Senin, 08 Juli 2013

Gorontalo (I) : Curhat Keberangkatan

Jumat, 28 Juni 2013
Pukul 02.00 WIB saya terbangun dari tidur dan segera bersiap untuk penerbangan pagi ini. Sangat bersyukur bisa terbangun tepat waktu dari rencana, mengingat hari sebelumnya saya sedang sangat kelelahan.
Koper siap, tas ransel siap. Tinggal barang-barang kecil saja yang perlu dikemas. Pukul 04.00 WIB saya sudah siap untuk pergi, taksi pun sudah menunggu di depan rumah.
Ada yang berbeda dari perjalanan saya kali ini. Ini adalah pengalaman pertama saya berpergian naik pesawat sendiri. Yap. Sendiri. Ew.

Sebenarnya jadwal penerbangan saya pukul 07.20 WIB, tapi saya khawatir terlambat kalau berangkat lebih dari pukul 4.30, maka saya berangkat pukul 4. Kalau sudah sendirian, lalu sampai terlambat dan tiket hangus, rasanya pasti pedih. Mau beli tiket lagi pasti muahal, bayar pakai apa, masa' iya pakai kecantikanku. Huft. Abaikan.

Bicara soal tiket, saat itu memang cukup sulit cari tiket tujuan Gorontalo dengan harga murah. Acara Pospenas, lomba olah raga dan seni antar pondok pesantren se-Indonesia, yang diadakan di Gorontalo saat itu membuat tiket pesawat laku keras dan melambung tinggi. Sriwijaya habis, Lion sekitar 2jutaan, Garuda 1jutaan.
Sejujurnya saya merasa sangat beruntung. Yap, akhirnya saya (di)beli(kan) tiket Garuda.
Kok dibelikan sih?
Iya nih, gimana lagi dong.
Sebenarnya sudah berusaha untuk sedikit merahasiakan kepergian saya ini pada orang tua. Orang tua saya saat itu sudah berada di Gorontalo karena tugas dinasnya. Saya ingin main ke sana juga, sekaligus ingin coba mengurus kepergian sendiri, mulai dari mengurus tiket sendiri sampai tiba di tujuan. Tapi dasar anak yang gak bisa tenang kalo gak cerita sama ortu, akhirnya saya laporan juga. Eeeh, setelah cerita malah langsung dibelikan tiket dari sana, dikirimkan e-ticket, dan saya tinggal print e-ticket tersebut, lalu hidup bahagia. Ya alhamdulillah sih ya.


Jalanan Depok dini hari masih sepi, tapi jalanan Jakarta sudah sedikit ramai. Apalagi di tol menuju bandara, meski belum pukul 5 pagi, mobil-mobil sudah cukup panjang mengantri di gerbang tol. Saya pun tiba di bandara Soetta terminal 2F pukul 05.00 WIB. Masih ada waktu sekitar 2 jam lebih untuk nongkrong-nongkrong cakep. Saya pun beli kopi manis (baca: Caramel Latte) di Ohlala Cafe dan beli kue kesayangan mama di kafe tersebut untuk "oleh-oleh". Rada keliyengan juga ya minum kopi pagi-pagi. Iyak, saya bukan peminum kopi sejati.
Sekitar pukul 5.30 saya check-in. Sepertinya saya orang pertama yg check-in untuk tujuan Gorontalo pagi itu, jadi saya dapat seat paling depan di kelas ekonomi. Saya pilih duduk di dekat lorong daripada dekat jendela. Biar cepet kalo mau keluar, hehe.
Masih lama menunggu penerbangan, saya pun jajan-jajan di bandara. Jajan mulu ye. Iya nih, belum berangkat sudah berfoya-foya. -_-"
Setelah jajan kue di salah satu kafe, saya menuju ruang tunggu. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 07.00 WIB.

Beberapa menit kemudian saya masuk ke pesawat dengan nomor penerbangan GA642 menuju Gorontalo (transit Makassar). Jakarta-Makassar yang ditempuh sekitar 2 jam, memang terasa cukup membosankan karena tidak ada teman mengobrol dan tidak ada bahu untuk tempat bersandar. Pffftt.

Sekitar pukul 12.00 WITA, pesawat tiba di Makassar. Penumpang transit dipersilakan turun selama 20 menit. Lumayan buat ke toilet. Lagi-lagi merasa beruntung, saya--yang duduk di seat paling depan bagian dekat lorong jalan--bisa turun awal, bisa ke toilet dalam kondisi masih sepi. Keluar dari toilet, saya lihat antrian sudah panjaaaaang sekali.

Masuk ke pesawat lagi, ternyata tempat saya sebelumnya menaruh ransel di bagasi cabin sudah terisi. Saya pun bingung mencari tempat untuk menaruh ransel. Lorong pesawat juga sedang dipenuhi orang yang mau menaruh barang di bagasi cabin sehingga saya sulit berjalan ke belakang. Tiba-tiba pramugari yang berdiri sekitar 1 meter di belakang saya meminta untuk menyerahkan ransel saya kepadanya, biar dia yang carikan tempat. Pramugari itu langsung mencari tempat kosong di bagasi cabin untuk menaruh ransel saya. Ah, beruntung rasanya cepat ditangani mbak pramugari, padahal saat itu masih banyak juga penumpang yang kesulitan menaruh barang di bagasi, terima kasih mbak pramugari :')

Sekitar pukul 13.05 WITA, pesawat tiba di Bandara Jalaluddin Gorontalo. Penumpang dipersilakan turun. Saya masih plonga-plongo karena belum bisa mengambil ransel yang berada sekitar 1 meter di belakang kursi saya, sementara lorong dipenuhi orang yang keluar pesawat. Saya sudah pasrah saja kalau harus keluar terakhir. Tiba-tiba ada mas-mas sesama penumpang dengan ekspresi sangat ramah mengambil ransel saya dan menyerahkan kepada saya. Aaaaa. Saya mengucapkan terima kasih pada mas-mas itu sambil terbengong-bengong. Kok ya ada yang masih mau bantu orang lain di tengah kehectican turun pesawat. Yang paling bikin bengong sih, kok ya tau itu ransel punya saya. Aaaaa. Terima kasih mas-mas yang ngambilin ransel saya. :')

Alhamdulillah, saya tiba di Gorontalo dengan selamat sentosa, disambut ortu yang sudah menunggu di bandara. Atas segala keMahaBaikan Allah yang memberikan segala kelancaran dan kemudahan dalam perjalanan ini, alhamdulillahi robbil 'alamin. :'))




Malamnya kami (saya dan ortu) makan malam di restoran seafood "Mas Joko". Iya, orang Jawa yang jualan, tampaknya semua karyawannya juga orang Jawa, hehe. Kurang paham juga kenapa banyak resto seafood di sana berjudul "Mas" dan dimiliki orang Jawa. Ya rejekinya di sana lah ya.
Kami tiba di restoran sekitar pukul 20.30 WITA, saat itu sudah ada beberapa pembeli yang makan di sana. Semakin malam ternyata semakin ramai. Dengar-dengar, restoran seperti itu bisa buka sampai pukul 2 pagi.
Rumah Makan Sari Laut "Mas Joko".
Foto diambil sebelum saya makan dengan penuh kekalapan dan kekhilafan.


Okeh, sekian curhat keberangkatan saya. Nyesel bacanya? Udah dibilang di judul ini curhat jugak, kenapa masih dibaca? Pffftt.
Hehe, sampai ketemu di tulisan berikutnya tentang Gorontalo, salam damai dan sejahtera! ^o^
[Selengkapnya...]

Selasa, 21 Mei 2013

Keep Your Spirits Up, Girl!

SEMANGAAAAAAT!
Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat! Semangat!


Semangaaaaaaaat, jaga terus semangatmuuuuu...!
No matter what people say, no matter what people judge, no matter what problem you are struggling with; you're still Niken Puspitaningrum! Don't you proud to be you, girl? ;)


They just don't know, they don't even care about your struggle, right?
And it's not that important to tell them, right? :D
Look, your parents are always loving and supporting you, unconditionally, NO term and condition apply! Hakhakhakkk X)))
And keep in your mind: Allah subhaanahuwata'ala is always with you.
Okay, there's no reason to be sad. Keep your spirits up, girl!

Laa takhof wa laa tahzan. Innallaha ma'anaa :)
(Ojo wedi, ojo nelongso. Tenanan, الله ono kalawan kita.)

*random*
*disambit kamus*
[Selengkapnya...]

Selasa, 15 Januari 2013

Things We Should Know About Period, Muslimah!

"Santai cing, bacanya sambil ngupi-ngupi ajah"
Okeee, cukup judulnya aja ya yang pake Bahasa Inggris. Selanjutnya pake Bahasa Tagalog.

Nggak deng, pake Bahasa Indonesia ajah.

Kali ini mau bahas tentang sesuatu yang pasti terjadi pada diri setiap perempuan: Menstruasi.
Aaaaaakkkkk jadi yang laki-laki gak boleh bacaaaaa???
Ya boleh-boleh aja, buat nambah pengetahuan, sekalian memahami ataupun ngingetin perempuan-perempuan di sekitarnya.
Untuk yang perempuan, jangan sampe gak baca. Hehe.

Entah bagaimana ceritanya, kata "period" sering diasosiasikan sebagai pengganti kata menstruasi. Mungkin karena mens itu terjadi dalam masa tertentu dan secara berkala kali ya. Udah ah ga usah ngomongin yang saya gak ngerti.


Oke, menstruasi/haid/datang bulan itu apa sih? Semoga gak basi ya ngebahas definisi hal yang udah terlalu lazim diketahui. Hehe. Intinya, yang saya tau, menstruasi itu luruhnya dinding rahim yang terjadi secara berkala, gampangnya sih sebulan sekali, meski gak sesederhana itu juga. Ada itung-itungan periode gitu, tapi saya gak begitu ngerti. Pokoknya kita gak usah ngomongin yang saya gak ngerti ya.
Peluruhan dinding rahim itu bentuknya cairan darah. Mengerikan? Gak juga sih. Untuk yang belum mengalami atau yang tidak akan pernah mengalami mens, mungkin serem juga ngebayanginnya. Saya juga kok dulu. Tapi pas udah mengalami, yaudah, biasa aja, kan udah tau kalo perempuan itu pasti mengalami mens. Mens itu kan terkait reproduksi. Kalo udah mengalami mens, berarti udah bisa hamil, melahirkan, punya anak, lalu jadi ibu, seseorang yang bahkan dikatakan bahwa surga ada di telapak kakinya. Uwah. Subhanallah yah.

Nah, jadi, menstruasi itu bukan sesuatu yang kotor, mengerikan, kutukan, atau hukuman bagi perempuan. Jangan sampe mikir kayak begitu yak. Nikmatin aja sakit-sakitnya.
Eh? Iya, sakit saat mestruasi atau yang biasa disebut dysmenorrhea (baca: dismenor) emang kadang berasa menyiksaaaaa banget. Ada yang sakit perut melilit-lilit, mual, muntah, plus sakit kepala, bahkan kalo yang parah bisa sampe pingsan. Ada yang kayak gitu? Semoga cepat sembuh ya, coba periksa ke dokter juga...
Saya dulu pernah ikut seminar yang bahas beginian, kata pembicaranya sih dismenor yang masih sakit perut biasa (yang gak bikin terkapar banget) emang normal, soalnya ada kontraksi-kontraksi dalam proses luruhnya dinding rahim. Tapi kalo udah sampe pingsan atau sakit yang benar-benar menyiksa, mending periksa ke dokter.
Bukan nakut-nakutin, cuma dulu saya punya temen yang tiap mens dia kesakitan yang amat sangat, pas diperiksa ternyata ada...mm, apa ya, saya juga lupa apa istilahnya, kayak kista tapi masih jauh lebih ringan gitu. Terus dia dioperasi. Alhamdulillah setelah itu dia gak pernah kedengeran sakit karena mens lagi. Jadi jangan takut untuk periksa dan dikasih upaya penyembuhan secara medis, tapi juga jangan terlalu cepet ngambil keputusan untuk operasi. Cari tau selengkap-lengkapnya tentang yang kamu alami. Jangan baru sakit dikit udah minta dioperasi, dikate minta operasi kayak minta dibeliin somay ape?
Ketika menstruasi dan berasa nyeri-nyeri asik gitu (ya anggep aja asik), perbanyak minum air putih hangat ya. Enak kok, jadi lumayan meringankan nyeri.
Minum air rebusan kunyit asem juga enak. Kalo bisa yang bener-bener dari kunyit dan asem segar ya, jangan sering-sering minum yang botolan atau sachet-an. Saya gak ngerti sih komposisi dan kandungan gizinya gimana, tapi yang pasti minuman botol atau sachet itu kan melewati proses kimia pabrik, kadang ditambah pewarna atau pemanis. Sekali-sekali aja kalo mau, jangan sering-sering. Tinggal ngerebus kunyit dan asem aja, apa susahnya. EH SUSAH SIH. Kalo lagi sakit banget ya emang susah mau ngapa-ngapain, saya aja gak pernah bikin sendiri, selalu dibikinin mama. Hakhak. Kalo lagi gak ada mama, saya hanya bisa berpasrah pada Sang Khalik, minum air putih hangat aja, nangis seperlunya, sampe ketiduran. T_T
Tapi biasanya kalo udah tidur nyenyak, bangun-bangun udah ringan loh, gak begitu berasa lagi nyerinya. Jadi, jangan pernah ganggu perempuan dismenor yang sedang tidur yak. Kecuali kalo dia udah tidur selama 36 jam. *yakaliii*
Sebenernya sih rasa nyeri saat mens ini bisa dicegah dengan gaya hidup sehat. Olah raga. Iya, pengalaman saya, kalo lagi rajin-rajinnya olah raga atau lagi banyak kegiatan, biasanya malah gak kesakitan pas "datengnya si bulan" itu. Hayuhlah kita berolah raga atau perbanyak kegiatan bermanfaat. Banyak-banyak makan sayur dan buah segar juga bisa mengurangi nyeri menstruasi.

Hmm. Judulnya kan ada kata "Muslimah"-nya ya? Terus mana bahasan yang Islami? Bentar, sabar.
Saya kutip dari artikel ini ya. Artikel yang saya temukan saat kepo banget sama hal-hal terkait menstruasi yang dialami para Mothers of The Believers radiyallahu anhu. Menarik loh. Berikut kutipan (sekaligus terjemahan) dari artikel itu.

Pertama, menstruasi itu sesuatu yang normal dan alami terjadi pada perempuan. Salah banget sebenernya kalo ada masyarakat mengasingkan perempuan yang sedang menstruasi. Saya sering baca etnografi masyarakat-masyarakat yang mengasingkan/menjauhi perempuan yang sedang mens. Duh, itu kan melanggar hak asasi. :(
Waktu Aisyah r.a. pergi haji bersama Rasulullah SAW, di dalam perjalanannya Aisyah r.a. menstruasi. Beliau menangis karena merasa gak bisa menjalani ibadah haji, tapi Rasulullah SAW menenangkannya. Rasulullah SAW mengatakan bahwa Aisyah masih bisa melakukan kegiatan haji, kecuali tawaf. Horee.
Pada kesempatan lain, ada sahabat yang bertanya pada Rasulullah SAW, bagaimana cara memperlakukan istri yang sedang menstruasi. Jawab beliau singkat: "Lakukan apapun bersamanya kecuali hubungan seksual".
Tuh kan. Gak bener tuh yang ngejauhin perempuan (baca: istri) menstruasi. Yang dilarang cuma sexual intercourse aja. Cubit-cubitan doang mah boleh.
[Agak OOT dikit ya, saya pernah denger dalam seminar yang menghadirkan seorang seksolog ternama, kalo sexual intercourse saat mens itu juga gak baik secara medis, bisa menyebabkan kanker buat si perempuan. Tapi saya pernah baca juga twit seorang dokter kalo sexual intercourse itu boleh saat mens. AH, abaikan saja ya twit itu. Islam melarang, itu lebih dari cukup. Toh, seksolog ternama itu juga melarang.]
Bahkan Rasulullah SAW pernah berbaring di pangkuan Aisyah r.a saat Aisyah sedang menstruasi, lalu Rasulullah membaca Qur'an. Rasulullah juga gak segan untuk minum dengan gelas yang sama dengan Aisyah saat Aisyah menstruasi. Ummu Salamah r.a. yang sedang menstruasi juga pernah tetap diajak tidur di bawah selimut yang sama dengan Rasulullah SAW. Keliatan kan, betapa Islam tetap memuliakan perempuan meski saat menstruasi?
Oya dari HR Abu Dawud, boleh nyentuh bini kalo ada lapisan bajunya (gak langsung nyentuh kulit). Kalo menurut Madzhab Hanafi, yang gak boleh sentuh kulit langsung itu cuma area dari pusar hingga lutut.
Yasudahlah. Intinya, perempuan yang sedang menstruasi itu harus tetap disayangi ya. Iya.
Tapi gak perlu sayang-sayangan sama yang bukan muhrim. Kayak gak ada kerjaan lain aja. Benerin genteng bocor gih.

Kedua, tentang sentuh-sentuh alat ibadah.
Dari HR Muslim, Aisyah r.a. pernah diminta Rasulullah SAW untuk membawakan sajadah. Aisyah mengatakan bahwa ia sedang menstruasi. Jawab Rasulullah: "Sungguh, menstruasimu bukan di dalam tanganmu."
Tuh, gak usah terlalu khawatir bagi menstruate-women untuk memegang alat ibadah. Gakpapa. Kita ini masih suci meski dalam keadaan menstruasi. Hanya tidak suci untuk beribadah sholat/puasa saja.
Selain itu, terkait sentuh-sentuhan alat ibadah, Rasulullah SAW pernah sholat dan jarak beliau sangat dekat dengan Maimunah r.a. yang sedang menstruasi. Ketika sujud, beberapa bagian pakaian Rasulullah SAW menyentuh Maimunah r.a. Dan itu gakpapa. Hehe.
Yang paling sering dibingungin orang: lagi mens boleh gak sih megang Al Qur'an?
Iyak, Al Qur'an itu kan kitab suci yang tidak perlu diragukan lagi kesuciannya. Cek QS Al Waqiah: 77-79, artinya: "Dan (ini) sesungguhnya Al Qur'an yang sangat mulia. Dalam Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfudz). Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan".
Dari ayat itu, ada 2 pendapat:
1. Yang dimaksud "hamba-hamba yang disucikan" itu yang suci dari dosa.
2. Yang dimaksud "hamba-hamba yang disucikan" itu orang yang suci untuk ritual ibadah. Ini yang lebih banyak digunakan.
Nah, singkatnya, memang perempuan yang menstruasi jangan megang Qur'an. Selesaikan dulu mensnya, "bersih-bersih", baru deh temu kangen pegang-pegang Qur'an. Tapi tapi, banyak juga yang berpendapat kalau megang Qur'an terjemahan itu boleh.

Ketiga, "Menstruation is not an excuse that justifies vacation time from worship."
JLEB.
Hayoooooo siapa yang pernah ngerasa bersantai-santai berasa "libur dari ibadah" karena lagi mens?
*angkat tangan malu-malu* :'(
Ternyata oh ternyata, perempuan yang sedang menstruasi juga harus beribadah loh. Kan di QS Az-Zariyat: 56 jelas kalo penciptaan manusia dan jin itu untuk beribadah kepada-Nya. Terus, selain sholat dan puasa, kita bisa apa?
BANYAK.
Kita bisa dengerin bacaan Qur'an. Pada nyimpen MP3 Qur'an dong pastinya? ;) Atau dengerin secara live, orang yang lagi baca Qur'an.
Kita bisa zikir.
Kita bisa sholawatan.
Kita bisa melewatkan waktu bersama orang-orang yang kita kasihi karena Allah SWT. (ngapain aja tuh? yaa silaturahmi, mau main bareng, masak bareng, merangkai bunga bareng kan bisa tuh)
Kita bisa dateng pengajian atau seminar Islami untuk cari ilmu.
Kita bisa baca kisah orang-orang teladan.
Kita bisa berdoa, memohon keinginan kita.
Kita bisa memohon ampunan atas dosa yang kita lakukan.
Kita bisa terlibat dalam komuniti yang kegiatannya manfaat.
Kita bisa merefleksikan diri dan bersyukur atas segala nikmat dari-Nya.
Bahkan menurut Madzhab Hanafi, perempuan yang sedang menstruasi direkomendasikan untuk berwudhu setiap waktu sholat, duduk di tempat biasa ia sholat, dan melakukan dzikir. Hal itu disarankan supaya perempuan gak kehilangan kebiasaan ibadahnya meski dalam keadaan menstruasi.

Gimana?
Sudah siap menghadapi masa menstruasi yang lebih produktif?
Saling mendoakan ya :D

Kalo dipikir-pikir, menstruasi itu emang bikin mood kacau. Bawaannya keseeel mulu. Liat orang lewat kesel, liat orang dagang bakso kesel, liat orang ngeludahin muka kita kesel (eh, kalo diludahin mah semua orang juga kesel). Jadi lebih sensi sama tindakan orang lain, omongan orang, twit orang, post orang, dsb. Jadi lebih menye-menye. Bisa jadi postingan blog saya selama ini yang berbau menye-menye binti galau adalah hasil dari kekacauan pikiran saya selama mens. Haha.
Jauh dari sholat dan tilawah emang mengacaukan suasana. Tapi gak bisa dijadikan pembenaran sih. Jangan gitu lagi ya. Kan kita tetep bisa ibadah yang lain-lain selama mens. Mulai sekarang, dalam keadaan apapun, gak boleh jauh dari bacaan Qur'an dan mengingat Allah.
Yap, kita sudah diciptakan sedemikian rupa dalam bentuk yang sesempurna ini, yuk ah syukuri, jangan hujat apapun keadaan kita.
*selftalk*


Referensi:
http://seekersguidance.org/ans-blog/2010/10/09/why-cant-a-menstruating-woman-touch-the-quran-islams-perspective-on-menstruation/


"Laqod kholaqnaal insaana fii ahsani taqwiim."

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

(QS At Tiin: 4)


Wuah panjang nih postingan.
Udah ah, pengen skripsian dulu.
Eh, ini udah tanggal berapa? Kok masih skripsian sih? Ng...
*brb nangis di pojokan*
[Selengkapnya...]

Selasa, 20 November 2012

Postingan Tengah Malam

Senin, 19 November 2012. Pukul 22.35 WIB.

Saat ini sebenarnya aku sudah siap beristirahat malam. Kepenatan tadi siang, yang tak perlu ku ceritakan mengapa, membuatku ingin cepat terlelap dan bangun dengan semangat yang jauh lebih besar dari hari ini. Tapi renunganku malam ini justru membawaku untuk menunda tidur, dan ya, lalu aku menulis di sini. 

Ya..seperti biasa, ini tentang tugas akhirku. Tugas akhir yang aku sendiri penasaran dengan (kapan dan bagaimana) akhirnya. Tapi tidak, aku akan berusaha untuk tidak membawa tulisan ini terlalu menyedihkan atau penuh dengan keluhan. Aku sendiri sudah sangat lelah, malas, dan malu untuk mengeluh; toh keluhan itu tak sedikit pun membawa kebaikan bagi diriku--justru sebaliknya, itu tak lebih hanya membawa keterpurukan bagiku.

Aku hanya ingin menulis tentang (yang ku rasakan bahwa) betapa unik dan indahnya skenario yang Allah buat untukku. Aku yang sebelumnya ngoyo ingin lulus tak lebih dari 8 semester, nyatanya belum diijinkan-Nya untuk lulus di semester 8. Berantakan, tak karuan rasanya. Dulu.
Lalu ku lihat sekitarku, betapa aku telah Ia karuniai banyak hal yang mungkin tak semua orang dapat miliki: keluarga, kesehatan, sandang-pangan-papan, uang saku, dan sebagainya. Bagaimana bisa aku tak mensyukuri itu semua?
Terlebih, aku tak sendirian dalam masalah tugas akhir ini. Ternyata banyak yang senasib denganku, bahkan kondisinya lebih sulit dariku. Asalkan aku tak terus memandang "ke atas", sebenarnya banyak hal yang membuatku malu untuk mengeluhkan ini.

Semangatku timbul lagi, terutama pada satu ketika aku merasa sudah mendapat kepastian, serta bertemu berbagai "kebetulan" yang membantuku. Ya, aku pasti bisa lulus di 1 semester tambahan ini. Pikirku. (aku terpaksa menggunakan) Tapi, apa yang ku rasa kepastian itu ternyata masih menyisakan "pekerjaan rumah" untukku, ada masih harus ku pikirkan dan perbaiki kembali. Ibarat aku sudah berada di titik 70 km, tiba-tiba aku ditarik lagi ke titik 5 km. Aku belum membuang harapan itu, masih terbuka sangat lebar untukku segera menyelesaikannya. Dari titik 5 km mengejar 70 km dan seterusnya itu, kalau pakai pesawat terbang, bisa ditempuh dalam waktu yang cepat, bukan? :-)

Tapi aku tak mau menjadi ngoyo lagi. Aku ingin berusaha tanpa terlalu memberatkan pikiranku. Aku justru ingin menikmati setiap detik penelitianku: lelahnya, tawa candanya, hingga rasa bangganya. Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa aku bisa mengenal mereka--warga desa lokasi penelitianku--dengan seluas itu. Awalnya aku hanya ingin mengenal beberapa keluarga saja, yang relevan dengan apa yang ku teliti. Durasi penelitian yang cukup lama (karena aku ambil perpanjangan semester) memberi kesempatan padaku untuk dapat mengenal lebih banyak warga, mendapat lebih banyak cerita, dan memahami lebih jauh kehidupan mereka. Bahkan pengalaman yang mereka ceritakan sedikit-banyak mempengaruhi pandangan dan harapanku tentang masa depan. Tak mungkin, tak mungkin berpengaruh sedahsyat ini jika aku hanya melakukan penelitian singkat.

Kini aku senang karena mereka telah mengenalku dan menerima keberadaanku. Kemana pun aku ingin pergi atau apapun yang aku cari di sana, ada saja yang berusaha untuk membantuku sampai ke tempat tujuan.
Sambutan sekelompok anak-anak warga sekitar ketika aku datang ke sana, kadang mengagetkan tapi selalu terdengar menyenangkan, "KAK NIKEN! KAK NIKEEEN!!", disertai dengan lambaian tangan dan senyum mereka. Antusiasme mereka sering kali memberi kontribusi bagiku, yaitu menghapus kepenatanku. Justru aku yang belum pernah berkontribusi apapun untuk mereka (tapi akan ku agendakan hal ini dalam hidupku, dek ^^).
Beberapa ibu-ibu warga di sana pun sering menyapaku ketika aku lewat di depan rumahnya. Tidak hanya itu, mereka selalu mengajakku untuk mampir dulu ke rumahnya untuk sekedar duduk, mengobrol, bahkan makan (tapi tak jarang ku tolak ajakan mereka karena aku tak berani pulang terlalu sore dari sana). Aku sendiri kadang lupa, bahkan tak tau, siapa saja nama orang-orang yang menyapaku itu. Tapi kedatanganku yang sudah cukup sering di sana (dan keikutsertaanku dalam beberapa kegiatan mereka) ternyata membuat mereka hafal denganku dan tak lagi ragu untuk menyapaku.
Aku juga senang jika dapat kesempatan menjelaskan kehidupan kampus, baik untuk anak-anak maupun orang tua di sana. Aku ingin menularkan semangat belajar hingga ke tingkat perguruan tinggi kepada mereka. Ya, di sana, ada seorang anak yang bercita-cita jadi guru olahraga, tapi masih bingung bagaimana menjalani (dan membiayai) kuliah. Di sana juga ada seorang anak yang katanya ingin masuk UI sepertiku. Ini membulatkan tekadku untuk dapat membantu mereka mewujudkan cita-cita. Aku harus bisa bergerak dan "menggerakkan" mereka, agar generasi muda di sana tak terus-terusan berada dalam lingkaran "nasib" sebagai pedagang kecil yang tak pasti esok bisa makan apa.
Satu hal penting, aku baru mendapatkan penerimaan yang luar biasa dari mereka, juga aku baru memahami kehidupan mereka lebih dalam, saat beberapa bulan terakhir ini (sebelumnya aku hanya kenal sedikit orang dan belum sempat mengikuti kegiatan mereka). Ya, jika aku dulu bisa menyelesaikan tugas akhirku dengan cepat, belum tentu aku mendapat kebahagiaan "mendapat keluarga baru" semacam itu.

Tak aku pungkiri lagi, aku ingin cepat lulus. Tapi aku tak mau terlalu membebani pikiranku. Aku yakin, apapun yang terjadi, skenario Allah begitu indah untuk hidupku.
Kalaupun aku harus (sedikit) lebih lama lagi berkutat dengan tugas akhir ini, aku yakin, itu karena ada hal penting yang ingin Allah tunjukkan padaku dalam "perjalanan panjang" ini.

Selasa, 20 November 2012. Pukul 00.13 WIB.

If Allah brings you to it, He will bring you through it!
[Selengkapnya...]

Rabu, 31 Oktober 2012

Mengolah Daging "Alot" Menjadi Makanan Lezat

Hahaha, saya geli sendiri baca judulnya. Postingan kali ini akan beda dari postingan saya yang biasanya. Sekali-sekali ngasih tips gakpapa ya.

Mumpung masih bulan dzulhijjah, bulan lebaran haji, mungkin di antara kita masih banyak yang punya simpanan daging kambing/domba/sapi/unta (ekalo di Indonesia kaga ada onta yak). Nah, kalo hewannya udah tuwir alias tua, kemungkinan dagingnya alot. Apalagi daging kambing. Trus, gimana ya biar daging yang alot itu bisa diolah jadi makanan lezat yang bisa dimakan siapapun, baik pemuda, anak-anak, dan orang tua?
Chef Niken punya jawabannya! *halah*

Berawal dari ibu saya yang masak sate daging kambing (sate tanpa tusukan, haghagh, jadi daging panggang ya namanya), dengan bumbu yang luar biasa enak, tapi sayangnya, pas dimakan ternyata dagingnya masih agak alot. Padahal ngolahnya udah lumayan lama, berharap dagingnya jadi empuk. Emang hewannya udah tuwir kali ya. Dari situlah, saya ingat resep dari salah-satu-acara-demo-masak-di-stasiun-TV-swasta tentang sate lilit. Sate lilit yang digunakan oleh chef demo di situ pake daging udang dan ayam. Hm, kalo pake daging kambing, kenapa enggak?

Buat yang belum tau sate lilit itu gimana, silakan googling ya, nggak usah nanya via twit atau status fb, biar lebih mandiri. *nyolot bgt sih ken* :p

Saya coba masak itu ketika ibu saya pergi ke luar kota bersama ayah. Yap, karena di saat-saat itulah saya bisa belajar masak secara mandiri sejahtera, tanpa bantuan orang lain, hehe.
Pertama-tama, ambil sejumput (sejumput kuwi opo keeen? ya pokoknya secukupnya deh, saya sih waktu itu bikin sedikit bgt, kira2 buat 8-10 tusuk) daging. Kalo daging masih beku karena ditaro di freezer, diemin dulu sampe sekitar 2 jam biar dagingnya bisa diolah. Setelah dagingnya sudah "melemas", kasih sedikit garam, sedikit merica, dan perasan lemon (potongannya sekitar 1/5 dari satu buah lemon). Sisihkan dan diamkan. Jangan diajak ngobrol. (menurut nganaa?)

Siapin bumbu keramat khas Indonesia, yaitu: bawang merah, bawang putih, cabe merah, sedikit kunyit (sekitar 1-2 cm), sedikit jahe (sekitar 1 cm), ketumbar, merica. Haluskan. Tambahkan garam dan gula secukupnya. Oh iya, kebetulan di rumah saya ada bawang merah dan bawang putih yang sudah halus (disiapin ibu saya sebelum pergi ke luar kota), jadi gak perlu menghaluskan bawang-bawangan itu bareng sama kunyit-jahe-ketumbar-merica tadi. Begitu pula cabe merah yang saya pake yang udah dihaluskan. Nah itu bawang-bawangan yang udah halus saya pake sekitar 2 sendok makan dan cabe 1 sendok makan. Kalo gak punya yang udah halus, mungkin bisa pake sekitar 5 siung bawang merah, 2 siung bawang putih, 2 cabe merah besar. Banyak ya? Yaudahsih, kebetulan saya pecinta masakan berbawang.
Trus untuk ukuran ketumbar, merica, gula, garam; dikira-kira aja ya, saya nggak ngukur juga. *pemasak macam apaaa inih*
Diamkan bumbunya. Jangan digadoin, apalagi digodain.

Kembali ke daging. Hilangkan air yang dihasilkan daging yang didiamkan tadi. Mulai deh cara jitu menghilangkan ke-alot-an daging tersebut, yaitu: haluskan pake food processor! Bisa pake tokebi (buat yang gak tau, silakan googling, atau nonton TV, diiklanin di homeshopping gitu, haghagh), blender, dll. Ya ampun, ternyata gitu doang ken? Yaudahsih namanya juga usaha...
Kebetulan di rumah ada tokebi, jadi saya pake itu. Awalnya ngegiling di bowl agak besar, etapi malah muncrat kesana-kemari -_-
Hmm saya puter otak lagi supaya bisa menggiling dengan lebih damai. Saya pindahin ke dalam food processor kecil kayak gini:


Damai sih, tapi hasilnya gak maksimal. Saya memutuskan untuk ngegiling daging pake tokebi, tapi di dalem "gelas"-nya food processor kecil itu. YEAH! Akhirnya dapet juga kedamaian menggiling, sekaligus dapet hasil yang diinginkan. Rebet ya? Engga sih, saya menikmati kok. Weeek.
Kenapa saya nggak pake blender? Alesannya sih sederhana. Males nyucinya. Kalo kecil kan gampang nyucinya, toh yang digiling nggak banyak.
Selesai giling, periksa lagi hasilnya. Biasanya ada beberapa yang bener-bener nggak bisa halus, nah yang itu dibuang aja. Kebetulan pas saya coba, yang kayak gitu dikit sih, jadi dikit banget yang dibuang.
Daging yang udah halus dicampur sama daun jeruk yang udah dipotong kecil-kecil. Campur daging dan bumbu keramat yang tadi udah dihaluskan.

Khasnya sate lilit ini, pake batang sereh (lemongrass) sebagai penusuknya. Nah saya googling sih, sebenernya  kalo mau jadiin batang sereh jadi tusuk sate, musti dilumuri sama tepung tapioka. Tapi di rumah saya ndak ada. Males beli juga, cuma buat lumuran doang lagih. Benar saja, pas mau lilitin daging+bumbunya itu ke batang sereh, sulit bener nempelnya. Saya paksain aja tuh. Sempet kepikiran untuk ngoles batang serehnya pake putih telor, tapi malas, takutnya sama aja nggak nempel, trus jadi buang-buang telor. Yaudah saya paksa nempelin tanpa lumuran apa-apa. Diemin sekitar 15 menit.
Panaskan pan yang diolesi mentega secukupnya.
Masukkan "sate lilit"-nya, daaaaan yang terjadi adalaaah...
Daging benar-benar terlepas dari batang serehnya. Oke, di sini saya menyerah.
Saya sisihkan batang serehnya, jadilah daging itu dipanggang tanpa tusukan. Pake api sedang juga ndakpapa.
Tunggu sampe warnanya cokelat keemasan. Angkat. Jangan diangkat terus, itu bukan barbel, taruh hasil jadinya di piring.

Jadi, bagaimana nasib si batang sereh itu? :'(
Saya jadiin mereka sebagai penghias saja. Setelah dicuci pake air panas/matang, saya taro di piring saji.
Hiks, kesannya jadi sia-sia ya. Ah nggak juga sih. Jadi lucu-lucuan. Ng...untung sereh relatif murah ya, seribu seiket (saya beli dua iket sih). Hehe.

Udah capek, tapi masa gak ada sayurnya. Yaudah saya potong timun dan tomat saja.
Penasaran sama hasilnya?
Enggak? Macacih?? O'ong... *dikeplak*
Ini dia hasil sate lilit yang saya namakan "Sate yang Tak Terlilit" (iyain aja iyain) :
"Sate yang Tak Terlilit"
(Ng..kok kalo diliat-liat fotonya mirip kotoran -_- Ah perasaan Anda saja. Ini enak tauk!!)
Rasanya? Saya sih puas dunia akhirat. Hehe. Daging yang alot itu jadi mudah dimakan, gak ada bau-bau kambingnya lagi, dan bumbu rempahnya "tebel" bin lezat. Satu lagi, insyaAllah sehat. Tanpa msg. Bahwasanya memasak tanpa msg/bumbu instan itu, seperti mengerjakan ujian tanpa kebetan: hasilnya bikin senang dan tenang. Hehe sotoy yak. Jajanan di luar rumah udah kebanyakan msg sih, masa iya di dalem rumah mau ngasih msg lagi, mabok mecin ntar. Pokoknya asal ada bawang merah-bawang putih-garam-gula di rumah, maka rumah tangga akan menjadi sakinah mawaddah warrahmah. (opo hubunganeeeee keeeen?!)

Satu lagi, kalo masak, perasaan kita harus tenang ya adik-adik (kenapa jadi adik-adik deh -_-). Pengalaman saya, masak sambil panik ini-itu, hasilnya benar-benar mengecewakeun. Padahal masakan sederhana. Jadi kuncinya masak: tenangkan perasaan dan manfaatkan bumbu rempah Indonesia.
SAY NO TO COOK WITH MSG!

(oya, jangan lupa dicuci peralatannya dan dibersihkan dapurnya ya, jangan ditinggalkan begitu saja, nanti mereka menangis)
[Selengkapnya...]