
Tulisan ini, bukan tentang bioskop Indonesia, bukan tentang pelajaran angka romawi.
Tulisan ini tentang angka yang sekarang ku sandang sebagai umur.
Cikiciww. *merusak suasana serius*
21 tahun yang lalu, di suatu kota kecil yang pada tahun 2001 sempat menjadi pemberitaan besar nasional akibat adanya konflik antaretnis: Sampit, Kalimantan Tengah. Di tengah keluarga sederhana yang terdiri dari ibu yang super tangguh dan lembut, ayah yang penuh perjuangan selalu memberikan yang terbaik untuk keluarganya, dan 2 orang anak perempuan mereka; lahir seorang anak perempuan (lagi) di pagi hari, sekitar pukul 09.00 WIT. Anak ketiga ini diberikan nama Niken Puspitaningrum. Semua nama anaknya memang berawalan "Ni-" dan pada nama belakang diberikan "-ningrum".
Ya, itulah nama saya, itulah saya.
Pada saat saya sekolah, lewat nama itu, banyak yang langsung bertanya : "orang Jawa ya?". Iya, nama itu memang 'Jawa banget'. Eh, banget ngga sih? Biasa aja ya? :p
Saya biasa jawab: "iya ayah Jawa...tapi aku lahir di Sampit, mamaku orang Kalimantan (Banjar), trus emang lama di Jawa sih, tapi pindah-pindah". Haha, panjang bet jawaban untuk pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab dengan satu kata itu: ya/tidak. Ada juga sih yang komentar nama Jawa banget tapi tampang nggak terlalu Jawa, hahaaa. Inilah nasib percampuran dua etnis.
Kabarnya, saya tidak lahir di Rumah Sakit, tapi di rumah, memanggil bidan. Ya, sekali lagi, keluarga saya di awal pembentukannya (awal perkawinan orang tua saya) sangat sederhana. Ayah saya PNS baru yang gajinya tidak seberapa, namun beliau berusaha mencari tambahan dengan mengajar. Kalau tidak salah, menurut penuturan ayah saya, gaji PNS baru saat itu sekitar 30ribu per bulan, sedangkan pemasukan dari mengajar bisa mencapai 75ribu, dan ayah saya mengajar di dua tempat. Sejujurnya, saya sama sekali tidak ingat bagaimana keadaan rumah (kontrakan) dan kondisi hidup keluarga saya ketika tinggal di Kalimantan. Tapi mendengar cerita dari ibu saya, kehidupan kami saat itu sangat sederhana, gaji kecil, tapi...alhamdulillah, Allah selalu memberi kecukupan bagi hidup keluarga kami di tengah kesulitan ekonomi tersebut. :)
Waktu terus berlalu, saya semakin mengenal orang tua saya sebagai sosok yang luar biasa. Ayah saya, adalah PNS pada suatu instansi pemerintah yang cukup rentan dengan masalah, tuduhan ketidakadilan, kecaman, dan ancaman dari berbagai pihak. Tapi saya mengenalnya sebagai orang yang jujur, pantang menyerah, terbuka dengan keluarga, peduli dengan keluarga (baik keluarga inti dan luas), dan bijak dengan caranya sendiri. Bijak dengan caranya sendiri? Ya, mungkin ayah saya bukan tipe orang yang senang mengumbar kata-kata manis, tapi dengan perilaku dan kata-kata "polos"nya, sering melegakan dan membahagiakan keluarganya. Ayah saya sering berbagi cerita kantor dan pekerjaannya kepada keluarga, terutama ibu saya. Terkadang kami sebagai keluarganya mengkhawatirkan pekerjaan ayah saya ini yang memiliki resiko tersendiri.
Tapi lepas dari segala ketakutan tersebut, di mata saya, ayah saya sangat rajin membaca dan belajar, terutama mengenai pekerjaannya. Saya heran kenapa saya tidak begitu. *gubrak* Intinya, di mata saya, ayah saya adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam setiap pekerjaannya :)
Sebagai ayah, ia selalu menyetujui dan mendukung kegiatan yang menunjang pendidikan jika anaknya meminta. Baik untuk pendidikan formal (bimbel) maupun pendidikan informal (kursus macam-macam), selalu didukung ayah saya secara moril dan terutama materil, hehe. Ayah saya, yang kami panggil "Bapak" atau "Pah", juga senang mengajak jalan-jalan, terutama ketika anak-anaknya masih kecil. Sekarang pun, beliau masih senang mengajak ibu saya atau anak-anaknya untuk berpergian, apalagi intensitas bertemu semakin jarang ketika ayah saya bertugas di luar Jawa. Ayahku, ayah yang lembut dalam setiap ketangguhannya :)
Ibu saya adalah sosok yang mandiri dan rajin. Setamat SMEA, dalam usia belasan tahun, ibu saya sudah merantau sendiri dari Banjarmasin ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Bertemu ayah saya yang juga sedang mencari pekerjaan di Jakarta, kenal dekat, kemudian melanjutkan hubungan ke perkawinan. Sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana, ibu saya pun mampu menjalani awal perkawinannya dengan sabar dan bahagia, apalagi satu per satu anak-anak perempuan lucu imut menggemaskan itu lahir. *grompyang*
Ibu saya, yang biasa kami panggil "Mama" atau "Mah", selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya sebelum beristirahat. Dengan kata lain, meskipun sudah tengah malam, atau dini hari, atau bisa-bisa tidak tidur dengan cukup...yang penting pekerjaannya sudah selesai. Luar biasa. Melalui pengamatan terhadap ibu saya, saya semakin mengerti tentang pemikiran yang tidak setuju jika "ibu rumah tangga" disebut "pengangguran". Nyatanya, ibu rumah tangga justru lebih banyak dan lama beban kerjanya. Selain itu, di mata saya, ibu saya yang sekitar 8 tahun belakangan dapat mengendarai mobil sendiri, merupakan perempuan pengemudi yang sangat tangguh. Kalau melihat mobil yang disetir ibu saya, bisa jadi Anda mengira pengemudinya adalah laki-laki. Ya, kalau masalah ngepot-mengepot, dan kalau mau cepat sampai, ibu saya yang paling handal di keluarga saya. Hal itu bertolak belakang dengan ayah saya yang justru sangat hati-hati dan memikirkan presisi dalam menyetir (dan sepertinya saya terkena doktrin itu, haha). Ibu saya, selalu tanggap dan berusaha untuk mengantarkan anak-anaknya berpergian kemanapun dengan mobil, karena kekhawatirannya tentang kendaraan umum. Bahkan pernah ibu saya menyetir dari Jakarta-Depok tengah malam sendirian selepas kegiatan ibu-ibu, dan pernah juga beberapa kali menyetir dari Jakarta-Depok tengah malam setelah menemani saya menonton pertunjukan teater di TIM. Ibuku, ibu yang tangguh dalam setiap kelembutannya :)
Yak, bingung yah, katanya mau ngomongin umur saya yang 21 tahun ini, kok jadi nyeritain orang tua?
Iya, karena mereka, orang tua saya, adalah yang paliiiiing paliiiing paliiiinggg berarti dalam 21 tahun kehidupan saya ini. Lembaga pendidikan pertama bagi saya, dan tentu seumur hidup. Motivasi terbesar dalam hidup saya. Penyemangat paling tulus dalam hidup. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa :')
Di usia 21 tahun saya ini, resolusi saya pun termotivasi dari keinginan memberi persembahan kebanggaan dan kebahagiaan kepada kedua orang tua saya. Pada usia 21 tahun ini, semoga....
- penulisan-turlap-bimbingan-sidang skripsi saya lancar, dapat nilai yang terbaik, meraih gelar S1 dengan IPK cumlaude;
- merintis kesuksesan bisnis saya bersama rekan seperjuangan;
- bisa langsung kuliah S2 setelah lulus S1, di tempat (PT, fakultas, jurusan) yang terbaik utk saya.
Itu target-target terbesar saya dalam usia 21 tahun. Target lainnya masih dirahasiakan, apalagi target untuk usia-usia selanjutnya. *sok penting, haha*
Mohon doanya, teman-teman yang baik hati :)
Btw, selingan, ini hadiah dari keluarga saya, hehe :
"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." (Q.S. 19: 33).
[Selengkapnya...]
n i k e n i z a t i o n
niken melihat, niken mendengar, niken merasa, dan niken menuliskannya
Kamis, 29 Desember 2011
XXI ! :)
Minggu, 20 November 2011
The Difficulties of My 'S'

Do you know Darwin? Yep, i think you all know him, a pioneer of evolution theory. There is a chapter on his phenomenal (and obviously controversial) book, "The Origin of Species", entitled "The Difficulties of The Theory". He was told some difficulties of his theory, or some rebuttals that may arise from his theory.
Hm. So, what the relation of Darwin's theory with this post? Nothing. *gubrak*
I just want to "steal" his chapter-title, "The Difficulties of The Theory", and I modify it with "The Difficulties of My S".
What is S?
In Indonesian, it called "skripsi". A (mini)thesis that must be written to reach bachelor degree. For short, let's call it S.
In this term, I omly write Proposal of my S, as known as Research Design.
So, what the difficulties of my writing? Let me to tell you.
1. Access. I don't have any link that connect me with the society in my research location. Oh, i have one. A junior high school girl, and now...she doesn't live there anymore. She has moved to another house, another area. I only get some informations about the location and the general situation on this area. I have to go to that location...alone. By angkot and ojek.
2. COST. Yeah, COST. Why do I type it in capital letters? Because it really "hurt" me..."hurt" my money T_T I spend about Rp50.000-Rp100.000 for a day of my research.
3. The focus of my research is such a sensitive issues: marriage and family. Sometimes i feel difficult to begin chat with the society about this topic. Moreover, sometimes, the answers of the same (and general) questions that I asked to some people are indicate a contradiction. It makes me confused *_*
4. There is no parents in my home. My dad lives in Jayapura for his official, with my mom. They are my spirit, my strength. For me, they are a "real home", a place that i want to "go" dan "stay" everytime... But now I can't meet them everyday :(
Ok, that's all. I hope you all want to give a spirit for me...give your pray for my continuity research... Hope my research is not only give benefits for me, but also for many people. Wish me luck! :D
.......
.......
.......
...and i don't know why i have to write this curcol in English -_-
Desperate effect? Stress effect? -_____-
Umm, maybe it could be a reminder for me: "You have to be grateful Niken, you write your S in Indonesian, your daily language, not in other languages! Your S is not really difficult! You have to keep your spirit, keep moving on!"
Uuyeeeaaaaaaahh!
Bismillah :D
*ngos2an nulis post ini*
[Selengkapnya...]
Jumat, 21 Oktober 2011
Mampir Jayapura

Tanggal 13-16 Oktober 2011 lalu menjadi pengalaman baru bagi keluarga kami (minus kakak kedua saya). 13 Oktober, saya bersama ayah, ibu, dan kakak pertama saya terbang menuju Jayapura, Papua. Perjalanan yang cukup lama di pesawat, sekitar 7 jam. Berangkat dari Bandara Soetta pukul 05.00 WIB dan tiba di Bandara Sentani sekitar pukul 14.00 WIT (yap, dengan perhitungan WIT 2 jam lebih cepat dari WIB, moso' gitu aja masih dijelasin sih. *loh kok ngeselin*).
Oleh karena judulnya saja "Mampir Jayapura", jadi mohon jangan ada yang menyimpan harapan besar bahwa saya akan menceritakan bagaimana Raja Ampat, bagaimana Wamena, bagaimana Lembah Baliem, bagaimana Suku Dani, bagaimana Suku Asmat, atau bagaimana Freeport. Perjalanan kami ke sana memang tidak lama dan tidak sempat mengeksplor berbagai tempat karena bukan itu pula tujuan utama kami.
Sudahlah nak, baca saja, lumayan kan dapet cerita (baca: curcol) saya di sana...
Alhamdulillah perjalanan keberangkatan ini sangat menyenangkan dengan maskapai penerbangan Garuda Indonesia (ini bukan posting berbayar, sungguh). Kenapa saya sebut menyenangkan? Pertama, banyak dapet makanan. Kedua, dapet banyak makanan. Ketiga, dapet banyak makanan. Huahahaha. Dapet makanan banyak itu bagi saya memang indah sekali. Jadi ketika kami baru beberapa menit naik pesawat, seperti biasa dalam penerbangan Garuda lainnya, kami diberi makan berat berupa nasi goreng (pilihan lainnya omelet) plus potongan buah. Pesawat itu transit di Makassar sekitar 25 menit, lumayan lah sempet beli minyak tawon di Bandara Sultan Hasanuddin, hehe.
Setelah masuk pesawat lagi, beberapa menit kemudian kami diberi makan berat (lagi) berupa spaghetti (pilihan lainnya lontong ayam) dan...satu cup es krim walls! Wew. Gak tau nih kok saya norak, seneng banget dapet es krim. Beberapa menit sebelum mendarat di Bandara Sentani Jayapura, kami dapet bolu. Aduh, surga. Mungkin karena ini adalah perjalanan terlama saya dalam pesawat Garuda (bahkan perjalanannya lebih lama daripada ke Taiwan loh cyiin -_-), jadi agak takjub dikasih makan sebanyak itu. Di dalam pesawat itu juga terdapat layar di depan masing-masing kursi, dan saya memilih nonton film Jepang berjudul "We Can't Change The World, But...", keren abis tuh, tentang mahasiswa kedokteran di Jepang yang ingin membangun sekolah di Kamboja. Lucu dan mengharukan, saya sampe kerepotan menyembunyikan airmata saya T_T
Baiklah, agaknya perjalanan di dalam pesawat saja sudah cukup panjang. Jadi gimanaaah Jayapuranyaaaah?
Sabar.
Di dalam pesawat (masih cerita di dalam pesawat ajee??) ketika sudah di atas Pulau Papua, sudah tampak keindahan pulau tersebut dengan beberapa pulau-pulau kecil yang terbentuk apik dalam hamparan laut biru. Uuuh! Kayaknya yang kami lihat itu Raja Ampat deh. Tapi sotoy sih. Gapapa kan. Iya gapapa.
Aaaaa pengen turun di situuuu. *yakali lompat dari pesawat*
Berikut foto yang berhasil didapatkan dari balik jendela pesawat:
Indah yaaahhh? :D
Sampai di Bandara Sentani yang imut-imut (masih imutan saya) tapi cukup padat manusia, kami, eh, ayah saya sudah disambut oleh beberapa rekan kerjanya di Jayapura. Yap! Mulai terbuka tabir rahasia mengapa kami sekeluarga ke Jayapura? Belum ya? Kasih taau gak yaa? *ditimpuk sepatu*
Nah, ayah saya mendapat tugas dinas di Jayapura pada tahun ini, entah sampai kapan, tapi kami semua berharap tidak terlalu lama di sana, bukan apa-apa, masalahnya jauh banget cyiin, tiket pesawat mahal banget pula :'(
Kami sekeluarga berniat menghadiri pelantikan ayah saya, plus penasaran liat Jayapura juga sih, plus bantu beres-beres rumah dinas yang akan ditinggali oleh ayah saya selama di sana, plus sukur-sukur bisa rekreasi, mumpung saya gak ada kuliah dan kakak saya bisa ambil cuti.
Sore hari tanggal 13 Oktober kami diantar ke Hotel Aston untuk menginap semalam di sana sebelum menginap di rumah dinas. Sebelumnya kami diajak makan di salah satu restoran yang tidak terlalu jauh dari Bandara, ada di daerah Sentani dan nempel sama Danau Sentani, ini foto-fotonya:
"Danau Sentani yang berkilauan *_* (tapi kalo di foto gak keliatan kilaunya ya?)"
"Nyobain makanan khas, namanya Papeda (dari sagu, pengganti nasi) plus ikan kuah kuning. Papeda itu kagak bisa dikunyah, jadi langsung telen. Aduh, kebiasaan makan nasi, jadi ngerasa gak cocok sama makanan ini.."
Setelah itu kami ke hotel. Namanya hotel, alhamdulillah apa-apa cukup terjamin. Sedikit kontras dengan keadaan rumah dinas yang meski luas namun...ah nanti lah saya ceritakan.
Paginya kami sempat foto-foto juga di lobi hotel, kebetulan ada patung yang menarik (modelnya juga menarik, duh mau gimana lagi dong *digampar*)
"Sebenernya pengen ngasi foto yang lebih jelas patungnya, tapi...keberadaan saya sesungguhnya di foto tersebut adalah untuk menutupi sesuatu, haha, maybe you know what"
Jumat 14 Oktober adalah hari pelantikan ayah saya, dan pada hari itu kami langsung checkout dari hotel dan berpindah ke rumah dinas. Pelantikannya agak sepi, ibu-ibunya dikit, karena memang yang dinas di sana biasanya istrinya tidak ikut tinggal di sana. Di acara hiburannya, ada penyanyi asli Papua yang suaranya luaaarrrr biasaa merdu, penyanyi ibukota mah lewat daaahh... Ini acara pelantikan ayah saya, maaf ada yg saya samarkan, untuk mencegah riya (halah lebai, hehe, gak enak aja ngumbar gituan) :
"Pengambilan sumpah dan sepatah-dua patah kata dari KPT (singkatan apa itu? cari tau aja sendiri :p), di foto ini ayah saya yang lagi ngadep belakang, hehe."
"Foto bersama rekan"
"Perkenalan ayah saya, ditemani ibu saya :)"
"Penyanyi Papua bersuara emas :D"
"Ibu saya menyumbang satu lagu loh (jangan salah, ibu saya pernah dapet juara 1 lomba karaoke, jadi jangan ragukan kualitas suaranya, huehehe), ditemani ayah saya :D"
Terus...ini pemandangan di depan kantor ayah saya:
Setelah acara ini, bahkan belum selesai benar acaranya, saya merasa sedikit pusing dan sakit perut, kemudian minta pulang duluan ke rumah dinas ayah saya (kebetulan tepat di belakang kantor, jadi tinggal jalan kaki). Di rumah, saya menahan sakit sampe ketiduran. Bangun-bangun malah muntah :'(
Begh, lemes banget deh, kalo nggak salah dalam waktu kurang dari 6 jam saya sudah 4 kali muntah. Nggak tau kenapa, tapi keadaan saya bikin orang tua kuatir, dan malamnya saya dibawa ke dokter di RSAD Marten Indey. Dokternya masih muda masa', trus... *stop ken, bahaya*
Ya, lanjut lagi, saya dikasi (baca: dibeliin ayah saya berdasarkan resep dokter) obat-obatan yang entah apa itu, trus diagnosis dokter itu ada kemungkinan virus dari makanan atau bisa juga dipicu maag. Piye tho dok.
Setelah dari dokter, makan bersama dan minum obat, saya merasa cukup baikan, kemudian kami sekeluarga ngaji bareng, harapannya biar rumah itu terjaga selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiiin (soalnya banyak cerita kriminal di sekitar sana, aduh, mohon doanya ya semua agar tidak terjadi apa-apa selama ayah saya di sana). Rumah dinas itu, lumayan gede sih, tapi nggak berisi apa-apa, hehe yaiyalah kudu ngisi barang sendiri. Terus yang paling memprihatinkan adalah...air di sana biasanya cuma ngalir 3 hari sekali. Oh my. Pantes, bak kamar mandinya gedeeee banget, sekitar 3x lebih gede daripada bak kamar mandi biasa. Ternyata tujuannya buat nampung air kalo-kalo lagi nggak ngalir. Kami jadi ngerasain yang namanya gak make air ngalir buat ngapa-ngapain. Tapi beberapa hari setelah saya, ibu saya, dan kakak saya pulang ke Depok, ayah saya mengabarkan kalau airnya mulai ngalir lagi dan bak sudah terisi penuh. Selain masalah air, listrik juga sering mati. Hiks. Sekali lagi, mohon doanya untuk kemudahan hidup ayah saya (dan nantinya ibu saya yang akan menemani) di Jayapura sana :'(
Pagi hari 15 Oktober 2011...
Yap, saya merasa lebih segar, kemudian saya meyakinkan kepada semuanya bahwa saya tidak apa-apa dibawa jalan-jalan. Mau kemanakah kami? Sebenernya bingung, tapi tempat wisata terdekat adalah Polimak, yaitu puncak tertinggi di Jayapura (kalo nggak salah loh yah), jadi kalo naik ke situ kita bisa lihat seluruh kota Jayapura. Di sana ada plang "JAYAPURA CITY" yang kalo malem nyala-nyala dan keliatan dari jauh.
Berikut foto-fotonya:
"Salah satu sudut pemandangan dari Polimak"
"Sudut perkotaan dilihat dari Polimak"
"Pelabuhan yang kelihatan dari Polimak (keliatannya kecil ya, padahal...gatau juga sih,hehe)"
"Foto keluarga ^^"
"Nah kalo ini kalo kita liat Polimak dari bawah...foto-foto sebelumnya diambil dari Polimak-ny. (ehem, no sara ya, apapun yg Anda lihat di foto ini :) )"
Abis dari situ...kami belanja-belanji di swalayan grosir gitu. Eh eh eh. Saya kambuh lagi sakitnya, jadi abis dari situ langsung pulang ke rumah dinas, hikss :'(
Karena besok pagi-pagi kami (saya, ibu saya, dan kakak saya) pulang ke depok, maka tak ada waktu lain untuk mencari oleh-oleh selain malam itu. Maka pergilah kami ke suatu tempat pusat oleh-oleh kerajinan dari Papua. Awalnya kami ke toko Aneka Batik yang menyediakan kain dan pakaian batik Papua. Kemudian ke suatu tempat yang saya lupa namanya, untuk membeli beberapa kerajinan tangan sebagai oleh-oleh. Banyak yang jualan koteka loh. Tapi ngapain juga sih saya beli koteka -_-
Saya beli gelang kayu warna-warni bertuliskan "Papua" dan gantungan kunci bentuk alat musik pukul (duh apaan ya namanya) bertuliskan "Papua" dan bergambar Cenderawasih. Sebenernya pengen beli gantungan kunci yang lebih menggambarkan Papua, tapi pilihan lain berbentuk ukiran muka serem (maaf saya nggak tau itu apa, menurut saya serem T_T) dan bentuk koteka. Karena gantungan kunci mau saya kasih ke teman-teman laki, jadi nggak enak aja kalo ngasihnya bentuk itu, nanti dikira melecehkan. *opo iki*
Ini sampel oleh-olehnyah, boleh tagih ke saya langsung kalo berani dan kalo masih sisa, hehe:
Terakhiiiir, ini sebagian jepretan di jalanan Jayapura :




16 Oktober kami pulang sekitar pukul 07.30 WIT dari Bandara Sentani dan sampai di Bandara Soetta sekitar pukul 13.00 WIB. Sampai Depok sore sekitar pukul 16.00 WIB. Alhamdulillah, meski perjalanan pulang ini sangat kurang menyenangkan bila dibandingkan dengan perjalanan keberangkatan. Kenapa? Yap, karena kami menggunakan maskapai penerbangan "Singa Udara", dan...yeah, kaga dikasi makan/minum barang sedikit-dikit acan. That's hurts, beb.
Nah, sebelum ditutup, biasanya kan saya ada klosing-stetmen getoh yah.
Secara keseluruhan...kesan saya di Jayapura:
1. Masyarakatnya raaamaaaaahhh banget (you have to believe it!);
2. Agak rawan untuk jalan-jalan sendirian, apalagi malem-malem. Ya nggak pernah sih, tapi ngebayanginnya aja serem. Ada beberapa orang mabuk di jalanan, mengganggu tapi kayak nggak bisa diapa-apain lagi T_T Ayah saya jg heran kenapa nggak ditertibkan oleh aparat, tapi ya gitu, udah dianggep biasa, nggak ada yg berani sama pemabok :( Sayang bgt, padahal orang sana kalo gak kena alkohol pada baik-baiiiik bgt loh...
3. Jalanan berbukit-bukit, rasanya nanjak-turunan muluuu. Pernah ngerasa jalanannya makin nanjak terus (nggak turun2), pas liat di samping, ehh udah keliatan jalanan yang di bawah gitu (kayak ngeliat jalanan dari atas flyover). Tinggi banget, subhanallah memang "flyover" buatan Allah itu..
4. Bukan tempat yang tepat untuk wisata kuliner, menurut saya loh yah, hehe.
5. Mata kita dimanjakan dengan pemandangan indah berupa hamparan laut yang dekat dengan jalanan kota, plus tampak "taburan" pulau-pulau kecil di laut tersebut :)
Yap, sebenernya masih banyak tapi sulit diungkapkan dengan kata-kata :p
Meski singkat, tapi saya merasa beruntung sudah sempat melihat salah satu kota di pulau bagian timur Indonesia itu.
Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan...
Karena kontur yang berbukit-bukit, ketika perjalanan di sana kami sering berada di atas dan dapat melihat jalanan/kota di bawahnya yang tampak keciiil sekali. Subhanallah. Entah bagaimana Kursi Allah, yang bahkan lebih luas dan besar dari pada langit dan bumi ini. Allah Mahabesar, Mahatinggi, Pencipta Segala Keindahan Alam yang dapat kita nikmati di sana :)
Kapan-kapan kita tafakur alam bareng dah ke Jayapura, hehehe :D
[Selengkapnya...]
Senin, 12 September 2011
Jadwal Semester 7.

Sembilan SKS, tiga mata kuliah.
Senin, Selasa, Rabu.
11.00 - 13.30.
Kedengarannya santai kayak di pantai, tapi nggak tau juga nih. Waktu lowongnya ingin dioptimalkan untuk persiapan skripsi (proposal skripsi). Semoga waktu lowongnya benar-benar bisa bermanfaat.
Baiklah, mari buka lembar baru semester ini.
Bismillahirrohmaanirrohiim.
Doakan saya ya! >_<
[Selengkapnya...]
Jumat, 01 Juli 2011
My Super Trip : Taiwan

Udah, nggak usah sok kaget baca judulnya.
*baru mulai udah ngajak ribut, hehe, ampun*
Tanggal 9 sampai 13 Juni 2011 lalu, saya dan kedua orang tua saya tercinta bertandang ke negeri Taiwan. Ada yang nggak tau Taiwan? Nggak papa. Taiwan adalah negara di Asia Timur, berupa satu pulau imut. Nggak imut-imut banget sih, masih imutan aku. *minta dijitak* Taiwan juga dikenal sebagai Pulau Formosa (bukan Forum MPK/OSIS Smansa ya, plis). Ada yang tau F4? Jerry Yan, Vic Zhou, Ken Zhu, Vanessa Wu? (eyaampun masi apal ajah sayah). Yang Meteor Garden itu loh. Iya, mereka kan dari Taiwan. Tapi kata kakak saya mereka nggak begitu terkenal di sana. Kasian..
Eh, inih mulai nggak fokus inih.
Balik lagi. Jadi, kakak saya yang kedua menempuh studi di NCYU (National Chia Yi University) diwisuda tanggal 11 Juni. Dengan demikian, kedua orang tua saya ingin hadir dan berkunjung ke sana. Saya sebagai anak yang baik hati dan punya waktu lowong (eh, padahal ninggalin beberapa acara juga sih di depok, hehe, maap) tidak tega melihat kedua orang tua saya pergi berdua saja. Melalui pertimbangan panjang saya pun ikut (halah, padahal emang saya yang ngerengek ikut :p).
Nah, saya yakin 57% pembaca postingan ini penasaran dengan kisah kami di sana. Ikuti ceritanya...
(Tapi mohon tabah karena ini adalah postingan yang sangat panjang, hehe)
Saya cerita prosesnya dulu ya.
Yap, inilah perjalanan ke luar negeri pertama untuk saya. Walaupun punya paspor dari tahun 2009, tapi masih suci banget tuh paspor sampe akhirnya saya akan berangkat ke Taiwan tahun 2011 ini. Untuk masalah visa ke Taiwan, kita perlu mengurusnya di Gedung Artha Graha (AG) di Jakarta Selatan. Deket Komdak/Polda Metro Jaya. Alhamdulillah kami dipermudah, cepat prosesnya.
Awalnya kami sudah booking pesawat China Airlines, tapi di H-sekian hari, ternyata baru diketahui ada kesalahan nama booking dengan nama paspor ayah saya. Berhubung hal itu tidak dapat diperbaiki dan pesawat China Airlines saat itu full booking, maka kami disarankan abang-abang agen tiket untuk menggunakan Eva Airlines atau yang biasa disebut Eva Air. Baru denger sih, tapi katanya bagus juga.
Di H-1 keberangkatan, saya browsing tentang Eva Air, dan mencari tau tentang makanan pesawat. Oh maiii, saya mendadak panik kalo makanan pesawat nggak halal, berhubung negara yang dituju bukan negara Muslim. Dan dari berbagai sumber di dunia maya, seharusnya kita sudah pesan makanan halal (biasa disebut "Moeslem Meal" atau kode "MO") sejak awal booking. Aaaak. Ada yang bilang cari amannya pilih menu ikan karena ikan tidak dimasak dengan minyak babi. Yaudah.
Jadwal keberangkatan kami pukul 14.15 WIB. Ketika check-in di Bandara Soetta, kami menanyakan kepada mbak-mbak petugas check-in Eva Air, apakah kami masih bisa memesan Halal Food atawa MO. Ternyata eh ternyata, alhamdulillah makanan dari Indonesia semuanya halal, tapi kalau yang dari sana (Taiwan) memang ada kemungkinan tidak halal. Dan oleh mbak-mbak baik hati itu, kami didaftarkan secara online untuk memesan MO di pesawat pulang (Taiwan-Indonesia) nanti. Alhamdulillah, sudah terjamin :)
Wah, udah panjang ya jenk?
Okeh, lanjut. Perjalanan pesawat menghabiskan waktu sekitar 5 jam. Uh wow. Tapi nggak tau ya, kok saya nyaman-nyaman aja tuh, dan nggak ada rasa pengang di kuping (itu loh, rasa yg biasanya timbul di kuping saat naik pesawat/kelamaan di bus AC). Pramugari Eva Air ini orang Mandarin semua. *yaiyalah, masa orang Afrika* Mereka kalo jalan buru-buru banget, nggak tau ngapain. Trus kalo ngomong asal pake basa Mandarin aja, lah kita kaga ngatri. Pas nawarin makan misalnya, doi udah ngomong Mandarin panjaaaang, kita bilang, "sorry?" dan dia bilang "fish or chicken?". Dalem ati, "laaah tadi Mandarin-nya panjang deh, ternyata artinya sependek itu? Huehehe".
Ampun bray. Lanjut.
Sampe di Taoyuan Airport (bandara di sono), kami foto2. Haha. Boleh dilirik sebagian foto kami:
Di loket imigrasi, ternyata kami terlebih dahulu harus mengisi form imigrasi versi sana. English sih. Yakali Mandarin, buta huruf kami...
Selesai ngisi form, ehh ada rombongan TKI yang ngantri ke petugas imigrasi, padahal tadinya sepi. Orang tua saya yang merasa udah dari tadi di sono merasa tidak adil dan langsung buru-buru ke bagian depan loket. Petugas nyuruh kami ikut antrian, tapi ortu ogah. Saya juga disuruh ke antrian, saya sih mau nurut, tapi kata ortu dgn agak keras, "jgn mau ken, ayo sini". Laaahh bingung saya. Yauda saya lebih nurut ortu, jadi ke depan deh, dan petugas gak bisa ngapa-ngapain, saya dipersilakan ke salah satu loket yang sebenernya utk Citizen, bukan Foreign. Kebetulan loket itu sepi. Yap, keributan tadi diwarnai dengan interaksi petugas pake bahasa Mandarin dan kami pake bahasa Indonesia. Huahahaha, rame dah tuh airport gara-gara kami.
Setelah ketemu kakak saya dan ipar saya, kami meninggalkan Bandara menuju Tainan, tempat apartemen kakak dan ipar saya. Pertama-tama naik bus ini:
Uwah, oke tuh bus, bersih, nggak sumpek, nyaman. Rencananya kami mau naik HSR (High Speed Railways), tapi ternyata jam segitu (skitar jam 11an malem) udah abis tiketnya/nggak ada kereta lagi. Yauda, kita naik bus lagi, sebelumnya kami nunggu di sini:
Liat ibu-ibu yang potonya di sebelah kiri bawah? Itu petugas kebersihan, subhanalloh, udah skitar jam 12 malem padahal, masih aja nyapu, dan padahal nggak terlalu kotor tempatnya. Terus yang di sebelah kanan tengah itu, mesin penjual koran otomatis. Iseng aja saya poto, kalo di Indonesia saya baru liat Koran Jakarta yang ada mesin otomatisnya.
Bus kedua, saya lupa tempat tujuannya, busnya kyk gini (nggak ada tampak depan, ga sempet poto):
Bus itu ternyata tidak sebaik yang kami kira, kami diturunkan di pinggir jalan yang ga jelas itu dimana, katanya sih emang di situ harusnya kami turun dan nyambung bus lagi. Pas turun, langsung disambut taksi. Kakak saya ogah naik taksi, trus pas si abang taksi itu nanya-nanya, kakak saya bilang ke ortu "jangan dijawab". Nggak ngerti kenapa. Doi lagi panik juga kali yak. Trus kakak dan ipar nyari-nyari tau tentang dimana kami bisa dapetin bus sambungan, sementara kami nunggu di tempat itu. Saya deg-degan, udah cuma bertiga sama ortu, malem-malem, di negeri orang pula. Alhamdulillah kakak dan ipar nemuin semacem agen bus gitu, dan kami mulai menyusuri jalan raya ke tempat agen bus itu. Setelah menunggu beberapa menit, bus kami datang. Subhanalloh. Walhamdulillah. Ini bus nyaman bangeeeeet, kursinya 1-1, ada TV di depan kursi masing-masing, ada pemijat otomatis di kursinya, ada selimut, ada air mineral gelas, dan ada stik game. Waaaaaaa, silakan diliat busnya, plus saya yang entah kenapa nggak bisa tidur di dalem perjalanan, hiks:
Di bus itu, saya ngetweet. Huahaaa, bisa ngetwit massaaaaa? *iye, norak*
Kurang lebih pukul 03.00 waktu setempat kami tiba di Tainan, kota tempat apartemennya kakak dan ipar saya. Berhubung subuh di sana kurang lebih pukul 04.00, jadi pada kaga tidur. Sekitar pukul 06.00-07.00 baru pada tidur-tidur cantik (?), setelah itu siap-siap jalan-jalan menyusuri kota.
Sebelum kemana-mana, kami ke kantor pos dulu. Ngapain? Ngepos surat? Bukan. Kami (baca: ayah saya) nukerin duit dulu di sana, dari US$ jadi NT atawa $Taiwan. Lalu jalan-jalan, masuk ke dalem mall. Jangan ditanya kami beli apa. Soalnya emang gak beli apa-apa. Huehehe. Mahal-mahal banget bok, goodiebag kecil aja harganya mencapai 500ribu kalo di-convert ke Rupiah. Keluar dari mall, kami ke tempat pusat jajanan di jalan gitu. Beli jus. Slurp! Ini poto-potonya :
Setelah kembali sebentar ke apartemen, ayah dan ipar saya bersiap sholat jumat, sementara saya, ibu, dan kakak saya jalan-jalan sebentar (plus narsis-narsisan) di sekitar apartemen :
Sorenya, kami menuju stasiun kereta untuk menuju Chiayi, kota tempat universitas dan asrama kakak saya. Berikut foto stasiun dan di dalam kereta yang...uh wow, keren. Juga foto pemandangan di luar kereta, yang menunjukkan betapa kompleksnya mata pencaharian mereka--dengan jarak yang berdekatan, ada pertanian, perkebunan, dan tidak jauh dari sana ada pabrik-pabrik. Foto :
Tiba di Chiayi, kakak saya menghubungi seorang supir taksi langganannya, namanya David. Dia supir taksi yang sangat baik hati. Bisa bahasa Indonesia meski hanya untuk bilang "terima kasih", haha. Dan setiap kami masuk ke dalam taksinya (ya, selama di Chiayi kakak saya selalu memanggil David untuk mengantar kami dengan taksinya), dia menyetel video konser Siti Nurhaliza. Biar klop ke-Melayu-annya kali ya... Ini foto-foto kedatangan kami di Chiayi, plus bonus David loh :
Makanan yang tampak dalam foto itu adalah makanan di warung vegetarian. Di sana, kami boleh ambil sepuasnya, lalu ditimbang, dan kita diharuskan membayar sesuai dengan berat timbangannya. Saya yang kelaparan cukup kalap dalam mengambil makanannya. Waktu dicoba...hiks. Rasanya tak seperti yang saya harapkan. Mungkin memang di sana tidak kaya akan bumbu ya (tidak sekaya bumbu Indonesia). Saya agak enek, tapi saya usahakan semaksimal mungkin ada yang masuk ke dalam perut saya, daripada maag.
Selanjutnya, menuju guest house di NCYU. Ya, guest house itu ada di dalam kampus kakak saya, dan sudah disewa oleh kakak saya. Wah, bagus, kayak hotel. 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, 1 dapur, 1 ruang tv. Di luar room juga ada dapur umum dan mesin cuci koin yang boleh kita gunakan.
Malamnya, kakak dan ipar saya mau ke supermarket. Sayang sekali untuk saya lewatkan. Maka, saya ikut-ikutan tuh. Kami menunggu bus di minimarket 7/11 kampus, dan setelah masuk, saya foto bagian dalam busnya :
Jadi, bus itu tanpa kenek. Kita memasukkan uang/kartu ke dalam salah satu mesin di sana sesuai dengan tujuan kita. Ah saya kaga ngatri dah begituan. Coba-coba yang ngerti, bikin dah di Indonesia.
Belanja di supermarket juga tak lepas dari foto-memfoto. Huehehe. Nama supermarketnya RT Mart. Lucu deh, kereta belanjanya dirantai, nah kalo mau ambil kita masukin uang koin 10 NT ke dalam salah satu bagian di keretanya, sehingga rantainya lepas. Nah 10 NT itu kan masih ada di dalam kereta belanja yang kita gunakan, setelah kita kembalikan lagi dengan rapi di barisannya dan merantainya, bagian yang kita masukin koin itu terbuka, dan bisa kita ambil lagi. Jadi kalo nggak dibalikin dengan rapi, kita kehilangan 10 NT deh. Lucu nggak? Enggak ya? Yaudah. Foto :
Pagi tanggal 11 Juni 2011, kami berjalan-jalan mengitari kompleks kampus. Kampus NCYU ini cukup asri, banyak hutan, gak kalah deh sama UI. Tapi entah kenapa, aura-auranya kok sama kayak waktu saya menginjakkan kaki di kampus UNS (Solo) ya. Mungkin karena suasananya lebih damai daripada kampus di dekat ibu kota. Di pinggir-pinggir jalanan kampus banyak terparkir sepeda milik civitas akademika di sana. Dengan keadaan terkunci, tentunya. Coba dilirik hasil jepretan di sana:
Setelah jalan-jalan pagi, kami bersiap untuk menghadiri acara inti dari kedatangan kami di sana : wisuda kakak. Namanya memang wisuda, pake toga, tapi...di sana wisuda itu pada belum sidang. Huaha. Mungkin karena itu, jadi mereka nggak heboh-heboh banget dalam menghadapi wisuda (misalnya berpakaian seadanya, bahkan ada yang pake sendal jepit. tengok aja foto berikut). Narsis di wisuda:
Setelah acara wisuda, kami kembali ke guest house. Esok paginya, kami berangkat menuju Taipei. Ya, ibukota Taiwan :)
Kami berangkat naik HSR. Iya, kereta cepet. Perjalanan Chiayi-Taipei yang jika dilalui dengan kendaraan biasa mungkin akan memakan waktu berjam-jam, tapi dengan HSR, hanya dibutuhkan waktu sekitar 1 jam. Ini dia stasiun HSR dan di dalam HSR (duh, keren, kayak pesawat) :
Turun dari HSR, uh wow, stasiunnya (Taipei Railway Station) keren abissss. Ramai tapi tertib dan bersih. Setelah masukin barang ke hotel di dekat sana (Cosmos Hotel), kami lanjut naik MRT (Mass Rapid Transit), kereta bawah tanah yang katanya gak pake masinis tapi pake mesin otomatis. Aaaaa, keren. Meski berdiri, tapi tetap nyaman di dalamnya. Tiketnya berupa koin berwarna biru. Pas mau masuk area menuju MRT, tempelin tu koin di salah satu bagian mesin, dan palang pun akan terbuka untuk kita lewati. Pas mau keluar, masukin tuh koin ke dalam mesin yang tersedia, dan palang akan terbuka untuk kita keluar. Foto menuju, di dalam, dan keluar MRT :
Ngapain kita naik MRT? Jengjengjeng. Jawabannya adalah : menuju tempat wisata. Ihiy. Kami ke Chiang Ka Shek Memorial Hall. Chiang Ka Shek adalah tokoh sejarah Taiwan yang terkenal. Ah, sebenernya saya sok tau sih. Tapi yang pasti beliau adalah orang penting dalam sejarah Taiwan, sampe-sampe dibikinin Memorial Hall-nya. Waktu ke sana, cuaca lagi super terik. Hiks, kasian mama dan bapak :'( Kalo saya sih, di Depok juga sering panas-panasan di kampus. Haha. Ini hasil narsis di luar Chiang Ka Shek :
Sedangkan ini hasil narsis di dalam. Ah, ada yang merasa pernah liat patung super besar itu? Iya, itu patungnya Chiang Ka Shek. Ada dua tentara yang bertugas menjaga patung itu. Tugasnya menjaga, tapi jadi objek poto-poto. Hihi. Abisnya mereka "beku" alias nggak boleh gerak, jadi lucu aja, bahkan kami goda-godain mereka, berharap mereka ketawa XD Kebetulan pas nyampe di atas ada upacara pergantian tentara yang jaga. Liat aja deh ya fotonya :
Setelah ke Chiang Ka Shek, tebaaaaak kami kemana???
Kami ke TAIPEI GRAND MOSQUE.
*Eit, kok pake kapital semua?? Nggak nyante banget??*
Iya, emang nggak nyante. Di negeri sana kita bakalan rindu sama suara adzan, juga sama saudara-saudara sesama muslim yang tampak dari pakaiannya. Bener deh. Di sana tuh, kami sang keluarga berjilbab--kecuali ayah saya dan ipar saya, yaiyalah--setiap kemana-mana pasti ada yang memandang dengan aneh. Nggak biasa ngeliat orang berjilbab soalnya. Kami sih mencoba "menikmati" sikap mereka. Saya juga sempet becanda ke ortu dan kakak saya, "Coba yuk bilang 'ape lu liat-liat' ke mereka, kan mereka nggak ngerti". Huahaha. Di sana, sholat pun harus bersedia dimana saja. Di bus misalnya. Iya, jangan harap nyari mushola di gedung-gedung kayak di Indonesia, gak bakal ada :|
Nah, setelah perjuangan untuk sampai ke Masjid ini, aaaaaaaaah. Saya terharu, sungguh, tidak berlebihan. Hampir nangis. Di sanalah, tempat para muslim di Taiwan banyak berkumpul. Ada orang Indonesia (banyak loh), India, atau asli Taiwan. Kebetulan itu hari Ahad, dan tiap hari Ahad di masjid itu menyediakan makanan gratis untuk para pengunjungnya. Tebak kami makan apa?? AYAM! BERBUMBU LEZAT! Subhanalloh :')
Oke, mungkin terdengar norak, tapi jika Anda rasakan sendiri, sungguh saat itu benar-benar mengharukan. Di negeri sana boro-boro makan ayam/daging/sejenisnya, karena takut nggak halal. Bumbu juga kayaknya seadanya banget. Eh, di sana disajiin makanan ayam berbumbu lezat. Udah gitu, petugas masjid dengan riang menyambut kami masuk dan memberi jatah makan dengan semangat. Subhanalloh...inikah nikmatnya ukhuwah islamiyah? :')
Foto :
Selesai makan, sholat, dan bersantai di dalam masjid, kami kembali ke hotel untuk merapikan barang ke dalam kamar. Oya, soalnya saat pertama ke hotel kami masih belum bisa masuk kamar, harus nunggu sampe jam 2 siang, jadi awalnya cuma nitip barang dulu.
Sekitar pukul 4 sore, kami berangkat menuju Taipei 101 (baca: Taipei one-o-one). Ada yang tau? Itu, gedung yang kalo nggak salah jadi gedung tertinggi kedua di dunia. Wow. Saya super-excited saat menuju ke sana. Penasaran bok. Setelah sampai, tak lupa kami foto-foto. Ternyata di lantai bawah (lantai 1-5) adalah mall. Dan puncak keindahannya (observatory) dapat dinikmati di lantai 89 dan 88, dengan sebelumnya membeli tiket terlebih dahulu. Huaaaa. Foto saat di bawah (di luar dan di lantai 1-5) :
Setelah kami beli tiket observatory, kami naik lift yang diklaim sebagai lift tercepat di dunia, dengan kecepatan 1010 m per menit. Wauw! Jadi, saat lift mulai bergerak, kuping kita akan terasa agak pengang seperti naik pesawat. Saya nggak begitu ngerti kenapa, ada hubungannya sama tekanan-tekanan gitu ya? Ah, tanya kakak dan ipar saya aja deh yang anak fisika :|
Waktu yang ditempuh untuk sampai di lantai 89 hanya sekitar 40 detik! Dan sampailah kami pada sesi foto-foto berikutnya, ups, haha, ini foto di lantai 89 :
Eh, foto apa itu yang bulet-bulet? Itu adalah bandul semacam penyeimbang gedung, sebagai antisipasi bencana gempa. Jadi biar gedungnya nggak runtuh saat gempa. KEREN YA! Tapi ternyata, udah ada beberapa gedung di dunia ini yang ada bandul semacam itu. Ayo yang ilmunya di bidang fisika/konstruksi/dll, kapan nih bikin yang kayak gini di Indonesia? :D
Karena keberadaan bandul itu, ada ikon/maskot gedung Taipei 101 yang namanya Damper Baby. Lucu deh. Itu ada juga kok di foto.
Caranya turun dari lantai 89 ke bawah gedung adalah....jengjeng. Turun dulu ke lantai 88. Ngapain? Ah, ternyata di sana banyak hal yang menarik. Salah satunya bisa ngeliat bandul itu lebih dekat. Hehe. Kita ngelewatin lantai yang lucu banget. Jadi kalo tuh lantai nggak diinjek, gambarnya awan-awan gitu. Tapi pas diinjek, keluar gambar perkotaan yang dipotret lewat atas. Selain itu, di lantai 88 ada banyak penjual batu giok, coral, dan sejenisnya. Ada juga batu berwarna ungu, dan mama saya sebagai orang Banjarmasin langsung mengklaim itu adalah kecubung, batu permata yang banyak di Banjar. Hoho. Kata kakak saya, bentuk yang lumayan khas dari Taiwan adalah sayuran kol yang dibuat dari batu permata. Nggak ngerti kenapa. Silakan lihat foto di lantai 88 :
Dari lantai 88 kami menggunakan lift tercepat di dunia itu lagi, hehe, dan sampailah pada lantai 5, lalu sampai bawah, lalu berangkat lagi menyusuri pesona Taipei di malam hari. Lebih tepatnya, cari oleh-oleh. Haha. Kami sempat jajan tahu goreng dan cumi goreng di sana. Yap, sebelum beli, kakak dan ipar saya tentu memastikan kalo itu dimasak pake minyak sayur, bukan minyak babi. Ohh...sulitnya kehidupan kuliner di sana (jadi, bagi Muslim, jangan berharap banyak untuk dapat menikmati wisata kuliner di negeri yang mayoritas non-Muslim). Ini dia foto Taipei malam hari, nggak banyak, soalnya lebih banyak kalap nyari belanjaan, hehe, tapi nggak kalap-kalap banget sih, mahal-mahal bok :
Itu yang tulisan LOVE itu, ada di depan Taipei 101. Lucuuuuk.
Taipei, atau bolehlah kita sebut secara general Taiwan, memang kota warna-warni, jadi nggak hanya pertokoan yang neonboardnya warna-warni, sampe proyek pembangunan gedung/jalan pun lampunya warna-warni.
Esok paginya, tanggal 13 Juni, kami ke Bandara Taoyuan untuk pulang ke Jakarta. Eh salah, Depok. Dengan pesawat Eva-Air tentunya, dan makanan halal yang sepertinya lebih enak daripada makanan standar pesawat itu. Hehe :p
Pesawat pulang ini ada layar di tiap depan bangkunya, yang memuat banyak film juga hiburan lainnya. Sambil mengisi 5 jam perjalanan, saya memilih menonton film Thailand, "Hello Stranger". Eh, nyaris nangis masa. Hwakakakakkk.
Sampai di Depok kira-kira pukul 4 sore, alhamdulillah. :)
Kenangan tak terlupa, bahkan penulisan artikel ini yang jaraknya sebulan dari perjalanannya, masih banyak hal yang tersimpan di ingatan saya. Heuheu.
Bahwa sesungguhnya bumi Allah itu luas, maka ayo lakukan perjalanan di bumi Allah dan temukan banyak hikmah di dalamnya :D
TAIWAN, TOUCH YOUR HEART!
(slogan mereka tuh)
Katakanlah, "Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu". (QS 29: 20)
Maka tidak pernahkan mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (QS 22: 46)
Tambahan, alhamdulillah kakak saya sudah resmi Master karena hari ini (13 Juli 2011) ia sudah berhasil menempuh sidang tesisnya. :D
[Selengkapnya...]