi atau sama dengan level sosial orang yang diajak bicara.
Hal ini saya angkat dalam tulisan kali ini, terinspirasi dari apa yang saya lihat dan alami sehari-hari, yang dipandang dari perspektif subjektif saya. Objek yang dibicarakan pada kisah berikut adalah dari kaum wanita.
Saya sering memperhatikan orang-orang yang tidak saling mengenal lebih dalam satu sama lain (hanya sekedar kenal). Namun, ketika mereka duduk berdekatan, mereka membicarakan tentang apa yang terjadi dalam hidup mereka, yang menurut saya itu adalah privasi. Bahkan, yang dibicarakan adalah hal-hal hedon yang saya sendiri risih mendengarnya. Fashion, makanan mahal, tongkrongan mahal, saling membanding-bandingkan pacar mereka, apa yang mereka lakukan dengan pacar mereka, masalah keluarga (yang bagi saya tidak etis dibicarakan kepada sembarang orang), hingga saling ‘menyombongkan’ pekerjaan orang tuanya (diberi tanda kutip karena ada kemungkinan mereka tidak bermaksud seperti itu--- walaupun kemungkinan besar itu benar).
Mungkin memang tidak ada ruginya bagi mereka.
Tetapi hal itu menimbulkan satu pertanyaan pada benak saya, “Apakah selektivitas topik sulit dilakukan apabila orang telah larut dalam pembicaraan?”.
Saya pernah sedikit tergelitik oleh pertanyaan teman saya, “Kenapa sih lo gak pernah ngasitau lo suka ma siapa? Emang suka sama orang itu dosa ya?”. Pertanyaan itu hanya saya tanggapi dengan senyuman saja, lalu saya mengalihkan pembicaraan.
Hal itu saya lakukan, bukan karena saya tidak ingin terbongkar rahasianya.
Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang mendasari ‘aksi tutup mulut’ saya itu.
1. “Apakah pergaulan remaja hanya menyangkut dan diukur dari hal-hal seperti itu?”
2. “Jika menceritakan segala hal kepada orang yang belum lama dikenal, lalu apa makna sahabat sejati? Apa bedanya sahabat dengan orang biasa di lingkungan kita?”
3. “Apakah ada makna ‘orang spesial dalam hidup’ atau ‘orang kepercayaan’ apabila semua orang dianggap dapat menampung segala cerita hidup kita?”
Setiap manusia punya hak untuk menjaga privasinya masing-masing, namun tidak semua orang menggunakan hak itu, mungkin dengan alasan baik : agar dapat menciptakan suasana harmonis dan akrab antarteman.
Tapi ada hal yang dapat menjadi perenungan : “Apakah yang kita bicarakan selalu dapat menyenangkan orang lain? Apakah orang lain tidak pernah risih mendengarkan hal yang begitu privasi? Mungkinkah pendengar kita tidak punya rasa tersinggung atau minder saat kita membicarakan hal-hal yang ‘berkelas sosial tinggi’?”
Tulisan ini bukan untuk menjatuhkan suatu pihak, hanya sebagai sarana aspirasi saya mengenai pergaulan remaja jaman sekarang. Topik ini mungkin sepele, tapi bagi saya hal ini penting untuk jadi bahan renungan, bahwa masalah remaja tidak melulu mengenai pergaulan bebas, namun juga dapat kita temui setiap saat, yaitu mengenai selektivitas pembicaraan.
Tidak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan saya dan tulisan saya.
Mohon maaf jika ada kata yang menyinggung, sekali lagi ini hanya sebagai bahan renungan, khususnya untuk remaja dan terutama bagi diri saya sendiri.Jika ada komentar dan kritik dari Anda, saya terima dengan senang hati ^_^
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS 31: 18)
Minggu, 07 Desember 2008
Selektivitas Pembicaraan dalam Pergaulan Remaja
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar