Kamis, 21 Januari 2010

Takut Sama Kata "Haram"?


Belakangan ini, sedang ribut dibahas mengenai pengharaman rebonding dan foto pre-wedding oleh MUI. Para pengguna, dan terutama penyedia jasa ini seperti kebakaran jenggot mendengarnya. Pantas saja penyedia jasa tidak menyetujuinya, karena "periuk nasi"-nya diisi oleh penggunaan jasa ini (salon atau studio foto). Pengguna jasa ini juga pantas protes, karena merasa ekspresi kreativitasnya dibatasi. Tapi mirisnya, tanggapan kontra ini banyak disampaikan dengan cara yang sarkastik binti sinistik. Terutama media penyampaian dunia maya yang dengan bebasnya orang menghujat MUI dengan kata-kata "ada-ada saja", "aneh", "iseng", bahkan "tol*l", dan banyak lagi yang tidak sanggup saya sebutkan meskipun bisa diberi tanda (*).
Tanggapan tidak setuju yang terkadang 'kotor' ini, pantaskah diucapkan oleh seorang muslim?


Menurut sumber, pengharaman rebonding dilakukan, karena memodifikasi rambut dianggap mengandung unsur tasyabbuh bil fussaq atau menyerupai orang-orang fasik. Selain rebonding, forum itu (MUI-red) juga mengharamkan modifikasi rambut dengan gaya punk dan rasta. Sedangkan foto pra nikah atau pre-wedding diharamkan mendekatkan pria dan wanita yang bukan muhrim. "Bagi calon mempelai, hukumnya haram jika terdapat ikhtilat (percampuran laki-laki dan perempuan), kholwat(berduaan) dan kasyful aurat (membuka aurat),"kata putusan tersebut.
Nah lho.
Jika dipikir ulang, apa yang diusahakan oleh MUI ini sebenarnya tidak lain tidak bukan hanya bertujuan menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Menyeru pada kebaikan, menjauhi hal yang buruk.

Tapi kan Indonesia tidak hanya mengakui agama Islam??
Oke. Tapi menurut Guiness Book of Record, Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia sekitar 216 juta jiwa atau 88% dari penduduk Indonesia. Juga memiliki jumlah masjid terbanyak dan negara asal jamaah haji terbesar di dunia.
Hayoo, gak malu sama data Guiness Book of Record?
Saya rasa, MUI hanya ingin mengarahkan kita menjadi insan yang berakhlak mulia dan khususnya bagi muslim, agar muslim Indonesia menjalankan syari'at Islam dengan benar.

Tapi kan bisa membatasi kreativitas orang lain?? Bisa merugikan orang lain (penyedia jasa)??
Tunggu tunggu. Nyantai coy. Sudah tahu info lengkap tentang berita pengharaman ini? Terakhir saya dengar, sebenarnya rebonding dan foto pre-wedding tidak haram asal sesuai dengan batas-batas tertentu. Bahkan orang dari MUI (maaf saya lupa namanya), di acara "Apa Kabar Indonesia Pagi" TVOne tanggal 20 Januari 2010, menyarankan lebih baik menggunakan kalimat "halal namun dalam batas tertentu". Saya setuju dengan hal itu, jadi tidak terdengar sebagai hal yang menakutkan.
Batasnya apa? Sepengetahuan saya, untuk rebonding, diperbolehkan untuk wanita yang sudah menikah. Hm, masih kontroversial mungkin. Tapi bagaimana kalau kita berpikir positif seperti ini: kalau rambut wanita sudah indah dan dapat "dinikmati" oleh setiap mata yang memandangnya, akan timbul kekhawatiran terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya pelecehan. Maka, ada baiknya kita menghindarinya.
Nah, sepertinya ada aktor yang perlu diberi perhatian juga dalam masalah ini: Iklan shampoo. Lagian siapa suruh iklan shampoo sering menampilkan rambut yang indah itu sama dengan rambut lurus?? Ini kan jadi mindset yang agak kurang berfaedah bagi setiap insan yang menontonnya. Karena menurut saya, tak selamanya mendung itu kelabu, tak selamanya rambut tidak lurus itu tidak indah, dan tak selamanya jilbab mengurangi keindahan wanita :D

Dan untuk foto pre-wedding, sependengaran saya, boleh asal pakaiannya menutup aurat, tidak transparan, dan tidak ketat. Juga, calon mempelai tidak boleh saling bersentuhan. Saya yakin fotografer profesional mampu mengarahkan gaya yang sesuai dengan batas ini, maka tidak usah takut kehabisan isi "periuk nasi".

Oke, sampai di sini mungkin Anda akan menganggap saya sebagai antek MUI.
Bukan, bukan. Tenang saja. Saya masih mahasiswa dan tidak punya hubungan darah dengan orang MUI.
Saya rasa MUI juga seharusnya dapat menyampaikan hal itu dengan lebih lembut. Bukan langsung dengan kata "haram" yang seolah-olah menjadi 'ketidakbolehan mutlak' yang mengancam dan menakutkan. Padahal, pada kenyataannya ada 'kebolehan dalam batas tertentu' yang bisa disebut "halal asalkan...".
Maka menurut saya, jika MUI ingin membahas haram-mengharam ini lagi, sebaiknya tidak menggunakan pola deduktif (umum ke khusus) lagi. Selama ini saya merasa isu pengharaman itu urutannya seperti ini: ada kabar pengharaman dari MUI dengan penyampaian "xyz itu haram", kemudian kontroversial, kemudian baru ada pembahasan yang lebih 'bijaksana'.
Mungkin bisa dicoba dengan pola induktif (khusus ke umum), dimana masalah dibahas terlebih dahulu, mengenai baik-buruk dan dampaknya, dibahas dalam forum yang dapat melibatkan masyarakat luas (tidak tertutup MUI saja), kemudian baru diputuskan mengenai 'boleh atau tidaknya'.

Sedikit (tapi agak panjang :p) dari kisah hidup saya pribadi tentang rebonding ini.
Sejujurnya saya juga pernah melakukan pelurusan rambut meski bukan rebonding (smoothing). Itu dulu, saat saya masih di jaman 'jahil', alias masih belum pakai jilbab, alias di masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah :p
Mau tau alasannya? Iseng. Ampun deh. Sebelumnya, saya tidak pernah terpikir untuk meluruskan rambut. Malah saya sering berpikir bahwa rambut yang diluruskan dengan cara itu terlihat aneh dan jadi tidak seindah biasa.
Alasannya karena saya ingin mengubah sedikit penampilan. Akhirnya dalam waktu beberapa hari, saya putuskan untuk coba smoothing. Dan benar saja, saya malah agak menyesal waktu itu, bukan hanya tidak cocok (karena terlalu lurus), tapi juga karena biayanya yang agak lumayan kalau untuk makan 50 mangkok bakso. Huft, dasar jaman 'jahil'.
Tapi biar saya simpan saja penyesalan itu di dalam peti, yang lalu biarlah berlalu. Yang penting alhamdulillah saya sudah pakai jilbab, jadi orang tidak perlu tahu apa yang saya lakukan dengan rambut saya (kesannya ada penyiksaan terhadap rambut :p).

Dan semenjak saya pakai jilbab, saya tidak mungkin ke salon umum yang biasa saya datangi (beuh ketauan sering nyalon -_-), maka saya ke salon muslimah. Saya baru sadar kalau di salon muslimah memang tidak ada jasa pelurusan rambut atau pengeritingan rambut. Tapi salon tersebut sangat laku binti ramai kok. Kan masih ada puluhan jasa lain yang bisa kita nikmati di salon.
Karena itulah, menurut saya, penyedia jasa rebonding alias salon tidak usah terlalu risau dengan keputusan MUI. Setahu saya belum ada "salon khusus rebonding" kan? Setiap salon pasti ada banyak hal yang bisa mereka tangani dan memang dibutuhkan masyarakat. Sekali lagi, ke salon tidak hanya untuk rebonding kan, Saudariku tercinta?

Konklusinya, Saudara/Saudari tidak usah terlalu takut dengan kata 'haram' yang dikeluarkan MUI, apalagi menentang dengan hujatan kasar. Semua ada batas boleh-tidaknya dan semua ada manfaatnya. Aturan dibuat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, bukan?
Nah, sebaliknya, dengan segala rasa hormat, saya sampaikan bahwa pihak MUI juga mestinya lebih lembut lagi dalam penyampaian. Bedah dulu masalahnya supaya jelas, baru beri pernyataan akhir.

Jayalah Terus Indonesiaku !

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik" (Q.S. 3: 110)
[Selengkapnya...]

Minggu, 27 Desember 2009

Mimpi Buruk

Dia yang setiap hari menggerayangi pikiranku.
Dia yang hampir setiap hari mengganggu tidur malamku.
Dia yang tidak peduli dengan maag dan migrain-ku.
Dia yang membuatku hidup tak tenang.
Dialah mimpi burukku.
Dia......
TUGAS-TUGAS DI SEMESTER TIGA !

Baik. Duduk manis, dan dengarkan curhatku.



Tugas akhir memang diberikan 4 minggu atau 3 minggu atau 2 minggu sebelum dikumpulkan (atau mungkin 2 bulan? "agak" jarang sepertinya).
Biasanya dikumpulkan pada saat Ujian Akhir Semester berlangsung.

Tapi lihatlah perjalanan panjang ini:
Dosen A matkul 1 memberikan tugas untuk minggu depan.
Dosen B matkul 2 memberikan tugas untuk minggu depan.
Dosen C/D matkul 3 memberikan tugas untuk minggu depan.
Dosen E matkul 4 memberikan tugas untuk minggu depan.
Dosen F matkul 5 memberikan tugas untuk minggu depan.
Dosen G matkul 6 memberikan tugas untuk minggu depan.
Dosen H matkul 7 memberikan tugas untuk minggu depan.
Dosen I matkul 8 memberikan tugas untuk minggu depan.

Berlangsung seperti itu, hingga mendekati akhir semester *_*
Jadi bagaimana saya tidak menjadi seorang deadliner?????

Oke, LEBAY.
Jika keadaannya sedikit saya perhalus lagi, misalnya ada 3 atau lebih dosen yang tidak memberikan tugas untuk minggu depan.
Tapi ada kuis suatu matkul yang menyita perhatian.
Ya, ada sesuatu yang lebih mengalihkan perhatian, ketimbang deretan tugas-tugas lain.
Belum lagi ditambah amanah organisasi.

Lalu, menjelang Ujian Akhir Semester.
Tugas akhir menumpuk. Bahkan, matkul 3 yang dosennya ada 2 (C dan D), memberikan tugas akhir yang berbeda (alias ada dua tugas akhir untuk satu matkul).
Materi UAS juga menumpuk, belum lagi "nombokkin" materi yang sama sekali tidak dimengerti walaupun sudah dijelaskan di perkuliahan.
Atau "nombokkin" materi yang memang belum pernah diterangkan di perkuliahan, tapi disinyalir akan keluar sebagai materi UAS.

Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menghadapi hal itu?
Pakailah pelampung, baju penyelam, sepatu katak, tabung oksigen, lalu terjun ke Samudera Atlantik.
-_-

Saat itu memang saat paling kritis dari saat yang selalu saja kritis di semester tiga.
Setidaknya, bagi saya.
Bagi saya yang terlampau bodoh mengatur waktu.
Bagi saya yang sempat tidak percaya bahwa di dunia ini ada manajemen waktu bagi mahasiswa 24 SKS.

Sekarang, semua sudah selesai.
Ya, selesai, dan semua terselesaikan.
Tapi hasilnya? Jangan ditanya. Berpikir untuk membayangkannya saja tidak sanggup.
~emang belum keluar sih

Semua "mimpi buruk" itu sudah tersapu derasnya aliran arung jeram.
Sudah terbawa oleh lajunya wahana halilintar.
Sudah terputar oleh pusingnya wahana ombang-ombang, rajawali, dan burung tempur.
Sudah di"pijat-refleksi" oleh kursi di simulator 4 dimensi.
Dan sudah diayun oleh para kuda di turangga-rangga.

MERDEKAAAAAAAAAAA !

Nightmare is going.
Holiday is coming.
19th is waiting.
~halah

Happy holiday, happy anniversary for my mom and my dad !
:)

*curahan hati seorang depresi akibat semester tiga, maaf lahir batin jika membaca ini membuang waktu Anda*


"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (Q.S. 94:6)

[Selengkapnya...]

Jumat, 27 November 2009

Menjembatani Semangat



Sudah tonton video di atas?
Kalau belum silakan ditonton dulu.
Kalau sudah silakan lanjut membaca.
Kalau tidak mau lanjutkan baca, silakan tutup halaman ini -_-'

Jika sebelumnya postingan saya menunjukkan keterpurukan dan kesedihan, postingan kali ini akan menjembatani saya untuk mulai kembali menulis dengan semangat 2009/2010.

Nick Vujicic, orang yang jadi "tokoh utama" dalam video di atas itu nyata ada.
Tanpa tangan, tanpa kaki, tapi dengan berbagai kemampuan dan keinginan.
LUAR BIASA !

Bagaimana dengan Nick-en Puspitaningrum?? (halah, nick-en?)
Betapa tidak pantasnya dia tenggelam dalam keterpurukan dan terus meratapinya, sementara di luar sana masih banyak yang lebih kuat untuk berjuang dalam menghadapi hidupnya yang lebih berat.

Nick Vujicic: "If I fail, I try again, and again, and again."
If you fail, are you going to try again?

Malu.
Beneran, saya malu.
Buat apa terpuruk?
Bahkan saya belum cukup haul (jiah emang mau zakat) untuk disebut gagal.
Hanya baru melewati kerikil-kerikil dalam perjalanan menuju "finish".
Are you going to finish strong?

Jadi, untuk menuju kesuksesan itu...
Let's thankful for what we have, not bitter for what we don't have!

Ok, saya sudahi saja postingan bernuansa cinta laura ini--sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam postingan saya.
Yang penting, semangaaaat!

The human spirit can handle much more than we can realize!
(wah Niken Laura Kiehl dateng lagi)


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Q.S 2:214)
[Selengkapnya...]

Sabtu, 14 November 2009

Aku dan Mereka (Setengah Fiksi)


Ini hanya setetes peluh dari selangkah perjalanan.
Baru satu titik yang ku torehkan, dan masih harus ku tarik hingga menjadi garis tak berujung.
Namun peluh ini menggangguku, menghalangiku dengan terlalu.
Angin ini pula yang telah padamkan kobar api semangat yang dulu tersulut besar.

Aku masih ingat cemooh mereka yang dulu tak pernah menjadi urusanku.
Aku juga masih ingat tawa mereka saat susahku.
Ah... itu juga bukan urusanku, dulu.
Sebelum aku sendiri yang mendatangkan geram itu.

Mereka tak berubah, akulah yang berubah.
Mereka tetap saja merendahkanku, dari dulu.
Dan aku semakin marah.

Namun semakin ku rasakan amarahku, semakin lemah jiwaku.
Apa yang telah aku lakukan untuk membela diriku?
Tidak ada.
Hanya mengeluh.
Itu pun dalam hati.
Amarah itu meledak, hanya dalam hati, dan hanya aku yang merasakan sakitnya.

Bagaimana tidak, jiwaku semakin lemah sementara tak ada satu pun yang mampu dan mau menguatkannya.

Aku benci dengan keyakinanku saat aku bilang semua ini dapat ku atasi.
Aku benci dengan kesombonganku saat aku percaya bahwa aku bisa bertahan tanpa dukungan orang-orang itu.

Ya, kini hanya ada "aku" dan "mereka".
Sebuah dikotomi yang tak akan pernah menjadi "kami".

"...sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Q.S. 2: 153)

niken ©

[Selengkapnya...]

Selasa, 08 September 2009

Keguncangan


Rabu, 2 September 2009.
Siang itu sekitar pukul 14.30-15.00 WIB, suasana kelas seperti biasanya. Dosen menjelaskan Satuan Acara Perkuliahan. Beberapa mahasiswa mendengarkannya dengan seksama. Sebagian besar mahasiswa yang lain, dengan berat hati, mulai dilanda kantuk yang teramat sangat, dan mungkin sudah ada yang terbang bersama mimpinya. Saya, sebagai mahasiswa yang termasuk dalam “sebagian besar mahasiswa yang lain”, berusaha melawan kantuk dengan menulis puluhan kata “niken” dan menggambar sesosok orang—walaupun sebenarnya gambar itu justru mirip hantu film horor Indonesia.

Tiba-tiba saya merasa lantai kelas bergetar. Oh, ada yang berlarian di koridor, pikir saya. Tapi ternyata semua teman-teman saya merasakan getaran yang sama (kok agak jijik ya kalimat barusan). Ada yang berkata, “Gempa ya?”. Semua terdiam, berusaha merasakan getaran dengan khidmat. Tapi getaran itu malah semakin kencang. Dan para mahasiswa pun langsung berlari keluar kelas, meninggalkan dosen yang belum sempat berkata apa-apa (hehe, maaf mas, panik). Bagaimana tidak, kelas kami saat itu berada di lantai 5. Bayangan mengenai gedung ambruk langsung menggerayangi pikiran sebagian dari kami. Di tangga pun sudah penuh orang untuk turun, jadi perjalanan untuk sampai di bawah agak terhambat. Begitu sampai di bawah, semua sudah lega. Saya juga lega, di samping rasa kantuk saya yang mendadak benar-benar hilang. Apa mungkin ini semacam bel untuk membangunkan para mahasiswa pengantuk?

Yang pasti, kejadian itu adalah gempa sungguhan. Pusat gempanya di Tasikmalaya, dengan kekuatan 7,3 SR. Waduh, suasana di kampus saya saja sudah sebegitu heboh, bagaimana di pusatnya ya? Lewat berita televisi, memang menyedihkan melihat saudara setanah air kita yang menjadi korban gempa. Semoga mereka mendapat ketabahan dan kesembuhan. Amiin.

Inilah pengalaman pertama saya merasakan getaran gempa (kalo getaran hati sih sering, haha). Saat itu juga, kelas langsung dibubarkan, atau lebih tepatnya membubarkan diri. Jadi agak trauma kuliah di lantai 5. Tapi mungkin lebih trauma lagi orang-orang yang saat itu berada di gedung lantai 20 ya?

Sekian curpen (curhat pendek) dari saya, maaf beritanya agak basi, baru sempet posting karena kecapekan kuliah 24 SKS dan kegiatan-kegiatan lainnya. Oiya, masa hari ini saya jadwalnya 1 matkul doang, eh dosennya kagak dateng. Tau gitu ga usah ke kampus dah, mana lagi agak demam gini T_T (sekalian curhat beneran, nanggung :p)


“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya.” (Q.S. 99: 1-5)


[Selengkapnya...]